Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘success story’

Istana Rahasia Julian Aldrin Pasha

Perjalanan hidup ini adalah benar-benar pilihan saya. Dunia yang saya inginkan. Bukan karena tak ada pilihan. 

julian aldrin pasha

Di tengah telepon yang sering berdering.

Senja menyapa pelataran istana Merdeka, ketika akhirnya Julian Adrin Pasha, Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, menampakkan dirinya. Ia berjalan cepat dari kejauhan, seperti merasa sangat bersalah karena pertemuan yang dijanjikan pada pukul empat sore harus mundur hingga lebih dari satu jam kemudian. Sedikit keringat meleleh di keningnya yang bersih, dan ia mengusap dengan sapu tangan yang diambil dari saku celana. “Maaf, saya terlambat,” ujarnya.

Kondisi istana saat itu tengah sedikit terguncang akibat berbagai rumor pemberitaan  negatif mengenai Presiden SBY, mulai kisah SMS fitnah hingga kasus korupsi Nazaruddin, bendahara umum partai Demokrat yang didirikan atasan Julian tersebut. Dan ketika perbincangan ini terjadi, ia baru saja bertemu dengan Presiden SBY. Entah apa yang dibicarakan, namun kepenatan masih tergurat di wajahnya. “Presiden sedang banyak dibicarakan dalam hari-hari terakhir ini, posisi juru bicara yang melekat dengan presiden pun ikut pula merasakan berat,” ujarnya dengan nada ringan. (more…)

Read Full Post »

Menuju Ke Akar Yudi Latif

Ia menemukan diri dengan cara menziarahi akar genetik dan sosial budaya yang telah menjadikannya

yudi latif

“Dalam kebimbangan arah hidup, jalan terbaik pulang ke akar.” Sebuah ungkapan Yudi Latif di laman twitter seperti memberi jalan untuk mengenalnya dengan lebih baik. Berbagai peristiwa dan sekaligus sejarah dirinya dalam memberi warna dalam percaturan intelektual di Indonesia pun tak lepas dari pernyataan ini. Aktivitas terakhirnya ialah ketika ia meluncurkan buku terbarunya: Negara Pancasila (NP). Di tengah situasi sosial politik Indonesia saat ini, kelahiran buku yang mengupas tuntas mengenai Pancasila menjadi jawabannya: mengembalikan Indonesia pada tempatnya, akarnya, jiwanya.  (more…)

Read Full Post »

Keindahan yang Bersahaja

Ia tahu bagaimana menghadirkan keindahan dan cinta dari sudut pandang yang tidak biasa

Davy Linggar (37) memesan segelas es coklat untuk memulai perbincangan pada suatu pagi menjelang siang di sebuah kafe di Plaza Senayan. Lepas dari kesukaannya, mungkin ia perlu zat-zat serotonin dalam coklat untuk memberi rasa nyaman dan rileks. “Saya nggak bisa ngomong, jadi ngomongnya lewat motret, lewat visual,” ujarnya pendek, sedikit terpatah. Duduk satu meja dengannya, Jane Hufron, managernya, dan Seno, asistennya. Jiahara, anak lelakinya, tertidur pulas dalam kereta dorong.

Menemuinya bukan perkara gampang. Selain sibuk, seniman dan fotografer fashion terkemuka diIndonesia ini terbilang enggan dipublikasikan, terutama menyangkut dirinya sendiri. Alasannya, seperti tersebut di atas, merasa tak bisa bicara. Dan dalam perbincangan berikutnya, ia bukanlah tipe pria yang mengumbar cerita tentang pribadinya. Namun demikian, ia terlihat “cerewet” tatkala perasaannya nyaman karena berada pada waktu, suasana, tempat, dan “frekuensi” yang sama dengan lawan bicaranya. Setiap kalimat yang diucapkan pendek-pendek itu terangkum kecerdasan dalam memandang setiap hal, seperti karya lukis dan foto-foto yang diabadikannya. (more…)

Read Full Post »

Mendekat Tanpa Jarak

Melati Suryodarmo by Rustika Herlambang    

 

Menengok kembali hal-hal yang ia tutupi dalam diri selama ini adalah bagian dari rahasia kesuksesannya kini

 

Di sebuah kursi panjang dari kayu, Melati Suryodarmo (42) bercerita tentang tentang dirinya. Seniman senirupa pertunjukan (Performance Art) perempuan asal Solo, Indonesia, yang kini bermukim di Jerman itu sudah mengambil posisi duduk yang nyaman: bertimpuh pada satu kaki, dan membiarkan kaki lainnya bebas bergerak. Di sekelilingnya terlihat aneka benda kuno yang pernah dipakainya dalam berkarya, koleksi sang ayah, Suprapto Suryodarmo, seorang penari dan seniman gerak (free movement) yang juga pemilik dan pendiri Padepokan Lemah Putih.

