Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Nasirun’

Nyanyi Sunyi Nasirun

nasirun

Maka kita akan mengerti mengapa Nasirun menikmati hidup dengan nyaman di kediamannya yang seperti surga untuknya. Karena di situlah ia terus “bertapa”

Maafkan. Kali ini Nasirun tak tertawa. Ia sedang bercerita tentang masa lampaunya. Ia bahkan lebih banyak diam. Suaranya serak. Kepulan asap rokoknya lebih banyak. Nafasnya memberat. Nasirun, seniman kontemporer yang juga sufi itu, tampak mempertimbangkan segala hal yang akan diungkapnya. Mungkin ini aib, ujarnya kemudian. Tapi dari peristiwa inilah segala perjalanan artistik kehidupan yang membentuk karakter dan kepribadiannya dimulai. “Mungkin saya punya selera humor. Slengekan. Tapi semua itu saya lakukan untuk menutup masa lampau saya. Saya tidak ingin merasa kecil ketika melihat orang besar, dan tidak merasa besar ketika melihat orang kecil.”

Baru kali ini melihat Nasirun tanpa tawanya yang khas, bebas, merdeka, yang tak pernah lepas dari dirinya. Sebaliknya, ia amat serius. Dahinya berkerut. Perbincangan ini terjadi di siang hari – waktu yang biasanya digunakan mengaso secara teratur – hanya dewi dan dirinya di kediamannya yang asri di Yogyakarta. Semalam, ia mengadakan pameran tunggal pelukis senior Soenarto PR, sebagai wujud baktinya pada senior-seniornya. Sementara itu, setelah menyelesaikan pameran tunggal dan akbar Salam Bekti akhir 2009 lalu, ia telah menyelesaikan 1200 karya kecil yang rencana dipamerkan menyambut ulang tahunnya ke empat puluh lima Oktober ini, serta 100 karya lainnya dalam satu tema. Saat ini beberapa karyanya sedang dipamerkan di Jakarta, Yogyakarta, dan Shanghai. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Nyanyi Sunyi Nasirun

Nasirun by Wahyu Tantra

Maka  kini kita  akan mengerti mengapa Nasirun menikmati hidup  dan terus “bertapa”

Maafkan. Kali ini Nasirun tak tertawa. Ia sedang bercerita tentang masa lampaunya. Ia bahkan lebih banyak diam. Suaranya serak. Kepulan asap rokoknya lebih banyak. Nafasnya memberat. Nasirun, 45 tahun, seniman kontemporer yang juga sufi itu, tampak mempertimbangkan segala hal yang akan diungkapnya. Mungkin ini aib, ujarnya. Tapi dari peristiwa inilah segala perjalanan artistik kehidupan yang membentuk karakter dan kepribadiannya dimulai. “Mungkin saya punya selera humor. Slengekan. Tapi semua itu saya lakukan untuk menutup masa lampau saya. Saya tidak ingin merasa kecil ketika melihat orang besar, dan tidak merasa besar ketika melihat orang kecil.”

Baru kali ini melihat Nasirun tanpa tawanya yang khas, bebas, merdeka, yang tak pernah lepas dari dirinya. Perbincangan ini terjadi di siang hari – waktu yang biasanya digunakan mengaso secara teratur – di kediamannya yang asri di Yogyakarta. Semalam, ia mengadakan pameran tunggal pelukis Soenarto PR, sebagai wujud bakti pada seniornya. Sementara itu, setelah menyelesaikan pameran tunggal dan akbar Salam Bekti akhir 2009, ia menyelesaikan 1200 karya kecil (rencana dipamerkan tunggal menyambut ulang tahunnya yang ke-45 Oktober lalu, tapi gagal), serta 100 karya lain dalam satu tema. Saat ini beberapa karyanya sedang dipamerkan di Jakarta, Yogyakarta, dan Shanghai. (more…)

Read Full Post »

Seni Rumah Seniman

Nasirun

 

 

 

 

 

 

 

 

Kali ini, ijinkan saya berkelana menuju rumah-rumah seniman di Yogyakarta.  Bila selama ini saya banyak berhubungan dengan sosok pemiliknya, maka kini saya mengupas “rumah” di mana mereka tinggal dan berkarya selama ini. Namun jangan pernah dibayangkan bahwa saya akan bicara mengenai arsitektural, sebagaimana ulasan rumah-rumah yang ada. Apa yang saya sampaikan adalah mengenai rumah dari sisi “dalam”, yakni tentang sisi kehidupan penghuninya terhadap rumah sebagai sesuatu yang hidup (living concept), yang nyata, yang terasakan, yang memberi inspirasi.

Berbeda dengan konsep penghuni biasa –yang rata-rata hanya menghabiskan beberapa lama di rumah karena kesibukan di luar rumah – konsep rumah bagi seniman adalah sesuatu yang istimewa. Mereka hidup, berkarya, berkeluarga, dan bersosialiasi di tempat yang sama. Itulah hal yang menurut saya sangat unik dan menarik untuk dikaji lebih dalam.

Empat seniman yang kita angkat dalam angle ini memiliki popularitas di papan atas, memiliki genre yang berbeda satu sama lain, dan ternyata memiliki konsep yang berbeda satu sama lain.  Mereka adalah Nasirun, Entang Wiharso, Jumaldi Aldi, dan Galam Zulkifli.

Silakan menikmati..

(rustika herlambang)

terima kasih untuk Heri Pemad dan Rikki Zoel

Read Full Post »

Swargaloka Nasirun

Nasirun

Ia merasa bahwa rumah ibarat “mal” untuk dirinya. Segala hal yang diinginkan dan dicintainya ada di dalamnya. Sementara ia merasa tak butuh ponsel untuk berkomunikasi secara intensif. Toh rumahnya sudah terbuka untuk semua orang yang datang padanya. Justru  “langgar” yang sangat penting untuknya.  Ibarat sebuah ponsel yang menghubungkan dirinya dengan Tuhannya.

Nasirun, ah Nasirun… Tak ada yang bisa mengubah penampilan kesehariannya kecuali dirinya sendiri.Bahkan waktu puluhan tahun menimang gelimang kesuksesan material yang diperoleh dari karya-karya lukisannya, tak juga mempengaruhi gaya kesenimanannya.  Pemenang Philip Morris Award 1997 lebih nyaman dengan penampilan khasnya:  kaus T, celana pendek belel, dan sandal jepit. Janggutnya dipelintir rambut tebal bergelombangnya dibiarkan terurai, atau sesekali dikuncir. Suara tawanya masih tetap menggelegar. Ia juga tak pernah menginjakkan kakinya di mal dan bersikeras tak mau memiliki ponsel. (more…)

Read Full Post »