Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘sutradara’

Pria Postmodern

Penampilan boleh urban, gaya hidup tetap “tradisional”

dimas djayadiningrat

dimas djayadiningrat

Gerhana bulan di malam itu seolah menjadi saksi pertemuan dewi dengan Dimas Djayadiningrat, sang sutradara film komedi satir Quickie Express. Beratap langit, di sela-sela pepohonan, hijau rerumputan, tepi kolam renang berair jernih, kami berbincang. Jenggot panjangnya tampak tak terurus. Ia terlihat sedikit pucat. Obat sakit kepala –yang tak pernah lepas dari tangannya-baru saja ditenggak. “Saya lagi sibuk banget ngurusin film baru,” Ia memulai pembicaraan. Saat itu, ia tengah melakukan editing film Quickie Express yang kini tengah beredar di bioskop-bioskop Jakarta.

Dunia perfilman sesungguhnya bukanlah hal baru buat Jay, nama sapaannya. Ia pernah menyutradarai Tusuk Jelangkung dan memproduseri film 30 Hari Mencari Cinta, Bangsal 13, serta Alexandria. Aktivitas utamanya selama ini adalah membuat iklan. Sebelumnya, ia memang dikenal sebagai klipper bertangan dingin. Sudah ratusan karya apik dihasilkannya, Sekitar 15% diantaranya mendapatkan penghargaan musik tingkat nasional. Tapi kini –di tengah suburnya industri musik-ia memilih istirahat.”Tak ada lagu yang membuat trigger. Hampir semua lagu yang ada hampir sama, tidak ada variasi. Ini bikin aku malas,” ia mengungkapkan alasan, spontan, khas seorang seniman.

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

Ada Apa dengan Rudi Soedjarwo?

rudi soedjarwo

rudi soedjarwo

Sutradara bertangan dingin ini justru memiliki kisah yang lebih dramatis dibanding film-film yang telah dibuatnya.

Rudi Soedjarwo adalah sutradara yang tak pernah kehabisan ide. Semakin banyak berbincang dengannya, kian banyak ide yang akan terlontar dari pikirannya. Ia pun memiliki kemampuan bercerita yang baik, sehingga patner berceritanya pun dengan mudah akan tersentuh daya imajinasinya. Apalagi saat bercerita tentang film, ia akan menggambarkannya secara detil, lengkap dengan settingnya, kita pun seolah menyaksikan pertunjukan film yang sesungguhnya.

Boleh jadi karena kelebihan inilah ia mampu mencetak film-film laris di Indonesia. Karena idenya yang terus mengalir seperti air, ia tidak pernah melewatkan waktunya tanpa membuat film. Tahun ini saja, ia sudah merencanakan membuat 3 film dalam setahun. Ini berarti di tahun ke-6 ia berkarya, akan terdapat 14 film yang dibuatnya. Hasilnya cukup lumayan, sesuai selera masyarakat. ”Kecuali 9 Naga. Itupun sudah lebih dari 90 ribu penonton,” tukasnya, tanpa bermaksud menyombongkan diri.

(more…)

Read Full Post »