 

Performance Art atau senirupa pertunjukan (SP) merupakan pengembangan dari bidang senirupa yang menggunakan tubuh sebagai media seni,” ia mengawali perbincangan. Mungkin paham bahwa bidang seni yang dilakoni itu bukan termasuk jenis yang melayani selera kebanyakan. SP mewakili perjalanan sebuah pemikiran, konsep, dan pengkristalan suatu fenomena terpilih. SP tidak menyampaikan pesan secara verbal, melainkan berkomunikasi melalui bahasa tindakan. Penampilan disajikan kepada penonton secara interdisipliner, kadang mengunakan skenario, kadang spontan, dan  bukan sekadar soal improvisasi seperti halnya dalam teater. “SP, dalam sejarahnya, membongkar dan mendobrak aturan konvensional senipertunjukan dan senirupa,”katanya.   (more…)

Read Full Post »

Menuju Satu Bintang

Ninuk Widyantoro

Kalau punya cita-cita yang jelas, pasti hidup kita akan lebih sederhana. Tidak pernah rumit. Percayalah. 

Perjalanan kehidupan adalah sebuah misteri yang terselubung dalam setiap peristiwa. Tak setiap manusia bisa memaknainya, hingga tiba dalam suatu masa ketika ia disadarkan akan setiap hal dalam catatan kehidupannya. Pun demikian halnya dengan Ninuk Widyantoro, psikolog dan seorang aktivis kesehatan reproduksi perempuan. Aktivitas dalam bidang kesehatan itu akhirnya bisa memadukan keinginan batinnya menjadi seorang guru tk seperti yang dicita-citakannya dan menjadi “dokter” seperti yang diinginkan oleh ayahnya.

Saat ini, ia adalah Ketua Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), yang memperjuangkan perlindungan hukum terutama bagi kesehatan kaum  perempuan. Ia termasuk psikolog pertama di Indonesia yang menyusun panduan konseling Keluarga Berencana, saat itu untuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), sebuah LSM tertua yang memelopori gerakan Keluarga Berencana (KB) di Indonesia. Modul konseling training yang dibuatnya juga dipakai di berbagai negara, seperti Vietnam, Iran, Turki, Azerbaijan, Kazakhtan,  Bangladesh dan sebagainya. (more…)

Read Full Post »

Memecah Sunyi

Jaleswarii by Hakim Satriyo

Meski suka berada di zona nyaman, ternyata ia terus mempertanyakan kemapanan

Senyuman ramah yang dipancarkan Jaleswari Pramodhawardani langsung memupus sepi yang sejak tadi terasakan saat menginjak gedung Widya Graha, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),Jakarta, pukul sepuluh pagi. Di tempat Dhanny– nama akrabnya – bekerja sebagai peneliti itu tak terlihat sedikitpun tetamu. Tak ada penjaga yang memeriksa tas pengunjung seperti dilakukan gedung-gedung tinggi. “Sunyi?,” ia tertawa. Dan tawa renyah itulah yang memberi tanda bahwa ada “kehidupan” disana.

Belakangan ini sulit mencari Dhanny. Ia sedang banyak kesibukan di Kementrian Pertahanan dan Markas Besar TNI. “Saya sedang diminta bicara mengenai deradikalisasi, NII, Pancasila, dan ketahanan bangsa,”perempuan berkarakter feminin yang dikenal sebagai peneliti militer di Indonesiaitu menjelaskan. Di sisi lain, ia tengah mengkoordinir penelitian mengenai hak atas kepemilikan – sebuah serial lanjutan dari perempuan dan hak atas seksualitasnya. (more…)

Read Full Post »

Mencari Ruh Tari

Fajar Satriadi by Randy Pradhana

 

 

 

 

Ia seperti pendekar dalam mencari sumber pengetahuan demi sebuah darma kehidupan

Ingatan Fajar Satriadi masih begitu tajam. Standing Ovation itu kembali bergemuruh sepanjang akhir pertunjukan Matah Ati dua hari berturut-turut di Esplanade Singapura, Oktober lalu. Ia sangat bahagia bisa memberikan seluruh energi dan kemampuan sehingga bisa memberi “nyawa” dalam pertunjukan garapan Atilah Soeryadjaya itu. “Saya merasa bahasa tarian itu membius penonton lintas budaya. Pada saat itulah, saya bangga menjadi orang Indonesia. Ada kesadaran nasionalisme yang terungkap kembali,” ujar Fajar yang berperan menjadi Raden Mas Said dalam pergelaran akbar yang juga dipentaskan di Indonesia Mei lalu.

