Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘art’

Jembatan Dua Cinta

heri pemad

Ia selalu mencari cara membahagiakan orang lain, tapi belum pada cintanya.

 

Celoteh kisah dalam bahasa Jawa kental terasa begitu kontras di tengah alunan musik jazz di Loewy Restaurant, Mega Kuningan, Jakarta. Kisah yang begitu serunya, sehingga beberapa pasang tatap mata menoleh pada Heri Pemad, sang pemilik suara. Siang terik itu, ia tampak asyik berbincang menyantap grill escargot dari bistro Perancis dengan sesekali membetulkan letak kacamata. Ia menyelinap sejenak dari aktivitasnya memantau pameran Space & Image yang digelar di Ciputra Art World. Di ajang pameran seni akbar tersebut Heri Pemad Art Management miliknya bertidak sebagai event organizer.

Tapi perbincangan waktu itu sama sekali tak menyentuh kesuksesan pameran di Art Paris, persiapan Jogja Art Fair #3, atau konsep pameran dalam rangka pembukaan museum pribadi seorang kolektor besar Indonesia awal tahun 2011. Pikirannya masih tertambat pada seperangkat gamelan Jawa yang baru saja dipersembahkan pada warga di kampung masa lampaunya di Sukoharjo. Ia bercerita bahwa di luar kegiatan padat membuat pameran-pameran besar di berbagai kota dan negara, sengaja ia kosongkan waktu hampir setiap minggu demi menikmati alam pedesaan sambil melihat anak-anak kecil memelajari gamelan. “Rasanya senang bisa menyenangkan orang banyak,” ujarnya. (more…)

Read Full Post »

Interaksi Dua Hati

 

 

runi palar

runi palar

 

Melayani dengan sepenuh hati tidak hanya membuat ia bahagia, namun juga merupakan kunci kesuksesannya

Setelah pukul delapan malam, situasi Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali terasa sepi. Hanya desah binatang malam seperti jengkerik memecah kesunyian. Atau sesekali terdengar desir angin yang mengusik dedaunan. Namun di sebuah rumah bergaya Bali itu musik klasik terus mengalun. Wangi bebungaan yang ditata rapi di setiap ruangan menyemarakkan suasana malam. Di sanalah, desainer perak ikonik Indonesia, Runi Palar, tinggal bersama suaminya, Adriaan Palar. “Rasanya seperti bulan madu terus,” Runi tersenyum, tersipu-sipu, mengawali pertemuan dengan Pesona awal Juli lalu. (more…)

Read Full Post »

Aliran Arus Besar

eddie hara - rustika herlambang

Segala kreativitas itu tercipta karena jiwa muda yang terus menggelegak dalam dirinya

Bisa dikatakan, “dunia” Eddie Hara sesungguhnya ada di dalam kanvas-kanvasnya. Atau dalam satu kalimat: Welcome to My Cruel Colorful World – untuk menunjukkan lukisan yang dibuat tahun 2005. Lukisan yang ditandai dengan judul cukup menyentak secara tekstual itu divisualkan dalam warna-warna yang cemerlang. Kata “cruel” diletakkan lebih kecil dan terpisah, bahkan hampir tersembunyi, dibandingkan “colorful world” yang sepertinya sengaja dibesar-besarkan. Ikon Mini Mouse khas Eddie membawa belati dengan seringai tawa itu berpadu dengan dua ikon lain dalam posisi terbaik-balik.

Pada akhirnya karya itu bukanlah sebuah cerita tentang kekejaman – meski diinspirasikan oleh kritik sosial mengenai kekerasan yang bisa dilakukan oleh anak atau remaja- melainkan sesuatu yang lucu, atau bahkan memaksa kita untuk tertawa. Menertawakan diri sendiri. Self irony. Berbagai persoalan seperti itulah yang selalu mengganggu “kehidupan” Eddie Hara, menjadikan karya-karyanya tak henti digemari pasar. (more…)

Read Full Post »

Melani Setiawan by Anton Jhonsen

Oase Hati

Dalam rutinitas dunia kedokteran, ada suara lain yang terus memanggil-manggil. Rupanya suara itu berasal dari dunia seni.

Sebuah lembaran buku yang terbuka, sebuah catatan terbaca.

”buat Ibu..

Terima kasih atas kesabaran dan diskusi yang asyik dan bermakna. Perjalanan menuju.. seni rupa..di pagi hari..di malpensa-Italia.

