Feeds:
Posts
Comments

Perempuan dalam Tari                                                                                     

Retno Maruti

Apakah pencarian identitas diri perempuan dalam karya-karya yang diciptakan adalah bagian dari luapan kegelisahan dirinya sendiri?

Di teras itu, Retno Maruti menari. Angin berdesir, menyentuh dedaunan pohon tinggi yang rindang, menggesekkan irama alam, membuat sepotong gerakan tarian itu menyatu dengan alam sekitarnya. Ia terus menari, seolah kilatan kamera yang mengambil gambarnya adalah bagian dari pementasannya. Siang terik terasa sejuk tepat di teras rumah kediaman Maruti di Jakarta Timur. “Maruti itu artinya angin,” kata Maruti, di sela-sela kesibukannya mempersiapkan pementasan bertajuk Sawitri di Gedung Kesenian Jakarta, akhir Mei.

Pementasan Sawitri  merupakan syukuran 35 tahun berdirinya Padnecwara, padepokan tari yang dipimpinnya. Berkisah tentang kesetiaan dan perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan cinta sejatinya – sebuah perjuangan yang mengingatkan pada diri Maruti. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan penuh keteguhan hati dan perjuangan, untuk meraih cintanya dalam dunia tari. “Menari adalah kebutuhan jiwa. Membuat fisik sehat juga perlu, tapi yang lebih penting, saya bisa merasa tenteram dan damai ketika menari,” ia memberi alasan. Senyum membayangi wajahnya. Continue Reading »

Pesan dari Sehelai Kain

Okke Hatta Rajasa

okke hatta rajasa

Seperti perajin yang menenun dengan segenap  hati dan rasa, maka seperti itulah ia memberikan jiwa pada sesuatu yang dicinta

 

Perkembangan tenun Indonesia yang semakin gemerlap dalam dunia fashion tahun belakangan ini rasanya agak sulit dipisahkan dari sebuah nama: Cita Tenun Indonesia (CTI). Organisasi para pecinta tenun untuk melestarikan dan sekaligus memasarkan tenun Indonesia ini telah membuat produk tenun menjadi the new lifestyle. Kegemilangannya bahkan sudah melebar hingga ke manca negara. Dan di balik segala keberhasilan, ada jerih payah Okke Hatta Rajasa, Ketua CTI, untuk mewujudkan mimpi: tenun go internasional.

Begitulah. Okke dan CTI  tidak hanya memikirkan tenun menjadi lebih berkilau, namun juga menyentuh persoalan yang lebih esensial: berbagi pengetahuan dan wawasan, sekaligus pemberdayaan perempuan dan masyarakat perajin.  Memecahkan kebuntuan pada tenun yang awalnya hanya dipakai dalam acara adat dan formal. Sebagaimana diketahui, sebelum CTI lahir pada tahun 2008, tenun berada dalam kondisi suram diakibatkan oleh berbagai keterbatasan. CTI mempertemukan dan menjembatani antara pengguna dengan perajinnya, antara produksi dan pasar. Hasilnya Anda bisa lihat  tenun menjadi demikian seksi, seperti dalam pergelaran CTI di Jakarta Fashion Week lalu. Continue Reading »

Yang Berdiam di Dalam Kanvas                                                                                 Julius Ariadhitya Pramuhendra

pramuhendra

Pada setiap karya, ia selipkan sebuah cerita untuk seseorang yang tak pernah ada dalam kanvasnya

Julius Ariadhitya Pramuhendra adalah sebuah nama yang menjadi bahan perbincangan sepanjang 2010 dalam dunia senirupa Indonesia. Karya instalasi Ashes to Ashes yang digelar dalam Hong Kong Art Fair 2010 banyak mencuri perhatian. Di tengah pergulatan warna dan tema berbagai kreasi seni yang tampil dari berbagai galeri besar dunia, ia muncul dengan warna monokromatik hitam putih. Instalasi itu terdiri dari sebuah drawing foto realis, sebuah meja dan jam dinding terbakar. Dalam drawing, tampak sang seniman beserta keluarganya menikmati perjamuan makan yang mengingatkan pada lukisan Leonardo da Vinci, Last Supper.

Kekuatan karya dan kemampuan teknis yang dibawanya pada saat itu sempat membuat namanya disebut-sebut sebagai calon terkuat penerima penghargaan seniman pendatang baru terbaik. Sayangnya, kesempatan itu belum tiba. Meski demikian, beberapa galeri internasional melirik potensi pria yang baru genap berusia 27 tahun pada 13 Agustus itu. Paling tidak, sebuah pameran tunggal telah disiapkan di Taipei pertengahan tahun ini.  Ia juga menyiapkan satu pameran tunggal istimewa yg masih dirahasiakannya. Setelah itu, sebuah pameran tunggal istimewa yang masih dirahasiakan di Indonesia sudah menanti. “Tunggu tanggal mainnya, akan banyak kejutan!,” Hendra, sapaan akrab Pramuhendra, mencoba berahasia. Continue Reading »

Mercusuar Keberanian

Yenti Garnasih

yenti garnasih

Saya tidak bicara uang, tapi kehormatan. Bukan soal kekayaan, tetapi keadilan

Perempuan yang berjuang dalam dunia pidana kejahatan pencucian uang itu bernama Dr. Yenti Garnasih SH,MH. Ia adalah doktor pidana pencucian uang (PU) pertama di Indonesia yang belakangan ini menjadi primadona, khususnya ketika berbagai kasus korupsi besar-besaran terasa menguap begitu saja. Salah satu perjuangan yang berhasil mendapat pengakuan adalah ketika ia memaksa majelis hakim untuk menerapkan pembuktian terbalik kepada bekas pejabat pajak Bahasyim Assifie. Bahasyim harus bisa membuktikan bahwa dugaan PU sebesar Rp.932 Miliar adalah tidak benar.

Selama ini pembuktian terbalik banyak dihindari oleh para penegak hukum dengan berbagai alasan. Padahal ia yakin, hal tersebut sangat bisa dilakukan. Untuk itu, dengan bekal pengetahuan dan keahliannya dalam PU, ia pun berhadapan dan berusaha meyakinkan dewan majelis hakim, jaksa, dan 7 anggota tim dari OC Kaligis- yang kebetulan semua berjenis kelamin pria. “Yang penting bagi saya adalah bisa mewakili keadilan masyarakat. Kegalauan masyarakat. Ketika dakwaan tidak bisa meyakinkan hakim, sementara dengan kasat mata masyarakat tahu,”ucapnya. Ia prihatin dengan pandangan internasional tentang praktek sistem peradilan di Indonesia, yang  bahkan pernah terburuk nomor 2 di dunia. Continue Reading »

Suara Lain

Kekuatan dalam menghadapi kehidupan dibangkitkan dari semangat yang terus membara dalam dirinya

Pertemuan ini terjadi pada situasi ketika jutaan mata menatap pada perkembangan kasus dugaan korupsi yang menimpa salah satu hakim Mahkamah Konstitusi (MK). Risikonya mudah ditebak. Birokrasi menjadi lebih berbelit sehingga memerlukan ekstra waktu dan kesabaran, untuk bisa bertemu salah satu hakim agung, satu-satunya perempuan, Prof. Dr. Maria Farida Indrati S.H, M. H. Namun untunglah, situasi ini berubah seratus persen ketika bertemu Maria di ruang kantornya yang dingin dan sunyi di lantai 13 gedung MK Jumat siang itu. Ia menyapa hangat dan bersahaja. Busana biru tua dengan perhiasan mutiara.