Sebentar lagi, Matah Ati akan melakukan tur keliling ke Asia dan Eropa. Pertunjukan ini kian menambah panjang pengalamannya bekerjasama dengan para maestro tari Indonesia sejak tahun 1990. Di antaranya Sardono W. Kusumo, Miroto, Retno Maruti, Elly D. Luthan, dan Atilah Soeryadjaja. Tak hanya untuk kapasitas lokal, tapi juga berbagai event tari internasional, seperti di Jerman, Brazil, Jepang, Amerika, dan Inggris. Sementara sepanjang 2009 lalu, ia berkeliling beberapa kota di Inggris untuk mementaskan karya sendiri, Suara-Suara dan Tiga Karakter Topeng. Ia juga memberikan workshop tari di dalam negeri dan di Iuar negeri. (more…)

Read Full Post »

Petualang Kehidupan                                                                              

 kemal jufri

Passion itulah yang membuat saya selalu kembali, dan kembali…  

Perjumpaan dengan Kemal Jufri terjadi pada sebuah senja di Anomali Coffee, Setiabudi Building, Jakarta. Ia duduk di dekat kaca, menghadap  jalan raya dan gedung-gedung tinggi di seberangnya, lalu bercerita tentang pengalaman hidupnya sebagai jurnalis foto dengan amat ekspresif. Setiap foto yang dibuatnya adalah cerita panjang yang sangat personal, dibuat dengan sepenuh jiwa dan mata hatinya. Tak berlebihan kiranya bila tahun ini ia mendapat juara ke dua World Press Photo (kategori People in The News Stories), penghargaan dalam tiga kategori dari Picture of The Year International – semacam World Press Photo versi Amerika, serta China International Photo Contest yang memberikan Gold Prize. Ia adalah jurnalis foto pertama Indonesia yang meraih penghargaan tertinggi untuk fotografi jurnalistik itu.

Kemal terlihat menawan dengan kemeja biru tua yang berpadu celana kargo khaki. Dari salah satu sakunya, ia mengeluarkan Krama, syal kotak-kotak khas Kamboja, benda yang amat berguna untuk melindunginya dari berbagai kendala cuaca. “Karena saya bekerja dalam suasana ekstrim, saya perlu menyiapkan busana kerja yang berteknologi quick-dry, celana berkantung-kantung, serta sepatu nyaman yang juga berteknologi tinggi,” katanya. Jika ia dianggap punya “taste” jurnalistik baik, demikian pula dalam penampilan. “Bukan soal modis, hanya segala hal ini membantu saya dalam bekerja dengan nyaman,” elaknya. (more…)

Read Full Post »

Perempuan dalam Tari                                                                                     

Retno Maruti

Apakah pencarian identitas diri perempuan dalam karya-karya yang diciptakan adalah bagian dari luapan kegelisahan dirinya sendiri?

Di teras itu, Retno Maruti menari. Angin berdesir, menyentuh dedaunan pohon tinggi yang rindang, menggesekkan irama alam, membuat sepotong gerakan tarian itu menyatu dengan alam sekitarnya. Ia terus menari, seolah kilatan kamera yang mengambil gambarnya adalah bagian dari pementasannya. Siang terik terasa sejuk tepat di teras rumah kediaman Maruti di Jakarta Timur. “Maruti itu artinya angin,” kata Maruti, di sela-sela kesibukannya mempersiapkan pementasan bertajuk Sawitri di Gedung Kesenian Jakarta, akhir Mei.

Pementasan Sawitri  merupakan syukuran 35 tahun berdirinya Padnecwara, padepokan tari yang dipimpinnya. Berkisah tentang kesetiaan dan perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan cinta sejatinya – sebuah perjuangan yang mengingatkan pada diri Maruti. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan penuh keteguhan hati dan perjuangan, untuk meraih cintanya dalam dunia tari. “Menari adalah kebutuhan jiwa. Membuat fisik sehat juga perlu, tapi yang lebih penting, saya bisa merasa tenteram dan damai ketika menari,” ia memberi alasan. Senyum membayangi wajahnya. (more…)

Read Full Post »

Pesan dari Sehelai Kain

Okke Hatta Rajasa

okke hatta rajasa

Seperti perajin yang menenun dengan segenap  hati dan rasa, maka seperti itulah ia memberikan jiwa pada sesuatu yang dicinta

 

Perkembangan tenun Indonesia yang semakin gemerlap dalam dunia fashion tahun belakangan ini rasanya agak sulit dipisahkan dari sebuah nama: Cita Tenun Indonesia (CTI). Organisasi para pecinta tenun untuk melestarikan dan sekaligus memasarkan tenun Indonesia ini telah membuat produk tenun menjadi the new lifestyle. Kegemilangannya bahkan sudah melebar hingga ke manca negara. Dan di balik segala keberhasilan, ada jerih payah Okke Hatta Rajasa, Ketua CTI, untuk mewujudkan mimpi: tenun go internasional.

Begitulah. Okke dan CTI  tidak hanya memikirkan tenun menjadi lebih berkilau, namun juga menyentuh persoalan yang lebih esensial: berbagi pengetahuan dan wawasan, sekaligus pemberdayaan perempuan dan masyarakat perajin.  Memecahkan kebuntuan pada tenun yang awalnya hanya dipakai dalam acara adat dan formal. Sebagaimana diketahui, sebelum CTI lahir pada tahun 2008, tenun berada dalam kondisi suram diakibatkan oleh berbagai keterbatasan. CTI mempertemukan dan menjembatani antara pengguna dengan perajinnya, antara produksi dan pasar. Hasilnya Anda bisa lihat  tenun menjadi demikian seksi, seperti dalam pergelaran CTI di Jakarta Fashion Week lalu. (more…)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »