Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Petualang Kehidupan                                                                              

 kemal jufri

Passion itulah yang membuat saya selalu kembali, dan kembali…  

Perjumpaan dengan Kemal Jufri terjadi pada sebuah senja di Anomali Coffee, Setiabudi Building, Jakarta. Ia duduk di dekat kaca, menghadap  jalan raya dan gedung-gedung tinggi di seberangnya, lalu bercerita tentang pengalaman hidupnya sebagai jurnalis foto dengan amat ekspresif. Setiap foto yang dibuatnya adalah cerita panjang yang sangat personal, dibuat dengan sepenuh jiwa dan mata hatinya. Tak berlebihan kiranya bila tahun ini ia mendapat juara ke dua World Press Photo (kategori People in The News Stories), penghargaan dalam tiga kategori dari Picture of The Year International – semacam World Press Photo versi Amerika, serta China International Photo Contest yang memberikan Gold Prize. Ia adalah jurnalis foto pertama Indonesia yang meraih penghargaan tertinggi untuk fotografi jurnalistik itu.

Kemal terlihat menawan dengan kemeja biru tua yang berpadu celana kargo khaki. Dari salah satu sakunya, ia mengeluarkan Krama, syal kotak-kotak khas Kamboja, benda yang amat berguna untuk melindunginya dari berbagai kendala cuaca. “Karena saya bekerja dalam suasana ekstrim, saya perlu menyiapkan busana kerja yang berteknologi quick-dry, celana berkantung-kantung, serta sepatu nyaman yang juga berteknologi tinggi,” katanya. Jika ia dianggap punya “taste” jurnalistik baik, demikian pula dalam penampilan. “Bukan soal modis, hanya segala hal ini membantu saya dalam bekerja dengan nyaman,” elaknya. (more…)

Read Full Post »

Pesan dari Sehelai Kain

Okke Hatta Rajasa

okke hatta rajasa

Seperti perajin yang menenun dengan segenap  hati dan rasa, maka seperti itulah ia memberikan jiwa pada sesuatu yang dicinta

 

Perkembangan tenun Indonesia yang semakin gemerlap dalam dunia fashion tahun belakangan ini rasanya agak sulit dipisahkan dari sebuah nama: Cita Tenun Indonesia (CTI). Organisasi para pecinta tenun untuk melestarikan dan sekaligus memasarkan tenun Indonesia ini telah membuat produk tenun menjadi the new lifestyle. Kegemilangannya bahkan sudah melebar hingga ke manca negara. Dan di balik segala keberhasilan, ada jerih payah Okke Hatta Rajasa, Ketua CTI, untuk mewujudkan mimpi: tenun go internasional.

Begitulah. Okke dan CTI  tidak hanya memikirkan tenun menjadi lebih berkilau, namun juga menyentuh persoalan yang lebih esensial: berbagi pengetahuan dan wawasan, sekaligus pemberdayaan perempuan dan masyarakat perajin.  Memecahkan kebuntuan pada tenun yang awalnya hanya dipakai dalam acara adat dan formal. Sebagaimana diketahui, sebelum CTI lahir pada tahun 2008, tenun berada dalam kondisi suram diakibatkan oleh berbagai keterbatasan. CTI mempertemukan dan menjembatani antara pengguna dengan perajinnya, antara produksi dan pasar. Hasilnya Anda bisa lihat  tenun menjadi demikian seksi, seperti dalam pergelaran CTI di Jakarta Fashion Week lalu. (more…)

Read Full Post »

Menjemput Impian

Ia mengolah buncah keinginan dan harapan yang terpendam dalam kesabaran

 

Suara jengkerik dan hewan pengerat menjadi orkestrasi malam di “ruang kerja” Atilah Soeryadjaya. Sebuah meja kayu panjang ditutup dengan kain batik motif lama ditemani vas berisi bunga sedap malam yang wanginya terus menguar sepanjang percakapan. Sejurus pandang menatap lepas ke taman tempat pohon-pohon tinggi berdekatan kolam renang. Aroma rumput basah sesekali terbawa desir angin bersamaan dengan gemericik air kolam. Suasana terasa hening, khusuk, dan meditatif. “Di sinilah, saya mencipta Matah Ati,” ia membuka pembicaraan. Matanya berbinar. Ada kebahagiaan, ada kebanggaan.

 

Di atas meja terletak bermacam media yang memberitakan kesuksesan pergelaran perdana Matah Ati pada Pesta Raya Malay, Festival of Art, di Theater Hall, Esplanade, Singapura, Oktober lalu. Dalam pertunjukan keliling dunia tersebut, Atilah bertindak sebagai konseptor, penulis naskah, penata kostum, sutradara, sekaligus produsernya. Banyak pengamat seni lokal dan asing memberikan apresiasi positif terhadap garapan Atilah yang dianggap memberikan angin segar dalam seni pertunjukan Indonesia. Ia mementaskan Langendriyan, yakni perpaduan seni drama dan tarian khas Kraton Mangkunegaran, Solo. Sebentar lagi, Matah Ati akan segera pentas di Kuala Lumpur, Hongkong, Beijing, dan beberapa Negara Eropa di sepanjang tahun 2011. “Yang terpenting, kesuksesan ini terjadi berkat energi seluruh tim yang menyatu dan inilah hasil karya kita bersama,” ia menegaskan. (more…)

Read Full Post »

Mari Kuayun Tubuhmu dengan Sarungku

 

Dengarkan percakapan tubuh dengan sarung dalam pameran Teguh Ostenrik kali ini

Sosok-sosok tubuh dari besi bekas berjajar sepanjang ruang di Jakarta Art Distrik, Grand Indonesia, awal November lalu. Mereka seolah menggeliat, bergerak, acap terasa pasrah, namun dalam gestur amat indah bak menari dengan kain sarung yang tak hendak melepaskan dari dari tubuh yang diikuti. Pemandangan ini masih dikuatkan oleh sosok yang tertoreh di atas kanvas, menyatakan hal serupa. Suasana sedikit mengintimidasi di sini, di pameran tunggal Teguh Ostenrik berjudul Sarong, Identity?, dikuratori oleh Jean Couteau, yang diselenggarakan oleh Semarang Gallery.

 

“Belajarlah dari puisi,” ucap Teguh Ostenrik menanggapi kuratorial yang menyatakan bahwa berbagai karya tersebut bercerita mengenai metafor pemberontakan yang dilakukannya. Seperti terlihat nyata, sosok-sosok yang dibangkitkan Teguh terasa berada dalam situasi dialog dengan sarung-sarungnya dalam media tiga dimensi dari bahan besi bekas maupun di atas kanvas. (more…)

Read Full Post »

Intermezzo Kehidupan

tatie wawo runtu

Di balik semua gemerlap cerita kesuksesan Sanur di mata internasional, ada tangan-tangan cekatan Tatie di balik segala detail dan  jamuan

Dari Tatie ke Tandjung Sari

Tandjung Sari Hotel awalnya adalah sebuah rumah liburan keluarga Wija Wawo Runtu yang saat itu masih beristrikan Judith. Bersama kelima anaknya, mereka  menikmati pemandangan laut dan indahnya pantai Sanur di awal tahun 1960. Rumah tersebut berubah menjadi penginapan ketika teman-teman dekat Wija merasakan tinggal di sana, dan memberikan inspirasi agar membangun bungalow yang bisa disewakan. Selanjutnya penginapan berkembang menjadi hotel dengan tetap bernuansa rumah. Dari mulut ke mulut hotel tersebut semakin dikenal, hingga dalam sebuah buku Architecture Bali: Birth of the Tropical Boutique Resort (Phillip Goad, Patrick Bingham-Hall), Tandjung Sari diklaim sebagai konsep butik hotel pertama di Asia Tenggara di tahun 1960-an.

Ketenaran hotel tersebut sampai mengundang aktor Hollywood John Wayne, Ingrid Bergman dengan suaminya Larst Smith, Ratu Ingrid dari Denmark, serta para Duta Besar Negara sahabat di era tahun 1960-an, yang saat itu belum terbentuk hotel. Menyusul kemudian beberapa musisi/penyanyi kondang asal Inggris seperti Mick Jagger dan David Bowie pernah menyempatkan menginap di sana. Saat itulah peran Tatie Wawo Runtu menyeruak. Tatie adalah perempuan yang dinikahi Wija setelah berpisah dengan Judith. (more…)

Read Full Post »

“Accupunto” Leonard Theosabrata

leonard theosabrata

Antara kepuasan ego dan pasar, antara fungsi dan artistik, antara hitam dan putih, ia memilih berada di antaranya.

Lagu Killing Me Softly berirama jazz mengalun lembut di butik Accupunto, Grand Indonesia, Jakarta  – mengawal pertemuan dengan desainer produk dan juga pemilik perusahaan, Leonard Theosabrata (33). Penampilannya segar, kendati mengenakan atasan hitam dengan detail unik dan celana panjang hitam yang begitu kontras dengan warna kulitnya. Kacamatanya bulat, bergagang. Rambutnya disisir artistik. Terasa benar ada gaya dan selera yang tinggi di balik penampilannya yang sederhana – mengingatkan pada desain produk-produk Accupunto yang modern, minimalis, tapi juga menyimpan sensualitas di balik detail lekukan kecil yang diciptakannya. (more…)

Read Full Post »

 

Mengenang Simbol Kejayaan

gusti mung

“Pilu rasa hati ketika menatap foto-foto lama yang terpasang di Keraton Surakarta”

 

Derai gerimis kecil mengantar pertemuan dengan Gusti Kanjeng Ratu Wandansari. Dahulu, kita mengenalnya sebagai Gusti Koes Murtiyah, dipanggil sebagai Gusti Mung, puteri mbalelo dari Keraton Surakarta Hadiningrat, karena kegigihan untuk membela tradisi yang seharusnya tetap dilestarikan di wilayah keraton. Suasana  tampak sedikit mendung di sepanjang perjalanan dari ruang pertemuan menuju kraton Surakarta, di mana ia lahir 48 tahun lalu. “Anda akan mengerti keindahan dan kekayaan perhiasan milik kraton Surakarta dari sini,” ia membuka pembicaraan.

 

Meski warnanya sudah mulai kusam, pintu gerbang kraton masih menyisakan kejayaan di masa lalu ketika bangunan itu didirikan pertama kali di tahun 1744 oleh Sri Susuhunan Pakubuwono II. Dua abdi dalem yang mengenakan kemeja dan celana panjang (bukan baju abdi dalem) tampak membungkuk dan memberikan hormat ketika Gusti Mung memasuki pintu kraton Kori Kamandungan. Sebagai Kanjeng Ratu – putri dari Sri Susuhunan Pakubuwono XII – Gusti Mung berjalan melenggang dengan kepala tegak untuk tetap menjaga wibawa. Lantas membawa dewi menelusuri tempat-tempat yang menjadi kesehariannya di masa lalu, sebelum akhirnya dipinang oleh kekasihnya, Eddy Wirabumi (Kanjeng Pangeran Arya Wirabhumi) (more…)

Read Full Post »

Nyanyi Sunyi Nasirun

nasirun

Maka kita akan mengerti mengapa Nasirun menikmati hidup dengan nyaman di kediamannya yang seperti surga untuknya. Karena di situlah ia terus “bertapa”

Maafkan. Kali ini Nasirun tak tertawa. Ia sedang bercerita tentang masa lampaunya. Ia bahkan lebih banyak diam. Suaranya serak. Kepulan asap rokoknya lebih banyak. Nafasnya memberat. Nasirun, seniman kontemporer yang juga sufi itu, tampak mempertimbangkan segala hal yang akan diungkapnya. Mungkin ini aib, ujarnya kemudian. Tapi dari peristiwa inilah segala perjalanan artistik kehidupan yang membentuk karakter dan kepribadiannya dimulai. “Mungkin saya punya selera humor. Slengekan. Tapi semua itu saya lakukan untuk menutup masa lampau saya. Saya tidak ingin merasa kecil ketika melihat orang besar, dan tidak merasa besar ketika melihat orang kecil.”