“Saya baik-baik saja di sini, meski banyak sorotan ditujukan pada tempat saya bekerja,” ujarnya membuka pembicaraan. Nada suaranya menenangkan. Meski kemudian muncul pengakuannya. “Memang ada perasaan limbung pada hari-hari pertama, aduh saya mau kerja apa, karena semua ribut, ada Tim Investigasi. Padahal kalau ketemu kami sering bercanda,” ungkap Maria yang baru dua tahun terakhir menjadi Hakim Konstitusi.  Tapi sekarang, tuturnya, tiada lagi beban itu. “Biasa, masing-masing media punya versinya sendiri.” Continue Reading »

Antony Liu

Bunker Kenyamanan

antony liu

Memainkan emosi, memainkan imajinasi. Itulah hal yang selalu ingin ditaklukkannya

Sejurus mata memandang adalah hamparan hijau rumput dan pepohonan. Di sela-sela hehijau rumput ada batuan putih membentuk aksentuasi seperti salju meleleh pada awal musim semi. Angin sepoi semilir, menggesek dedaunan, memberi irama tersendiri di samping suara hewan pengerat yang sore itu sudah bekerja keras. Suasana sore kian sejuk, menghapus dua jam perjalanan penuh kemacetan hari Jumat dari Jakarta menuju studio TonTon, Gading Serpong, Tangerang. Segelas es teh dan roti isi daging di atas meja kayu panjang melengkapi pertemuan dengan Antony Liu, 43 tahun, arsitek yang namanya selalu menjadi langganan penghargaan desain arsitektur di Indonesia, IAI Award.

“Desain arsitektur tidak cukup hanya dilihat atau diceritakan. Tapi harus dialami,” Antony memberikan penjelasan mengapa wawancara harus dilangsungkan di studio dan rumah tinggalnya yang terletak hanya beberapa ratus meter. Dan apa yang dikatakannya benar. Segala hal yang tertulis atau tergambar dalam media-media yang pernah menuliskannya tidak bisa mewakili perasaan dan kenyataan saat memasuki studionya – seperti terlukis di atas-, maupun suasana rumah tinggalnya yang bernama Bea House yang mendapat pujian IAI Award 2009. Continue Reading »

Menjemput Impian

Ia mengolah buncah keinginan dan harapan yang terpendam dalam kesabaran

 

Suara jengkerik dan hewan pengerat menjadi orkestrasi malam di “ruang kerja” Atilah Soeryadjaya. Sebuah meja kayu panjang ditutup dengan kain batik motif lama ditemani vas berisi bunga sedap malam yang wanginya terus menguar sepanjang percakapan. Sejurus pandang menatap lepas ke taman tempat pohon-pohon tinggi berdekatan kolam renang. Aroma rumput basah sesekali terbawa desir angin bersamaan dengan gemericik air kolam. Suasana terasa hening, khusuk, dan meditatif. “Di sinilah, saya mencipta Matah Ati,” ia membuka pembicaraan. Matanya berbinar. Ada kebahagiaan, ada kebanggaan.

 

Di atas meja terletak bermacam media yang memberitakan kesuksesan pergelaran perdana Matah Ati pada Pesta Raya Malay, Festival of Art, di Theater Hall, Esplanade, Singapura, Oktober lalu. Dalam pertunjukan keliling dunia tersebut, Atilah bertindak sebagai konseptor, penulis naskah, penata kostum, sutradara, sekaligus produsernya. Banyak pengamat seni lokal dan asing memberikan apresiasi positif terhadap garapan Atilah yang dianggap memberikan angin segar dalam seni pertunjukan Indonesia. Ia mementaskan Langendriyan, yakni perpaduan seni drama dan tarian khas Kraton Mangkunegaran, Solo. Sebentar lagi, Matah Ati akan segera pentas di Kuala Lumpur, Hongkong, Beijing, dan beberapa Negara Eropa di sepanjang tahun 2011. “Yang terpenting, kesuksesan ini terjadi berkat energi seluruh tim yang menyatu dan inilah hasil karya kita bersama,” ia menegaskan. Continue Reading »

