Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘fashion’

Membuka Kotak Rahasia

 

 

Ia mengolah tekanan menjadi tantangan. Buah perjuangan selalu berbanding lurus dengan keberhasilan.

 

Pada sebuah senja, di bangku restoran Indonesia Palalada, Catharina Widjaja membuka kisah lama. Kisah yang mungkin saja sudah hampir terhapus dari ingatan, atau bahkan disembunyikan. Kala akhirnya ia membuka ‘kotak rahasia’ itu, lawan bicaranya seperti dibawa dalam lorong waktu dan perasaan luar biasa, meski dikisahkan dengan nada penuh kehati-hatian sehingga tak terasa ada unsur dramatis yang ingin ditonjolkan. Kesuksesan adalah sebuah perjalanan kehidupan yang teramat mahal dan panjang, kendati terasa cepat sekarang.

 

Cath, sapa akrabnya, adalah Direktur Gajah Tunggal (GT), produser ban terintegrasi terbesar di Asia Tenggara, sekaligus Managing Director di Alun-Alun Indonesia, retail produk Indonesia yang terkemuka. Ia adalah salah satu penerima penghargaan Perempuan Pemimpin Indonesia 2012, Kategori Perusahaan Publik, versi Ideku Group (Business Review, Cleopatra, dan Woman Review). Meski menduduki jabatan bergengsi, ia terkesan ramah dan rendah hati. Meski tegas, senyuman tak pernah lepas dari gayanya saat berbincang. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Keindahan yang Bersahaja

Ia tahu bagaimana menghadirkan keindahan dan cinta dari sudut pandang yang tidak biasa

Davy Linggar (37) memesan segelas es coklat untuk memulai perbincangan pada suatu pagi menjelang siang di sebuah kafe di Plaza Senayan. Lepas dari kesukaannya, mungkin ia perlu zat-zat serotonin dalam coklat untuk memberi rasa nyaman dan rileks. “Saya nggak bisa ngomong, jadi ngomongnya lewat motret, lewat visual,” ujarnya pendek, sedikit terpatah. Duduk satu meja dengannya, Jane Hufron, managernya, dan Seno, asistennya. Jiahara, anak lelakinya, tertidur pulas dalam kereta dorong.

Menemuinya bukan perkara gampang. Selain sibuk, seniman dan fotografer fashion terkemuka diIndonesia ini terbilang enggan dipublikasikan, terutama menyangkut dirinya sendiri. Alasannya, seperti tersebut di atas, merasa tak bisa bicara. Dan dalam perbincangan berikutnya, ia bukanlah tipe pria yang mengumbar cerita tentang pribadinya. Namun demikian, ia terlihat “cerewet” tatkala perasaannya nyaman karena berada pada waktu, suasana, tempat, dan “frekuensi” yang sama dengan lawan bicaranya. Setiap kalimat yang diucapkan pendek-pendek itu terangkum kecerdasan dalam memandang setiap hal, seperti karya lukis dan foto-foto yang diabadikannya. (more…)

Read Full Post »

Pesan dari Sehelai Kain

Okke Hatta Rajasa

okke hatta rajasa

Seperti perajin yang menenun dengan segenap  hati dan rasa, maka seperti itulah ia memberikan jiwa pada sesuatu yang dicinta

 

Perkembangan tenun Indonesia yang semakin gemerlap dalam dunia fashion tahun belakangan ini rasanya agak sulit dipisahkan dari sebuah nama: Cita Tenun Indonesia (CTI). Organisasi para pecinta tenun untuk melestarikan dan sekaligus memasarkan tenun Indonesia ini telah membuat produk tenun menjadi the new lifestyle. Kegemilangannya bahkan sudah melebar hingga ke manca negara. Dan di balik segala keberhasilan, ada jerih payah Okke Hatta Rajasa, Ketua CTI, untuk mewujudkan mimpi: tenun go internasional.

Begitulah. Okke dan CTI  tidak hanya memikirkan tenun menjadi lebih berkilau, namun juga menyentuh persoalan yang lebih esensial: berbagi pengetahuan dan wawasan, sekaligus pemberdayaan perempuan dan masyarakat perajin.  Memecahkan kebuntuan pada tenun yang awalnya hanya dipakai dalam acara adat dan formal. Sebagaimana diketahui, sebelum CTI lahir pada tahun 2008, tenun berada dalam kondisi suram diakibatkan oleh berbagai keterbatasan. CTI mempertemukan dan menjembatani antara pengguna dengan perajinnya, antara produksi dan pasar. Hasilnya Anda bisa lihat  tenun menjadi demikian seksi, seperti dalam pergelaran CTI di Jakarta Fashion Week lalu. (more…)

Read Full Post »

Menjemput Impian

Ia mengolah buncah keinginan dan harapan yang terpendam dalam kesabaran

 

Suara jengkerik dan hewan pengerat menjadi orkestrasi malam di “ruang kerja” Atilah Soeryadjaya. Sebuah meja kayu panjang ditutup dengan kain batik motif lama ditemani vas berisi bunga sedap malam yang wanginya terus menguar sepanjang percakapan. Sejurus pandang menatap lepas ke taman tempat pohon-pohon tinggi berdekatan kolam renang. Aroma rumput basah sesekali terbawa desir angin bersamaan dengan gemericik air kolam. Suasana terasa hening, khusuk, dan meditatif. “Di sinilah, saya mencipta Matah Ati,” ia membuka pembicaraan. Matanya berbinar. Ada kebahagiaan, ada kebanggaan.