Entang 2010”

Tulisan dengan ilustrasi gambar kaki dan tanda tangan Entang Wiharso ini bersanding dengan kalimat-kalimat yang dibubuhkan seniman Agus Suwage untuk Dr. Melani Witarsa Setiawan, MSc. Buku berjudul Pleasures of Chaos, Inside New Indonesia Art ini baru saja diluncurkan di Milan, Italia, bersamaan dengan pameran 10 seniman Indonesia. Buku ditulis oleh Jim Supangkat dan diproduseri oleh Primo Giovanni Marella, seorang pelopor seni sekaligus pemilik galeri di Milan. Sementara pada halaman belakang buku tertera kata: Tanpa Melani, buku ini tidak pernah tercipta – menunjukkan betapa perempuan 65 tahun ini berperan nyata. (more…)

Read Full Post »

Swargaloka Nasirun

Nasirun

Ia merasa bahwa rumah ibarat “mal” untuk dirinya. Segala hal yang diinginkan dan dicintainya ada di dalamnya. Sementara ia merasa tak butuh ponsel untuk berkomunikasi secara intensif. Toh rumahnya sudah terbuka untuk semua orang yang datang padanya. Justru  “langgar” yang sangat penting untuknya.  Ibarat sebuah ponsel yang menghubungkan dirinya dengan Tuhannya.

Nasirun, ah Nasirun… Tak ada yang bisa mengubah penampilan kesehariannya kecuali dirinya sendiri.Bahkan waktu puluhan tahun menimang gelimang kesuksesan material yang diperoleh dari karya-karya lukisannya, tak juga mempengaruhi gaya kesenimanannya.  Pemenang Philip Morris Award 1997 lebih nyaman dengan penampilan khasnya:  kaus T, celana pendek belel, dan sandal jepit. Janggutnya dipelintir rambut tebal bergelombangnya dibiarkan terurai, atau sesekali dikuncir. Suara tawanya masih tetap menggelegar. Ia juga tak pernah menginjakkan kakinya di mal dan bersikeras tak mau memiliki ponsel. (more…)

Read Full Post »

Mencari Tempat Menepi dan Untuk  Selalu Kembali

galam zulkifli

Hidup itu rumit, tapi seni menyederhanakan. Pikirannya rumit, rumah bergaya sedehana mengimbanginya.

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah rumah di tepi hamparan sawah, berpemandangan alam indah, menyepi, dan jauh dari keramaian tetangga sekitar. Itulah lokasi studio yang baru saja selesai dibangun Galam Zulkifli. “Kita bertemu di studio saja ya, karena studio itulah yang mewakili karakterku,” kata-katanya masih terngiang saat dewi menginjakkan kaki di desa Kasihan, Bantul, Yogyakarta beberapa saat lalu. Ia baru saja menerima kabar gembira. Pameran terakhir yang menampilkan pop art dengan kreasi ilusi di Avanthai Gallery, Swiss, Agustus lalu, terjual habis.  (more…)

Read Full Post »

Aji Rasa

jais darga


Percaya diri membuat perempuan tampak seksi! Percaya diri berarti berwawasan, berpengetahuan, berbahagia, dan menjaga kecantikan yang diberikan Tuhan.

Membuka halaman demi halaman kehidupan Jais Darga, kita seperti dibawa dalam sebuah petualangan yang seru juga menegangkan. “Bila aku sekarang meraih semua mimpi, setidaknya kamu mengerti bahwa jalan ini tidak pendek.  Penuh liku. Ada luka. Tapi aku selalu  memandang kehidupan dengan sisi optimis dan kerja yang sangat keras. Hanya kita sendiri yang mengerti makna bahagia, dan kitalah yang harus mewujudkannya,” katanya ketika ia akhirnya menyelesaikan wawancaranya dengan dewi. Jais, art dealer perempuan pertama di Indonesia, kini sudah berhasil “menaklukkan” kubu-kubu seni di Paris dan New York.

Sebuah meja dengan dua tempat duduk. Rokok. Segelas black coffee dan minuman capriosca adalah teman bercerita yang menyenangkan bersamanya. Suasana cozy dan nyaman di Grand Café, Grand Hyatt Jakarta kian mengalirkan hawa akrab malam itu. Sesekali ia menyapa beberapa orang yang dikenalnya. Namun memang tak mudah untuk masuk dalam relung hati terdalamnya, terutama bila menyangkut kisah lara yang akhirnya berpengaruh dalam jalan hidupnya. Ia lebih suka bicara tentang hal-hal yang menggembirakan, termasuk keperkasaan saat menaklukkan tantangan. “Hidup sudah sulit jangan lagi dipersulit. Buatlah ringan seperti makan kerupuk,”katanya. (more…)

Read Full Post »

