Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Hong Kong’

Yang Berdiam di Dalam Kanvas                                                                                 Julius Ariadhitya Pramuhendra

pramuhendra

Pada setiap karya, ia selipkan sebuah cerita untuk seseorang yang tak pernah ada dalam kanvasnya

Julius Ariadhitya Pramuhendra adalah sebuah nama yang menjadi bahan perbincangan sepanjang 2010 dalam dunia senirupa Indonesia. Karya instalasi Ashes to Ashes yang digelar dalam Hong Kong Art Fair 2010 banyak mencuri perhatian. Di tengah pergulatan warna dan tema berbagai kreasi seni yang tampil dari berbagai galeri besar dunia, ia muncul dengan warna monokromatik hitam putih. Instalasi itu terdiri dari sebuah drawing foto realis, sebuah meja dan jam dinding terbakar. Dalam drawing, tampak sang seniman beserta keluarganya menikmati perjamuan makan yang mengingatkan pada lukisan Leonardo da Vinci, Last Supper.

Kekuatan karya dan kemampuan teknis yang dibawanya pada saat itu sempat membuat namanya disebut-sebut sebagai calon terkuat penerima penghargaan seniman pendatang baru terbaik. Sayangnya, kesempatan itu belum tiba. Meski demikian, beberapa galeri internasional melirik potensi pria yang baru genap berusia 27 tahun pada 13 Agustus itu. Paling tidak, sebuah pameran tunggal telah disiapkan di Taipei pertengahan tahun ini.  Ia juga menyiapkan satu pameran tunggal istimewa yg masih dirahasiakannya. Setelah itu, sebuah pameran tunggal istimewa yang masih dirahasiakan di Indonesia sudah menanti. “Tunggu tanggal mainnya, akan banyak kejutan!,” Hendra, sapaan akrab Pramuhendra, mencoba berahasia. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Bersiaplah menuju dunia imajinasi Louis Vuitton: Passion for Creation yang membuka pandangan baru seni kontemporer tentang sebuah kolaborasi.

cao fei

cao fei

Ketika label Louis Vuitton pertama kali berdiri, mereka memposisikan dirinya sebagai the art of travel.  Barangkali para pendiri Louis Vuitton sudah berpikir panjang mengenai istilah ini. Buktinya, hingga kini, label asal Perancis ini masih tetap berjaya di tengah persaingan dunia citra yang luar biasa. Travel di sini akhirnya berkembang tidak hanya sekadar perjalanan, tapi juga petualangan. Nah, petualangan itulah yang tampaknya ingin dibagi bersama masyarakat, setelah 150 berkarya, hidup berdampingan dan saling menguntungkan.

Apabila kali ini mereka membawa sebuah petualangan dan pengalaman seni, tentu hal itu bukan hal yang berlebihan. Seperti diungkapkan Marc Jacobs pada media, ”Louis Vuitton adalah kemewahan, seni adalah kemewahan –persamaan konsep itulah yang menjadi landasan kolaborasi menjadi tercipta karenanya.” Ide ini kemudian mendapat tempat ketika datang sepucuk undangan dari French May Festival – yakni ajang kebudayaan tahunan setiap musim semi di Hongkong. Louis Vuitton pun lantas mendedikasikan Foundation Louis Vuitton pour la Creation untuk berpartisipasi melalui sebuah pameran akbar seni dengan tajuk Louis Vuitton: Passion for Creation. (more…)

Read Full Post »

Pada akhirnya, karya adalah sebuah hal yang sangat personal. Itulah yang terasakan pada MUSE Exhibition di Galeri Louis Vuitton, Tsim Tsa Tsui, Hong Kong

passion for creation

passion for creation

Adalah sebuah kemewahan ketika memasuki sebuah lorong panjang yang kemudian menghadapkan Anda pada sederetan maha karya dalam sebuah jejak rekam perjalanan label Louis Vuitton. Hal ini tidak saja merupakan indikasi mengenai sejarah waktu yang sedemikian panjang bagi sebuah label, yakni 150 tahun, namun juga pergulatan yang terjadi agar senantiasa eksis di tengah persaingan kebutuhan gaya hidup lainnya. Pemandangan ini begitu terasakan ketika menghadiri pembukaan pameran MUSE Exhibition di Galeri Louis Vuitton, Tsim Sha Tsui, Hongkong, akhir mei lalu. (more…)

Read Full Post »