 

Di atas meja terletak bermacam media yang memberitakan kesuksesan pergelaran perdana Matah Ati pada Pesta Raya Malay, Festival of Art, di Theater Hall, Esplanade, Singapura, Oktober lalu. Dalam pertunjukan keliling dunia tersebut, Atilah bertindak sebagai konseptor, penulis naskah, penata kostum, sutradara, sekaligus produsernya. Banyak pengamat seni lokal dan asing memberikan apresiasi positif terhadap garapan Atilah yang dianggap memberikan angin segar dalam seni pertunjukan Indonesia. Ia mementaskan Langendriyan, yakni perpaduan seni drama dan tarian khas Kraton Mangkunegaran, Solo. Sebentar lagi, Matah Ati akan segera pentas di Kuala Lumpur, Hongkong, Beijing, dan beberapa Negara Eropa di sepanjang tahun 2011. “Yang terpenting, kesuksesan ini terjadi berkat energi seluruh tim yang menyatu dan inilah hasil karya kita bersama,” ia menegaskan. (more…)

Read Full Post »

“Accupunto” Leonard Theosabrata

leonard theosabrata

Antara kepuasan ego dan pasar, antara fungsi dan artistik, antara hitam dan putih, ia memilih berada di antaranya.

Lagu Killing Me Softly berirama jazz mengalun lembut di butik Accupunto, Grand Indonesia, Jakarta  – mengawal pertemuan dengan desainer produk dan juga pemilik perusahaan, Leonard Theosabrata (33). Penampilannya segar, kendati mengenakan atasan hitam dengan detail unik dan celana panjang hitam yang begitu kontras dengan warna kulitnya. Kacamatanya bulat, bergagang. Rambutnya disisir artistik. Terasa benar ada gaya dan selera yang tinggi di balik penampilannya yang sederhana – mengingatkan pada desain produk-produk Accupunto yang modern, minimalis, tapi juga menyimpan sensualitas di balik detail lekukan kecil yang diciptakannya. (more…)

Read Full Post »

Melati untuk Ibu

 runi palar

Pengabdian, kepasrahan, dan totalitas berkarya adalah tiga kata kunci keberhasilannya

 

Runi Palar mencium kembali bunga kamboja kuning yang dipungutnya dari tempatnya berpijak. Sesuatu telah membuatnya terkenang, sehingga buliran air mata tiba-tiba mengaliri pipinya yang segar usai berdandan. Suasana serasa dalam sebuah adegan drama. Bayangan pepohonan jatuh dengan hangat di sebagian pipi dan seluruh halaman. Ia berdiri di tengah-tengah rumah tinggalnya  dengan Runa House of Design dan Museum –tempat ia meletakkan karya-karyanya,  di depan kolam teratai yang berbunga, di antara kebun penuh tanaman lokal yang begitu asri dan bebungaan yang ditata rapi.  “Saya rindu Ibu. Kalau saya sedang senang, saya selalu mengingat Ibu,” ujarnya.

Pertemuan ini terjadi di Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali. Runi baru saja kembali dari perjalanannya membawa rombongan berkeliling Jepang. Namun kali ini misinya bukan untuk mempresentasikan tren dua kali dalam setahun seperti rutinitas yang sudah dijalani selama 9 tahun terakhir. Ia mendapat kepercayaan dari pusat perbelanjaan Isetan untuk menggelar pameran Modern Bali Style 2010, di mana ia bertanggung jawab untuk membawa produk-produk terbaik Indonesia. Seperti diketahui, eksistensi Runi sebagai desainer perak ikonik Indonesia sudah diakui. Butiknya tersebar di Bandung, Bali, dan Yogyakarta. Sementara di Jepang, Amerika, Singapura, dan Hongkong, Anda bisa menemukannya di ritel-ritel butik eksklusif. (more…)

Read Full Post »

Interaksi Dua Hati

 

 

runi palar

runi palar

 

Melayani dengan sepenuh hati tidak hanya membuat ia bahagia, namun juga merupakan kunci kesuksesannya

Setelah pukul delapan malam, situasi Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali terasa sepi. Hanya desah binatang malam seperti jengkerik memecah kesunyian. Atau sesekali terdengar desir angin yang mengusik dedaunan. Namun di sebuah rumah bergaya Bali itu musik klasik terus mengalun. Wangi bebungaan yang ditata rapi di setiap ruangan menyemarakkan suasana malam. Di sanalah, desainer perak ikonik Indonesia, Runi Palar, tinggal bersama suaminya, Adriaan Palar. “Rasanya seperti bulan madu terus,” Runi tersenyum, tersipu-sipu, mengawali pertemuan dengan Pesona awal Juli lalu. (more…)

Read Full Post »

Older Posts »