Bersiaplah menuju dunia imajinasi Louis Vuitton: Passion for Creation yang membuka pandangan baru seni kontemporer tentang sebuah kolaborasi.

cao fei

cao fei

Ketika label Louis Vuitton pertama kali berdiri, mereka memposisikan dirinya sebagai the art of travel.  Barangkali para pendiri Louis Vuitton sudah berpikir panjang mengenai istilah ini. Buktinya, hingga kini, label asal Perancis ini masih tetap berjaya di tengah persaingan dunia citra yang luar biasa. Travel di sini akhirnya berkembang tidak hanya sekadar perjalanan, tapi juga petualangan. Nah, petualangan itulah yang tampaknya ingin dibagi bersama masyarakat, setelah 150 berkarya, hidup berdampingan dan saling menguntungkan.

Apabila kali ini mereka membawa sebuah petualangan dan pengalaman seni, tentu hal itu bukan hal yang berlebihan. Seperti diungkapkan Marc Jacobs pada media, ”Louis Vuitton adalah kemewahan, seni adalah kemewahan –persamaan konsep itulah yang menjadi landasan kolaborasi menjadi tercipta karenanya.” Ide ini kemudian mendapat tempat ketika datang sepucuk undangan dari French May Festival – yakni ajang kebudayaan tahunan setiap musim semi di Hongkong. Louis Vuitton pun lantas mendedikasikan Foundation Louis Vuitton pour la Creation untuk berpartisipasi melalui sebuah pameran akbar seni dengan tajuk Louis Vuitton: Passion for Creation. (more…)

Read Full Post »

Tafsir Portrait
Indra Leonardi

Karya dan pribadinya begitu sejiwa. Karena itu, imajinasi menjadi sangat penting saat menerobos semesta Indra yang sesungguhnya.

indra leonardi
indra leonardi

Indra Leonardi hampir saja beranjak pulang ketika ia melihat Joseph Estrada dengan pakaian kebesarannya turun dari tangga. Seluruh perlengkapan fotografi yang sudah dimasukkan dalam tas-tas dengan rapi -karena awalnya dibatalkan– dengan sigap dibongkar, dan dibentuknya lagi sebuah studio mini. Semua serba kilat. Sekilat ia kembali membangunkan imajinasi, mood dan juga energinya yang sudah hampir habis karena menunggu, menunggu dan akhirnya memotret istri Estrada yang sesungguhnya tak ada di jadwalnya.

Foto yang dibuat secara cepat itu menjadi foto kenegaraan yang dipasang di istana Malacanang di kemudian hari. Seselip rasa kebanggaan muncul meski hanya sekejap dirasa. Beberapa tahun kemudian, berbarengan dengan kudeta berdarah yang terjadi disana, foto yang menjadi lambang supremasi kekuasaan itu diinjak-injak dan dibakar massa secara kejam. “Sedih juga. Di tivi aku melihat orang-orang kalap merusaknya..,”Indra mengenangkan sepenggal kisah dalam hidupnya sebagai seorang fotografer potret. (more…)

Read Full Post »

Percakapan di Atas Kanvas

I Nyoman Masriadi

 

Percakapan di atas kanvas

Percakapan di atas kanvas

 

 

 

 

 

Di balik kesederhanaan dan kediaman sikapnya, tersimpan sebuah kecerdasan langka seorang seniman

 

 

 

Rumah berpagar tinggi di tengah sawah pinggiran kota Yogyakarta itu seolah menandai kediaman I Nyoman Masriadi (1973). Di sanalah, ia kini tinggal bersama istrinya, Anna, dan dua anaknya, menikmati suasana yang nyaman dan damai. Sejuknya air kolam renang, pohon kamboja kuning berbunga rimbun, rerumputan hijau, serta Merajan (pura kecil) yang terdapat di halaman teras belakang, menghantarkan suasana Bali, asal pelukis kontemporer yang namanya kini tengah menjadi pembicaraan berbagai balai lelang internasional.

Seniman muda ini baru saja diprofilkan majalah Sotheby’s International Previeuw sebagai salah satu top master dan seniman kontemporer di dunia. Salah satu karyanya, Jago Kandang, masuk dalam rangking pertama Sotheby’s Top Ten Contemporary South East Asian Painting versi Asian Contemporary Art and Culture Magazine, 2008. Dalam dua tahun ini, harga karyanya terus menembus angka-angka baru. Karya terakhirnya, Sudah Biasa Ditelanjangi, terlelang dengan harga cukup fantastis di balai lelang Christie’s International Hongkong beberapa waktu lalu. (more…)

Read Full Post »

« Newer Posts