Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘para eksil di swedia’

Hidup Ini Indah, Fauzi…

fauzi ichsan

Ia merasa bahwa keberhasilan yang diraihnya terjadi karena ketulusan cinta yang mengelilinginya

Waktu rasanya membeku saat Fauzi Ichsan bercerita tentang dirinya. Bar dan lounge Bibliotheque yang penuh di Jumat sore itu terasa senyap, terbawa kisah. Andai boleh mengutip memoar Sidney Sheldon dalam The Other Side of Me, maka alur kehidupan yang dialami Fauzi tak jauh dari pesan kehidupan tersebut. Hidupnya ibarat novel. Sesekali penuh ketegangan. Sesekali penuh kejutan. Setiap hari selalu berbeda. Ia tak kan pernah tahu apa yang terjadi kemudian, tanpa membuka halaman-halaman berikutnya. Tanpa kekuatan dan keberanian, mungkin ia tak akan pernah sampai di sini. Mungkin.

Fauzi genap 40 tahun saat ini – sebuah usia puncak bagi seorang pria. Ia adalah Direktur, Senior Vice President Standard Chartered Bank, Indonesia. Selain bertugas sebagai pemimpin tim ekonomi di bank tersebut, ia juga menjadi konsultan pada Departemen Keuangan, Bank Indonesia, dan Kementrian Luar Negeri. Di tengah kesibukan kantor, dan urusan Bank Century – di mana pendapatnya banyak dikutip media – ia menyediakan waktu. Pertemuan ini sudah berlangsung beberapa kali. Terakhir, ia memilih Bibliotheque sebagai tempat wawancara. Ia datang dengan gaya kasual, pada sebuah sore menjelang senja.

Di meja paling ujung bar dan lounge itu, ia menyimpulkan perjalanan hidupnya. “Pengalaman selama ini menyatakan bahwa hidup saya hanya mengikuti takdir. Semuanya seperti “sudah diarahkan”. Semuanya sering tak terduga. Jadi, saya menjalankan yang terbaik saja,” ujarnya, mengelak mengatakan rencana masa depannya. “Namun satu hal terpenting dalam hidup saya adalah soal kebahagiaan. Baru saat inilah saya merasakan hidup saya benar-benar normal,” ia tertawa lepas, lesung pipi kirinya langsung terlihat. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

para eksil di swedia

para eksil di swedia

 Surat Pembaca

(surat yang akhirnya tak pernah terpublikasi di Media Indonesia. entah kenapa…..)

 

 Saya seorang Warganegara Indonesia yang sejak tahun 1974 telah bermukim di Stockholm, Swedia dan sekarang bekerja pada jenjang manajer di salah satu perusahaan teknologi informasi Swedia.

Saya memperhatikan dan membaca dengan seksama melalui Media Indonesia On-Line (via Internet) pada edisi 30 September, 1 Oktober dan 9 Oktober yang lalu mengenai reportase tentang orang-orang (asal) Indonesia yang terhalang pulang karena masalah perbedaan pandang politik di zaman Orde Baru dahulu . (more…)

Read Full Post »

In Memoriam
Mohamad Ali Chanafiah

Tiga tahun lalu, saya menemui mereka. Hari ini, saya sedih karena saya mendengar Pak Ali sudah meninggal.

Ali di antara para eksil di Swedia

Mantan Dubes tanpa Tanah Air
Terbuang akibat G-30-S (1)

MUHAMAD Ali Chanafiah kini berusia lebih dari 90 tahun. Dia tinggal di sebuah flat delapan lantai di Ragsved, 15 kilometer selatan Stockholm, Swedia.Di rumah yang asri itu Ali tinggal bersama anak laki-lakinya dan dua cucunya. Setiap pagi mantan duta besar Indonesia di Sri Lanka itu sendirian di rumah ditemani dua parkit kesayangannya, Tono dan Tina. Anak dan cucunya bekerja atau sekolah. Dua parkit itu menjerit-jerit dalam kandang yang mungil dan bersih jika ada tamu yang berkunjung.Meski sudah sepuh, Ali tetap bersemangat menceriterakan masa lalunya. (more…)

Read Full Post »