Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘film indonesia’

Kepompong Kenyamanan

djenar maesa ayu

djenar maesa ayu

Kendati karyanya penuh pendobrakan, dalam keseharian ia ádalah orang yang enggan dengan perubahan

Djenar Maesa Ayu (36)  dalam keseharian adalah seorang ibu muda, beranak dua, berdaster batik ria saat di rumah, memasak, membersihkan rumah berlantai tiga dan mengurus anak-anaknya. Sendirian. Tidak ada pembantu, meski tinggal di rumah gedongan pinggiran Jakarta Barat. “Saat seperti inilah saya merasa “kaya”. Tanpa pembantu, saya bisa memaksimalkan peran saya sebagai ibu,” kata Djenar sambil menatap mesra wajah anak bungsunya, Bidari Maharani (8) yang terlelap di atas pangkuannya. Sulungnya, Banyu Bening (17), baru saja pamit untuk nonton basket dengan pacarnya, berbekal nasi dengan ayam goreng yang disiapkan Djenar sebelumnya. Inilah gambar suasana di rumah Djenar ketika dewi bertandang ke rumahnya sehari itu.

Di luar sana, eforia belum saja usai. Film perdananya “Mereka Bilang, Saya Monyet!” meraih prestasi sebagai film terbaik versi Majalah Tempo, juga mengukuhkannya sebagai tokoh seni 2008. Film yang diangkat dari judul buku kumpulan cerpen pertamanya ini sekaligus membuka kiprahnya di berbagai festival film internasional seperti Berlin Asian Hot Shots Film Festival  dan Singapore Film Festival. Keberhasilan ini seolah melanjutkan berbagai prestasi yang diperoleh dari kumpulan cerpen dan novelnya yang lain, seperti “Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), “Nayla”, “Cerita Pendek tentang Cerita Pendek”, yang berhasil meraih penghargaan dari Khatulistiwa Literary Award. Karya-karyanya banyak dibicarakan karena keberaniannya dalam menyuarakan problem seksualitas dalam diri manusia.

Dua belas tahun lalu, sebelum ia memiliki hasrat untuk menulis, ia tak lebih dari seorang ibu rumah tangga biasa. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Merajut Sejarah

Lukman Sardi

Lukman Sardi

Di sepanjang kehidupannya, dia selalu bergulat dan mencoba melepaskan diri dengan nama besar ayahnya. Namun pada akhirnya ia justru menemukan “ayahnya” dalam dirinya.

Nama Lukman Sardi kembali terangkat ketika film Indonesia bangkit dari mati suri. Pria yang pernah mendapat penghargaan sebagai artis cilik terbaik dalam Festival Film Indonesia awal 80-an ini memang tergolong produktif dalam berkarya. Bisa dibilang, setiap tiga bulan sekali, ia menyelesaikan satu film. Putra musisi Idris Sadri ini kini adalah salah satu sosok cemerlang dalam dunia perfilman Indonesia – dan memang, ada banyak kisah mengenai sang aktor dan ayahnya.

Di kalangan kritikus film, Lukman dinilai sebagai seorang aktor karakter yang handal. Bagaikan bunglon, ia berubah pada setiap perannya. Kadang terlihat keras dalam film “Mengejar Matahari” dan “Sembilan Naga”, atau lucu dan setengah menyebalkan sebagai seorang sopir poligamis dalam “Berbagi Suami”. Ia juga dapat menyentuh hati dengan memerankan seorang sahabat setia, seperti ketika ia bermain sebagai mantan aktivis Herman Lantan, sahabat dari tokoh legendaris Soe Hok Gie dalam film “Gie”. Lukman adalah aktor yang layak menjadi bintang karena bakat dan kehandalannya berakting dan bukan karena bermodal wajah tampan atau paling tidak berkulit putih karena kebetulan genetika. Lukman berhasil meraih penghargaan The Best Actor (Bali International Film Festival 2006). Selain itu, ia juga sempat dinominasikan sebagai Peran Pendukung Pria Terbaik di Festival Film Jakarta 2006 yang bermasalah itu, serta Most Favorite Actor dari MTV Indonesia Movie Award. (more…)

Read Full Post »

Ada Apa dengan Rudi Soedjarwo?

rudi soedjarwo

rudi soedjarwo

Sutradara bertangan dingin ini justru memiliki kisah yang lebih dramatis dibanding film-film yang telah dibuatnya.

Rudi Soedjarwo adalah sutradara yang tak pernah kehabisan ide. Semakin banyak berbincang dengannya, kian banyak ide yang akan terlontar dari pikirannya. Ia pun memiliki kemampuan bercerita yang baik, sehingga patner berceritanya pun dengan mudah akan tersentuh daya imajinasinya. Apalagi saat bercerita tentang film, ia akan menggambarkannya secara detil, lengkap dengan settingnya, kita pun seolah menyaksikan pertunjukan film yang sesungguhnya.

Boleh jadi karena kelebihan inilah ia mampu mencetak film-film laris di Indonesia. Karena idenya yang terus mengalir seperti air, ia tidak pernah melewatkan waktunya tanpa membuat film. Tahun ini saja, ia sudah merencanakan membuat 3 film dalam setahun. Ini berarti di tahun ke-6 ia berkarya, akan terdapat 14 film yang dibuatnya. Hasilnya cukup lumayan, sesuai selera masyarakat. ”Kecuali 9 Naga. Itupun sudah lebih dari 90 ribu penonton,” tukasnya, tanpa bermaksud menyombongkan diri.

(more…)

Read Full Post »

Dewi edisi Mei 2008

Petualangan Komedi Hitam

Mira Lesmana

Menurut saya, hidup ini sangat membosankan kalau tak ada tantangan!

mira lesmana

mira lesmana

Di tengah kesibukannya mempersiapkan syuting film Laskar Pelang (LP), Mira Lesmana meluangkan waktunya. Hari masih pagi, ketika ia sudah berada di ruang kerjanya. Wajahnya terlihat segar, meski tanpa polesan. Mungkin karena tempaan bias sinar mentari yang jatuh ke wajahnya melalui kisi-kisi jendela. Ia tampak membereskan berkas-berkas, buku-buku, dan sisa-sisa abu rokok yang tampak berserakan di meja. “Pernah ke kantor Nia? Ya begini ini kondisinya. Tahu sendirilah orang film,”katanya sambil tertawa, menyebut nama Nia Dinata, berusaha memberi pemakluman.

“Saya pernah membereskan semua barang sampai sangat rapi. Eh, banyak yang protes. Apa-apaan sih, kayak kantor saja,”Mira menirukan komentar Nicolas Saputra. Seolah seperti menemukan angin segar, sejak saat itu, “gaya” kantornya ya seperti sekarang ini. Semua terlihat “alami”, tidak dibuat-buat, banyak buku atau kertas yang berserakan. “Akhirnya, memang kenyamanan jauh lebih penting.. Yah, setahun sekali lah, berberes bener-bener. Percuma sering-sering. Ha ha ha…” (more…)

Read Full Post »