Baru kali ini melihat Nasirun tanpa tawanya yang khas, bebas, merdeka, yang tak pernah lepas dari dirinya. Sebaliknya, ia amat serius. Dahinya berkerut. Perbincangan ini terjadi di siang hari – waktu yang biasanya digunakan mengaso secara teratur – hanya dewi dan dirinya di kediamannya yang asri di Yogyakarta. Semalam, ia mengadakan pameran tunggal pelukis senior Soenarto PR, sebagai wujud baktinya pada senior-seniornya. Sementara itu, setelah menyelesaikan pameran tunggal dan akbar Salam Bekti akhir 2009 lalu, ia telah menyelesaikan 1200 karya kecil yang rencana dipamerkan menyambut ulang tahunnya ke empat puluh lima Oktober ini, serta 100 karya lainnya dalam satu tema. Saat ini beberapa karyanya sedang dipamerkan di Jakarta, Yogyakarta, dan Shanghai. (more…)

Read Full Post »

Membingkai Memori     

galam zulkifli

Begitu mudahnya ia membingkai rahasia banyak wajah dalam kehidupannya, tapi tidak untuk dirinya

Sebuah siang di bulan Juni menjadi saksi pertemuan. Galam Zulkifli memberikan sela waktunya yang padat untuk berbincang. Tapi tidak di kafe atau keramaian, ia meminta dewi datang di studionya tempat bekerja. Sebuah ruangan yang terasa lapang, tak banyak barang. Hanya ada rak buku besar yang tidak terisi penuh, karpet dengan sisa-sisa abu rokok yang menempel, serta gelas bening yang masih menyisakan ampas kopi. Bersandar pada dinding kosong, 3 kanvas berukuran 2 x 2 meter “berisi” wajah dengan ekspresi sangat kuat. Sorot-sorot matanya tajam dan hidup, seolah menatap siapa saja yang ada di depannya.

Di ruangan yang bernama Bale Black Box inilah Galam membangun karya-karya gemilangnya. Ia lanjutkan kesuksesan pameran di Swiss dengan kreasi terbaru berjudul Dark Side of The Earth vol.1-3. Karya sebesar 200 x 1400 cm tersebut dipamerkan di Ciputra Art World beberapa waktu lalu dan menuai puji karena teknik yang digunakan. Dalam satu kanvas ia membuat dua lukisan yang sama sekali berbeda bila diletakkan dalam cahaya dan tanpa cahaya. Eksperimen ini seperti mendebat pandangan modern mengenai perbedaan picture dan painting yang terletak pada konsep. Galam menunjukkannya juga pada cahaya. (more…)

Read Full Post »

Interaksi Dua Hati

 

 

runi palar

runi palar

 

Melayani dengan sepenuh hati tidak hanya membuat ia bahagia, namun juga merupakan kunci kesuksesannya

Setelah pukul delapan malam, situasi Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali terasa sepi. Hanya desah binatang malam seperti jengkerik memecah kesunyian. Atau sesekali terdengar desir angin yang mengusik dedaunan. Namun di sebuah rumah bergaya Bali itu musik klasik terus mengalun. Wangi bebungaan yang ditata rapi di setiap ruangan menyemarakkan suasana malam. Di sanalah, desainer perak ikonik Indonesia, Runi Palar, tinggal bersama suaminya, Adriaan Palar. “Rasanya seperti bulan madu terus,” Runi tersenyum, tersipu-sipu, mengawali pertemuan dengan Pesona awal Juli lalu. (more…)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »