Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘cinta….’

Membuka Tempurung Butet Manurung

butet manurung

Garis hidupnya kini seperti menyusuri mimpi-mimpi masa kecilnya.

Saur Marlina ‘Butet’ Manurung, aktivis pendidikan, penyelamat kehidupan masa depan anak-anak dari suku-suku pedalaman di Indonesia, tampak tercenung. Matanya berkaca-kaca, tak bisa bicara. Pemandangan ini memang sedikit mengejutkan. Butet yang tadinya amat riang bercerita tentang keberaniannya, menikmati tinggal di hutan pedalaman bersama anak-anak rimba, tak takut melihat beruang, menginjak ular kobra, ternyata amat sensitif bila berkisah tentang seseorang yang saat ini sangat dirindukannya, Papa.

Hutan dan Papa adalah dua cinta yang saling tarik menarik sepanjang kehidupannya. “Aku tak tahu, apakah Papa akan membolehkan aku tinggal di hutan seperti sekarang ini, bila beliau masih ada..,” ujarnya dengan mata masih tergenang. “Tapi aku tahu pasti papaku akan bangga kalau kita menolong orang lain, seperti sejak dulu ia selalu bilang, “Pada saat memberi, kita sebenarnya sedang menerima”),” ia mempertanyakan – yang kemudian didapat jawaban yang tegas dari bundanya, Tiur Samosir, “Tak akan ada Butet Manurung yang kita kenal sekarang.” Padahal Butet sungguh menikmati kehidupannya kini, mewujudkan keinginan mendirikan sekolah rimba yang sejak kecil dibayangkannya. “Pekerjaan ideal buatku adalah yang menggunakan ketiganya: otak, otot dan juga hati. Jadi latar belakang pendidikanku terpakai (otak), bisa terus olah raga/petualangan juga di dalam hutan (otot), dan sambil menolong orang (hati),” ia tersenyum. (more…)

Read Full Post »

Lentera Hati Suciwati

 

Aku bahagia karena memiliki cinta yang demikian besar, sehingga dengan cinta itu aku bisa bermanfaat untuk orang lain.

suciwati munir

Suciwati, perempuan yang pernah mendapatkan gelar Asia’s Hero 2005 versi majalah Time, tidak pernah berhenti memperjuangkan keadilan dan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia. Meski kini tinggal di Malang dan membuka sebuah toko suvenir dan oleh-oleh, ia mampu membagi waktu untuk mengurus berbagai aktivitasnya yang lain. Di antaranya Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (KASUM), Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), Kontras (komisi yang menangani kasus orang hilang dan tindak kekerasan, dibentuk almarhum Munir), dan Imparsial (LSM yang bergerak dalam pengawasan dan penyelidikan pelanggaran HAM di Indonesia).

Di sebuah hari yang hujan, ia bercerita tentang aktivitas, cinta, kehidupan, dan mimpi-mimpinya. Cuaca dingin melarutkan segala kisah yang dituturkannya dalam suasana santai. Kadang terlihat air membasahi bola matanya kala bercerita tentang cintanya pada Munir, almarhum suaminya. Namun tak jarang terasa kering ketika meluapkan kemarahan yang sama sekali tak terasakan dalam penampilannya. Itulah suasana saat bertemu Suci, aktivis HAM Indonesia, pada suatu hari di bulan Januari. (more…)

Read Full Post »

Perempuan dalam Tari                                                                                     

Retno Maruti

Apakah pencarian identitas diri perempuan dalam karya-karya yang diciptakan adalah bagian dari luapan kegelisahan dirinya sendiri?

Di teras itu, Retno Maruti menari. Angin berdesir, menyentuh dedaunan pohon tinggi yang rindang, menggesekkan irama alam, membuat sepotong gerakan tarian itu menyatu dengan alam sekitarnya. Ia terus menari, seolah kilatan kamera yang mengambil gambarnya adalah bagian dari pementasannya. Siang terik terasa sejuk tepat di teras rumah kediaman Maruti di Jakarta Timur. “Maruti itu artinya angin,” kata Maruti, di sela-sela kesibukannya mempersiapkan pementasan bertajuk Sawitri di Gedung Kesenian Jakarta, akhir Mei.

Pementasan Sawitri  merupakan syukuran 35 tahun berdirinya Padnecwara, padepokan tari yang dipimpinnya. Berkisah tentang kesetiaan dan perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan cinta sejatinya – sebuah perjuangan yang mengingatkan pada diri Maruti. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan penuh keteguhan hati dan perjuangan, untuk meraih cintanya dalam dunia tari. “Menari adalah kebutuhan jiwa. Membuat fisik sehat juga perlu, tapi yang lebih penting, saya bisa merasa tenteram dan damai ketika menari,” ia memberi alasan. Senyum membayangi wajahnya. (more…)

Read Full Post »

Pesan dari Sehelai Kain

Okke Hatta Rajasa

okke hatta rajasa

Seperti perajin yang menenun dengan segenap  hati dan rasa, maka seperti itulah ia memberikan jiwa pada sesuatu yang dicinta

 

Perkembangan tenun Indonesia yang semakin gemerlap dalam dunia fashion tahun belakangan ini rasanya agak sulit dipisahkan dari sebuah nama: Cita Tenun Indonesia (CTI). Organisasi para pecinta tenun untuk melestarikan dan sekaligus memasarkan tenun Indonesia ini telah membuat produk tenun menjadi the new lifestyle. Kegemilangannya bahkan sudah melebar hingga ke manca negara. Dan di balik segala keberhasilan, ada jerih payah Okke Hatta Rajasa, Ketua CTI, untuk mewujudkan mimpi: tenun go internasional.

Begitulah. Okke dan CTI  tidak hanya memikirkan tenun menjadi lebih berkilau, namun juga menyentuh persoalan yang lebih esensial: berbagi pengetahuan dan wawasan, sekaligus pemberdayaan perempuan dan masyarakat perajin.  Memecahkan kebuntuan pada tenun yang awalnya hanya dipakai dalam acara adat dan formal. Sebagaimana diketahui, sebelum CTI lahir pada tahun 2008, tenun berada dalam kondisi suram diakibatkan oleh berbagai keterbatasan. CTI mempertemukan dan menjembatani antara pengguna dengan perajinnya, antara produksi dan pasar. Hasilnya Anda bisa lihat  tenun menjadi demikian seksi, seperti dalam pergelaran CTI di Jakarta Fashion Week lalu. (more…)

Read Full Post »

Menjemput Impian

Ia mengolah buncah keinginan dan harapan yang terpendam dalam kesabaran

 

Suara jengkerik dan hewan pengerat menjadi orkestrasi malam di “ruang kerja” Atilah Soeryadjaya. Sebuah meja kayu panjang ditutup dengan kain batik motif lama ditemani vas berisi bunga sedap malam yang wanginya terus menguar sepanjang percakapan. Sejurus pandang menatap lepas ke taman tempat pohon-pohon tinggi berdekatan kolam renang. Aroma rumput basah sesekali terbawa desir angin bersamaan dengan gemericik air kolam. Suasana terasa hening, khusuk, dan meditatif. “Di sinilah, saya mencipta Matah Ati,” ia membuka pembicaraan. Matanya berbinar. Ada kebahagiaan, ada kebanggaan.

 

Di atas meja terletak bermacam media yang memberitakan kesuksesan pergelaran perdana Matah Ati pada Pesta Raya Malay, Festival of Art, di Theater Hall, Esplanade, Singapura, Oktober lalu. Dalam pertunjukan keliling dunia tersebut, Atilah bertindak sebagai konseptor, penulis naskah, penata kostum, sutradara, sekaligus produsernya. Banyak pengamat seni lokal dan asing memberikan apresiasi positif terhadap garapan Atilah yang dianggap memberikan angin segar dalam seni pertunjukan Indonesia. Ia mementaskan Langendriyan, yakni perpaduan seni drama dan tarian khas Kraton Mangkunegaran, Solo. Sebentar lagi, Matah Ati akan segera pentas di Kuala Lumpur, Hongkong, Beijing, dan beberapa Negara Eropa di sepanjang tahun 2011. “Yang terpenting, kesuksesan ini terjadi berkat energi seluruh tim yang menyatu dan inilah hasil karya kita bersama,” ia menegaskan. (more…)

Read Full Post »

Intermezzo Kehidupan

tatie wawo runtu

Di balik semua gemerlap cerita kesuksesan Sanur di mata internasional, ada tangan-tangan cekatan Tatie di balik segala detail dan  jamuan

Dari Tatie ke Tandjung Sari

Tandjung Sari Hotel awalnya adalah sebuah rumah liburan keluarga Wija Wawo Runtu yang saat itu masih beristrikan Judith. Bersama kelima anaknya, mereka  menikmati pemandangan laut dan indahnya pantai Sanur di awal tahun 1960. Rumah tersebut berubah menjadi penginapan ketika teman-teman dekat Wija merasakan tinggal di sana, dan memberikan inspirasi agar membangun bungalow yang bisa disewakan. Selanjutnya penginapan berkembang menjadi hotel dengan tetap bernuansa rumah. Dari mulut ke mulut hotel tersebut semakin dikenal, hingga dalam sebuah buku Architecture Bali: Birth of the Tropical Boutique Resort (Phillip Goad, Patrick Bingham-Hall), Tandjung Sari diklaim sebagai konsep butik hotel pertama di Asia Tenggara di tahun 1960-an.

Ketenaran hotel tersebut sampai mengundang aktor Hollywood John Wayne, Ingrid Bergman dengan suaminya Larst Smith, Ratu Ingrid dari Denmark, serta para Duta Besar Negara sahabat di era tahun 1960-an, yang saat itu belum terbentuk hotel. Menyusul kemudian beberapa musisi/penyanyi kondang asal Inggris seperti Mick Jagger dan David Bowie pernah menyempatkan menginap di sana. Saat itulah peran Tatie Wawo Runtu menyeruak. Tatie adalah perempuan yang dinikahi Wija setelah berpisah dengan Judith. (more…)

Read Full Post »

 

Mengenang Simbol Kejayaan

gusti mung

“Pilu rasa hati ketika menatap foto-foto lama yang terpasang di Keraton Surakarta”

 

Derai gerimis kecil mengantar pertemuan dengan Gusti Kanjeng Ratu Wandansari. Dahulu, kita mengenalnya sebagai Gusti Koes Murtiyah, dipanggil sebagai Gusti Mung, puteri mbalelo dari Keraton Surakarta Hadiningrat, karena kegigihan untuk membela tradisi yang seharusnya tetap dilestarikan di wilayah keraton. Suasana  tampak sedikit mendung di sepanjang perjalanan dari ruang pertemuan menuju kraton Surakarta, di mana ia lahir 48 tahun lalu. “Anda akan mengerti keindahan dan kekayaan perhiasan milik kraton Surakarta dari sini,” ia membuka pembicaraan.

 

Meski warnanya sudah mulai kusam, pintu gerbang kraton masih menyisakan kejayaan di masa lalu ketika bangunan itu didirikan pertama kali di tahun 1744 oleh Sri Susuhunan Pakubuwono II. Dua abdi dalem yang mengenakan kemeja dan celana panjang (bukan baju abdi dalem) tampak membungkuk dan memberikan hormat ketika Gusti Mung memasuki pintu kraton Kori Kamandungan. Sebagai Kanjeng Ratu – putri dari Sri Susuhunan Pakubuwono XII – Gusti Mung berjalan melenggang dengan kepala tegak untuk tetap menjaga wibawa. Lantas membawa dewi menelusuri tempat-tempat yang menjadi kesehariannya di masa lalu, sebelum akhirnya dipinang oleh kekasihnya, Eddy Wirabumi (Kanjeng Pangeran Arya Wirabhumi) (more…)

Read Full Post »

Older Posts »