Ario Bayu

Sang Petualang


Dunia acting menjadi pelengkap petualangan kehidupan yang selalu diciptakannya

Penuh kontradiktif. Perasaan itu muncul sesaat setelah melihat penampilan Ario Bayu Wicaksono pagi itu. Wajahnya segar. Rambutnya yang habis dipotong cepak masih sedikit basah. Tubuhnya tinggi dan berisi dengan tatapan mata tajam di bawah alis tebalnya. Lalu kemanakah si Amir yang homoseksual tulen yang diperankan oleh Bayu (nama akrab Ario Bayu) dengan sangat luget dalam pementasan drama musical Onrop! itu? Sebaliknya, ia memperkenalkan diri dengan gestur tubuh yang tegap bak polisi. Sisi maskulinitas tampak menonjol pada dirinya. Sedang beraktingkah dia sekarang?

Bayu tersenyum menanggapi keraguan itu. Bukan yang pertama ia memerankan pria homoseksual. Sebelumnya, ia berperan serupa di film Pesan dari Surga dan Kala yang disutradarai Joko Anwar. “Saya senang sekali kalau kelelakian saya dipertanyakan. Ini artinya saya berhasil memerankan dia,”ujarnya diplomatis, matanya menatap tajam. Suara musik jazz kembali mengalun di restoran tempat pertemuan. Suasana terasa seperti sebuah penggalan adegan drama ketika seorang tokoh lelaki meyakinkan kekuatan cinta pada kekasihnya. Apalagi kemudian terlihat ia menghembuskan asap rokoknya dengan mendongakkan kepalanya. Membiarkan suasana lengang. Seperti sedang berpikir. Continue Reading »

Sketsa Perjalanan


“Suatu hari, saya terbangun dan menjadi seniman.” Pramuhendra (26) tersenyum, mengerjap-ngerjapkan matanya yang indah, menggali kenangan atas perjalanan kreativitasnya hingga kini. Di sisinya, tergeletak kanvas besar berisi sosok diri dan keluarganya yang digambar dengan menggunakan arang, sebuah cara sederhana tapi meninggalkan pesona luar biasa, dan menjadi salah satu kekuatan berkaryanya. “Arang sangat filosofis. Semua akan kembali ke debu. Memori seperti debu. Suatu saat akan hilang. Hitam dan putih, dan di situlah dibutuhkan satu lapis imajinasi,” ia bertutur. Di sana, ada sentuhan dramatik dibangun. Gelap dan terang. Akting. Naskah. Penyutradaraan. Sebelum akhirnya jemari menggarapnya. Continue Reading »

Mari Kuayun Tubuhmu dengan Sarungku

 

Dengarkan percakapan tubuh dengan sarung dalam pameran Teguh Ostenrik kali ini

Sosok-sosok tubuh dari besi bekas berjajar sepanjang ruang di Jakarta Art Distrik, Grand Indonesia, awal November lalu. Mereka seolah menggeliat, bergerak, acap terasa pasrah, namun dalam gestur amat indah bak menari dengan kain sarung yang tak hendak melepaskan dari dari tubuh yang diikuti. Pemandangan ini masih dikuatkan oleh sosok yang tertoreh di atas kanvas, menyatakan hal serupa. Suasana sedikit mengintimidasi di sini, di pameran tunggal Teguh Ostenrik berjudul Sarong, Identity?, dikuratori oleh Jean Couteau, yang diselenggarakan oleh Semarang Gallery.

 

“Belajarlah dari puisi,” ucap Teguh Ostenrik menanggapi kuratorial yang menyatakan bahwa berbagai karya tersebut bercerita mengenai metafor pemberontakan yang dilakukannya. Seperti terlihat nyata, sosok-sosok yang dibangkitkan Teguh terasa berada dalam situasi dialog dengan sarung-sarungnya dalam media tiga dimensi dari bahan besi bekas maupun di atas kanvas. Continue Reading »