Feeds:
Posts
Comments

Kompromi dalam Dunia Tanpa Kompromi

aditya novali

Keuletan dalam menghadapi tantangan dengan damai telah mengisi dan memperkaya kreativitasnya

 

Nama Aditya Novali meramaikan cerita dalam dunia seni kontemporer Indonesia. Dua pameran tunggal yang digelar di dua tempat berbeda dalam dua tahun terakhir ternyata cukup menarik perhatian khalayak. Banyak pecinta seni yang mengungkapkan bahwa ide karya yang dibawanya segar dan kontekstual, diramu dalam sebuah kreasi yang menyenangkan, seolah siap dimainkan dan diapresiasi oleh siapapun. Karya bukan dibuat hanya untuk segelintir manusia, atau usia. Isu interdisipliner sangat terasakan di dalamnya.

Pada pameran Indoscape: A “Geo-History” di Canna Gallery Jakarta, 2011, ia membuat kreasi berupa peta Indonesia yang dibuat dari beberapa elemen seperti lilin yang kemudian dilelehkan atau batang logam di dalam akuarium air. Karya yang mengingatkan kondisi (perpecahan) geografi Indonesia itu dikemas dalam bentuk menarik tanpa meninggalkan unsur kontemplatif dan fun.  Demikian pula pada The Wall: Asian (un) Real Estate Project, Project Stage for Artstage 2012 di Singapura, Januari lalu. Ia memunculkan partisi berbentuk apartemen mungil yang bisa diputar-putar, masing-masing ruang bercerita, sekaligus mengingatkan pada konsep hybrid. Continue Reading »

Bukan Sekadar Penjaga Malam

harkristuti harkrisnowo

Akankah ia mampu memberi kontribusi atas segala hal yang disandangnya? Pertanyaan itulah yang terus mengisi dan memotivasi perjalanan hidupnya kini.

 

Waktu belum menunjukkan pukul delapan pagi. Direktur Jendral Hak Asasi Manusia (Dirjen HAM), Prof. Harkristuti Harkrisnowo, SH, MA, Ph.D (55) sudah duduk di ruang kerja. Di atas meja, setumpuk laporan dibaca dengan detail sehingga tugasnya untuk memberikan rekomendasi kepada Menteri Hukum dan HAM bisa dilaksanakan dengan baik. “Ayahku tentara. Sejak kecil saya dididik disiplin, bangun pagi, memulai kerja pagi,” Guru Besar hukum pidana Universitas Indonesia (UI), yang juga doktor pertama di bidang Criminal Justice di Indonesia, memulai pembicaraan. Wajahnya segar, nada suaranya riang.

Belakangan ini aktivitas Tuti, nama panggilan Harkristuti, meningkat tajam. Persoalan HAM sedang banyak dibicarakan, mulai dari kasus besar seperti Mesuji, Bima, hingga perempuan yang tidak bisa menimang bayinya karena tak sanggup membayar biaya persalinan. Khususnya terhadap kasus-kasus konflik yang bernuansa kekerasan amat meresahkan pikirannya. “Saya baru menyadari dampak yang luar biasa dari sebuah kasus kekerasan ketika diwawancarai Los Angeles Time akhir tahun 1990-an. Ternyata dunia internasional melihat kita sebagai suatu bangsa yang tidak punya hati nurani. Itu sebabnya, kita tidak boleh anggap kecil sebuah kasus, meski yang terluka hanya satu orang.” Continue Reading »

Jejak Masa Depan

rezal kusumaatmadja

Dalam kehidupan personal yang amat linier, ia perlu wadah untuk mengembangkan keliaran ide dan gagasan-gagasannya

Rezal Kusumaatmadja benar-benar membawa hawa segar. Pandangan bahwa lingkungan dan sosial akan menjadi bagian integral dari sebuah bisnis akhirnya terbuktikan. Salah satu terobosan terbesar yang dilakukan adalah Carbon Trading (perdagangan karbon) dan Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD), di mana ia berhasil mengubah pola pikir proyek konservasi hutan yang biasanya dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan pemerintah dan bersifat non-profit, menjadi sebuah bisnis besar, profesional, dan tentu saja berorientasi profit. Prestasi itu menghantarkannya sebagai finalis Ernst and Young Social Entrepreneur Award tahun 2010.

Dalam berbagai forum lingkungan internasional, Rezal sering diminta tampil sebagai pembicara. Misalnya saja di UN Forum on Forest (UNFF) dan Pasar Karbon Asia. Ia juga berdiri sebagai anggota komite standar internasional untuk REDD + Social and Environmental Standards (SES) selain menjadi anggota dewan penasehat di beberapa lembaga internasional.  Saat ini, bersama dengan Dharsono Hartono, teman kuliahnya di Cornell, ia memimpin Proyek Konservasi Gambut Katingan di Kalimantan Tengah, yakni proyek restorasi ekosistem seluas 200 ribu hektar hutan gambut. Proyek konservasi lingkungan swasta terbesar di Indonesia ini mendapat sorotan dunia internasional karena wilayah konservasinya mencapai 3 kali lipat luas wilayah Singapura. Continue Reading »

Terbang Bersama Mimpi                                                                             Connie Rahakundini Bakrie

Ia membebaskan diri dan pikiran-pikiran kritisnya melalui dunia pertahanan yang justru sangat penuh dengan aturan

connie rahakundini bakrie

 

“Are you happily married?” .

Kalimat itu disampaikan dengan nada tegas oleh Jendral bintang tiga Dinas Intelijen Israel (Mossad), Shlomo Gazit, di salah satu ruang di kantor di suatu sudut di Ramat Aviv, Tel Aviv, Israel. Perempuan yang duduk di kursi itu sedikit terhenyak. Suasana tegang menyelimuti. Di depannya  berdiri sosok dengan wajah dingin dan sedikit sombong. Tentu pertanyaan ini datang dari curriculum vitae yang menyebutkan nama suami yang juga seorang jendral di Indonesia, perempuan itu berkata pada dirinya sendiri. Namun, tiba-tiba muncul keberanian. “Maaf, apa maksud Anda menanyakan hal-hal yang sifatnya sangat pribadi?,”perempuan bersuara berat bernama Connie Rahakundini Bakrie itu kembali mempertanyakan.

Di lounge de Café, Mulia Hotel, Connie, 47 tahun, tersenyum mengenang kejadian yang pernah dialami beberapa tahun lalu kala ia sedang berada dalam suatu pertemuan wawancara untuk disertasi, The State Power – The Military element of The State Development. Shlomo Gazit duduk sebagai mantan ketua Amman (lembaga intelijen) di negara yang tak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia itu adalah salah satu sumber yang diwawancarai. Connie sendiri adalah peneliti di INSS (Institute of National Security Studies), Tel Aviv, Israel. Saat ini, ia lebih dikenal sebagai pengamat pertahanan yang namanya dipertimbangkan di dalam dan luar negeri. Continue Reading »

Tosca Santoso

Belantara Cinta

Ia membiarkan keliaran pikirannya tumbuh dan terus membesar. Sebab hanya dalam belantara dan menjadi liyan, ia menemukan dirinya sendiri.

tosca santoso

 

Apakah perlu waktu untuk mengenal Tosca Santoso? Pada pertemuan pertama di sebuah kafe pagi menjelang siang, sikapnya amat formal, sedikit kaku, dan terasa benar sedang menimbang kemampuan orang yang diajak bicara. Setiap pertanyaan dijawab seperlunya. Suasana ini agak berbeda dengan gaya menulisnya yang luwes dan romantis di note-note yang dipasang di laman-laman facebook-nya. Namun untunglah, situasi kaku ini lekas terpecahkan manakala ia berada di ruang siar KBR68H. Ia bisa tertawa lepas. Tak ada beban. Ia banyak bercerita tentang hutan, novel yang ingin segera diselesaikan, serta kisah Tan Malaka. Rupanya ia butuh bicara hal-hal di luar rutinitasnya: radio dan segala prestasi-prestasi bisnisnya. Continue Reading »

Waldjinah

Gincu Merah Waldjinah

Bahkan sebuah keberuntungan tidak instan. Ada perjalanan panjang yang telah menyertainya jauh-jauh hari ke belakang

waldjinah

Waldjinah tak pernah berubah. Ia masih terlihat kenes dalam balutan kebaya kutu baru dan sanggulnya. Polesan kosmetik masih saja menunjukkan pamornya yang demikian kuat. Hingga kini nama dan citranya masih tetap sama: Ratu Keroncong Indonesia. Sulit untuk memunculkan nama yang bisa menyamai popularitasnya dalam dunia keroncong dan langgam di Indonesia. Nama Waldjinah selalu disebut yang pertama. Selalu. Meski dekade demi dekade telah berlalu.

Dalam beberapa pertemuan, dan khususnya ketika ia mengisi sesi pergelaran Anne Avantie di Kraton Susuhunan Solo akhir Mei lalu, suara dan penampilannya masih tetap juara. Bila berubah hanyalah petanda usia. Ia tetap ramah dan rendah hati kendati bintangnya sudah terang sedemikian lama dan abadi. Saat ditemui di kediamannya di Solo, ia sudah berdandan seperti siap pentas, meski menggunakan daster kesayangan, seolah menegaskan bahwa gaya dandanan itulah ikon dirinya. Continue Reading »

Tri Mumpuni

Kebahagiaan Sejati

tri mumpuni

Senyuman mereka itu bahkan lebih berharga dari sekadar angka trilyunan rupiah

Tak pernah menyerah. Kalimat itu ditandaskan oleh Tri Mumpuni pada sebuah surel yang dikirim menjelang diri hari untuk menggambarkan dirinya sendiri. Rasa tanggung jawab terhadap keberlangsungan wawancara yang hanya sempat terjadi dalam perjalanan dari Hotel ShangriLa menuju rumahnya membuat ia rela menggunakan waktu malam untuk menjawab berbagai macam pertanyaan. Aktivitasnya belakangan ini kian padat. Puni, nama panggilan Tri Mumpuni, pengusaha sosial, penerima penghargaan Ramon Magsasay (2011), Climate Hero 2005 dari World Wildlife Fund for Nature, dan satu-satunya pengusaha yang dipuji Presiden Barack Obama ketika berkunjung ke Indonesia.

Segala penghargaan diterima Puni dengan sikap yang selalu bersahaja. Meski banyak melakukan pertemuan-pertemuan dengan tokoh dunia seperti Madeline Albright (menteri luar negeri Amerika Serikat) dan pertemuan tingkat tinggi dunia lainnya di berbagai negara, tak ada yang berubah pada penampilan maupun gayahidupnya. Ia tetap saja rendah hati. Hangat. Akrab. Tapi soal keluarga, ia masih tetap menomorsatukannya. Itu sebabnya, pertemuan mendadak dipersingkat karena suaminya, Iskandar Budisaroso Kuntoadji, bersamaan pulang dari Rwanda. “Saya sudah dua minggu tak bertemu Mas Is. Kami harus buka puasa di rumah,”ujarnya sembari meminta maaf. Continue Reading »