Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘cinta….’

Warisan untuk Keturunan Keluarga Raja-Raja di Bali

puri banyuning

Sebagai penglingsir, saya harus memberikan warisan terbaik untuk mereka


Pertemuan ini terjadi pada sebuah siang yang hangat di Puri Banyuning, Abiansemal, Badung, Bali. Ketika itu sebuah upacara Mendak Taru, yakni upacara memotong batang pohon untuk dibuat Topeng Betara Barong di Pura Dalem Puri – yang merupakan pura milik keluarga puri sedang berlangsung. Iring-iringan masyarakat dan suara musik tradisional menjadi latar yang magis dan romantis saat berbincang dengan Ida Ayu Kompiang Sutarti atau yang lebih di kenal dengan sebut Ibu Agung Oka yang merupakan Penglisir Puri Banyuning.

Penglingsir atau Pemucuk adalah sebutan untuk orang yang dituakan, pemimpin puri, atau pemimpin lembaga kekerabatan puri. Sementara yang disebut sebagai puri dalam tradisi Bali adalah tempat tinggal para bangsawan di Bali, khususnya mereka yang merupakan putra dari keturunan raja-raja. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Nyanyi Sunyi Nasirun

nasirun

Maka kita akan mengerti mengapa Nasirun menikmati hidup dengan nyaman di kediamannya yang seperti surga untuknya. Karena di situlah ia terus “bertapa”

Maafkan. Kali ini Nasirun tak tertawa. Ia sedang bercerita tentang masa lampaunya. Ia bahkan lebih banyak diam. Suaranya serak. Kepulan asap rokoknya lebih banyak. Nafasnya memberat. Nasirun, seniman kontemporer yang juga sufi itu, tampak mempertimbangkan segala hal yang akan diungkapnya. Mungkin ini aib, ujarnya kemudian. Tapi dari peristiwa inilah segala perjalanan artistik kehidupan yang membentuk karakter dan kepribadiannya dimulai. “Mungkin saya punya selera humor. Slengekan. Tapi semua itu saya lakukan untuk menutup masa lampau saya. Saya tidak ingin merasa kecil ketika melihat orang besar, dan tidak merasa besar ketika melihat orang kecil.”

Baru kali ini melihat Nasirun tanpa tawanya yang khas, bebas, merdeka, yang tak pernah lepas dari dirinya. Sebaliknya, ia amat serius. Dahinya berkerut. Perbincangan ini terjadi di siang hari – waktu yang biasanya digunakan mengaso secara teratur – hanya dewi dan dirinya di kediamannya yang asri di Yogyakarta. Semalam, ia mengadakan pameran tunggal pelukis senior Soenarto PR, sebagai wujud baktinya pada senior-seniornya. Sementara itu, setelah menyelesaikan pameran tunggal dan akbar Salam Bekti akhir 2009 lalu, ia telah menyelesaikan 1200 karya kecil yang rencana dipamerkan menyambut ulang tahunnya ke empat puluh lima Oktober ini, serta 100 karya lainnya dalam satu tema. Saat ini beberapa karyanya sedang dipamerkan di Jakarta, Yogyakarta, dan Shanghai. (more…)

Read Full Post »

Nyanyi Sunyi Nasirun

Nasirun by Wahyu Tantra

Maka  kini kita  akan mengerti mengapa Nasirun menikmati hidup  dan terus “bertapa”

Maafkan. Kali ini Nasirun tak tertawa. Ia sedang bercerita tentang masa lampaunya. Ia bahkan lebih banyak diam. Suaranya serak. Kepulan asap rokoknya lebih banyak. Nafasnya memberat. Nasirun, 45 tahun, seniman kontemporer yang juga sufi itu, tampak mempertimbangkan segala hal yang akan diungkapnya. Mungkin ini aib, ujarnya. Tapi dari peristiwa inilah segala perjalanan artistik kehidupan yang membentuk karakter dan kepribadiannya dimulai. “Mungkin saya punya selera humor. Slengekan. Tapi semua itu saya lakukan untuk menutup masa lampau saya. Saya tidak ingin merasa kecil ketika melihat orang besar, dan tidak merasa besar ketika melihat orang kecil.”

Baru kali ini melihat Nasirun tanpa tawanya yang khas, bebas, merdeka, yang tak pernah lepas dari dirinya. Perbincangan ini terjadi di siang hari – waktu yang biasanya digunakan mengaso secara teratur – di kediamannya yang asri di Yogyakarta. Semalam, ia mengadakan pameran tunggal pelukis Soenarto PR, sebagai wujud bakti pada seniornya. Sementara itu, setelah menyelesaikan pameran tunggal dan akbar Salam Bekti akhir 2009, ia menyelesaikan 1200 karya kecil (rencana dipamerkan tunggal menyambut ulang tahunnya yang ke-45 Oktober lalu, tapi gagal), serta 100 karya lain dalam satu tema. Saat ini beberapa karyanya sedang dipamerkan di Jakarta, Yogyakarta, dan Shanghai. (more…)

Read Full Post »

Jembatan Dua Cinta

heri pemad

Ia selalu mencari cara membahagiakan orang lain, tapi belum pada cintanya.

 

Celoteh kisah dalam bahasa Jawa kental terasa begitu kontras di tengah alunan musik jazz di Loewy Restaurant, Mega Kuningan, Jakarta. Kisah yang begitu serunya, sehingga beberapa pasang tatap mata menoleh pada Heri Pemad, sang pemilik suara. Siang terik itu, ia tampak asyik berbincang menyantap grill escargot dari bistro Perancis dengan sesekali membetulkan letak kacamata. Ia menyelinap sejenak dari aktivitasnya memantau pameran Space & Image yang digelar di Ciputra Art World. Di ajang pameran seni akbar tersebut Heri Pemad Art Management miliknya bertidak sebagai event organizer.

Tapi perbincangan waktu itu sama sekali tak menyentuh kesuksesan pameran di Art Paris, persiapan Jogja Art Fair #3, atau konsep pameran dalam rangka pembukaan museum pribadi seorang kolektor besar Indonesia awal tahun 2011. Pikirannya masih tertambat pada seperangkat gamelan Jawa yang baru saja dipersembahkan pada warga di kampung masa lampaunya di Sukoharjo. Ia bercerita bahwa di luar kegiatan padat membuat pameran-pameran besar di berbagai kota dan negara, sengaja ia kosongkan waktu hampir setiap minggu demi menikmati alam pedesaan sambil melihat anak-anak kecil memelajari gamelan. “Rasanya senang bisa menyenangkan orang banyak,” ujarnya. (more…)

Read Full Post »

Interaksi Dua Hati

 

 

runi palar

runi palar

 

Melayani dengan sepenuh hati tidak hanya membuat ia bahagia, namun juga merupakan kunci kesuksesannya

Setelah pukul delapan malam, situasi Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali terasa sepi. Hanya desah binatang malam seperti jengkerik memecah kesunyian. Atau sesekali terdengar desir angin yang mengusik dedaunan. Namun di sebuah rumah bergaya Bali itu musik klasik terus mengalun. Wangi bebungaan yang ditata rapi di setiap ruangan menyemarakkan suasana malam. Di sanalah, desainer perak ikonik Indonesia, Runi Palar, tinggal bersama suaminya, Adriaan Palar. “Rasanya seperti bulan madu terus,” Runi tersenyum, tersipu-sipu, mengawali pertemuan dengan Pesona awal Juli lalu. (more…)

Read Full Post »

Hidup Ini Indah, Fauzi…

fauzi ichsan

Ia merasa bahwa keberhasilan yang diraihnya terjadi karena ketulusan cinta yang mengelilinginya

Waktu rasanya membeku saat Fauzi Ichsan bercerita tentang dirinya. Bar dan lounge Bibliotheque yang penuh di Jumat sore itu terasa senyap, terbawa kisah. Andai boleh mengutip memoar Sidney Sheldon dalam The Other Side of Me, maka alur kehidupan yang dialami Fauzi tak jauh dari pesan kehidupan tersebut. Hidupnya ibarat novel. Sesekali penuh ketegangan. Sesekali penuh kejutan. Setiap hari selalu berbeda. Ia tak kan pernah tahu apa yang terjadi kemudian, tanpa membuka halaman-halaman berikutnya. Tanpa kekuatan dan keberanian, mungkin ia tak akan pernah sampai di sini. Mungkin.

Fauzi genap 40 tahun saat ini – sebuah usia puncak bagi seorang pria. Ia adalah Direktur, Senior Vice President Standard Chartered Bank, Indonesia. Selain bertugas sebagai pemimpin tim ekonomi di bank tersebut, ia juga menjadi konsultan pada Departemen Keuangan, Bank Indonesia, dan Kementrian Luar Negeri. Di tengah kesibukan kantor, dan urusan Bank Century – di mana pendapatnya banyak dikutip media – ia menyediakan waktu. Pertemuan ini sudah berlangsung beberapa kali. Terakhir, ia memilih Bibliotheque sebagai tempat wawancara. Ia datang dengan gaya kasual, pada sebuah sore menjelang senja.

Di meja paling ujung bar dan lounge itu, ia menyimpulkan perjalanan hidupnya. “Pengalaman selama ini menyatakan bahwa hidup saya hanya mengikuti takdir. Semuanya seperti “sudah diarahkan”. Semuanya sering tak terduga. Jadi, saya menjalankan yang terbaik saja,” ujarnya, mengelak mengatakan rencana masa depannya. “Namun satu hal terpenting dalam hidup saya adalah soal kebahagiaan. Baru saat inilah saya merasakan hidup saya benar-benar normal,” ia tertawa lepas, lesung pipi kirinya langsung terlihat. (more…)

Read Full Post »

Aliran Arus Besar

eddie hara - rustika herlambang

Segala kreativitas itu tercipta karena jiwa muda yang terus menggelegak dalam dirinya

Bisa dikatakan, “dunia” Eddie Hara sesungguhnya ada di dalam kanvas-kanvasnya. Atau dalam satu kalimat: Welcome to My Cruel Colorful World – untuk menunjukkan lukisan yang dibuat tahun 2005. Lukisan yang ditandai dengan judul cukup menyentak secara tekstual itu divisualkan dalam warna-warna yang cemerlang. Kata “cruel” diletakkan lebih kecil dan terpisah, bahkan hampir tersembunyi, dibandingkan “colorful world” yang sepertinya sengaja dibesar-besarkan. Ikon Mini Mouse khas Eddie membawa belati dengan seringai tawa itu berpadu dengan dua ikon lain dalam posisi terbaik-balik.

Pada akhirnya karya itu bukanlah sebuah cerita tentang kekejaman – meski diinspirasikan oleh kritik sosial mengenai kekerasan yang bisa dilakukan oleh anak atau remaja- melainkan sesuatu yang lucu, atau bahkan memaksa kita untuk tertawa. Menertawakan diri sendiri. Self irony. Berbagai persoalan seperti itulah yang selalu mengganggu “kehidupan” Eddie Hara, menjadikan karya-karyanya tak henti digemari pasar. (more…)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »