Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘seniman’ Category

Seni Rumah Seniman

Nasirun

 

 

 

 

 

 

 

 

Kali ini, ijinkan saya berkelana menuju rumah-rumah seniman di Yogyakarta.  Bila selama ini saya banyak berhubungan dengan sosok pemiliknya, maka kini saya mengupas “rumah” di mana mereka tinggal dan berkarya selama ini. Namun jangan pernah dibayangkan bahwa saya akan bicara mengenai arsitektural, sebagaimana ulasan rumah-rumah yang ada. Apa yang saya sampaikan adalah mengenai rumah dari sisi “dalam”, yakni tentang sisi kehidupan penghuninya terhadap rumah sebagai sesuatu yang hidup (living concept), yang nyata, yang terasakan, yang memberi inspirasi.

Berbeda dengan konsep penghuni biasa –yang rata-rata hanya menghabiskan beberapa lama di rumah karena kesibukan di luar rumah – konsep rumah bagi seniman adalah sesuatu yang istimewa. Mereka hidup, berkarya, berkeluarga, dan bersosialiasi di tempat yang sama. Itulah hal yang menurut saya sangat unik dan menarik untuk dikaji lebih dalam.

Empat seniman yang kita angkat dalam angle ini memiliki popularitas di papan atas, memiliki genre yang berbeda satu sama lain, dan ternyata memiliki konsep yang berbeda satu sama lain.  Mereka adalah Nasirun, Entang Wiharso, Jumaldi Aldi, dan Galam Zulkifli.

Silakan menikmati..

(rustika herlambang)

terima kasih untuk Heri Pemad dan Rikki Zoel

Read Full Post »

Swargaloka Nasirun

Nasirun

Ia merasa bahwa rumah ibarat “mal” untuk dirinya. Segala hal yang diinginkan dan dicintainya ada di dalamnya. Sementara ia merasa tak butuh ponsel untuk berkomunikasi secara intensif. Toh rumahnya sudah terbuka untuk semua orang yang datang padanya. Justru  “langgar” yang sangat penting untuknya.  Ibarat sebuah ponsel yang menghubungkan dirinya dengan Tuhannya.

Nasirun, ah Nasirun… Tak ada yang bisa mengubah penampilan kesehariannya kecuali dirinya sendiri.Bahkan waktu puluhan tahun menimang gelimang kesuksesan material yang diperoleh dari karya-karya lukisannya, tak juga mempengaruhi gaya kesenimanannya.  Pemenang Philip Morris Award 1997 lebih nyaman dengan penampilan khasnya:  kaus T, celana pendek belel, dan sandal jepit. Janggutnya dipelintir rambut tebal bergelombangnya dibiarkan terurai, atau sesekali dikuncir. Suara tawanya masih tetap menggelegar. Ia juga tak pernah menginjakkan kakinya di mal dan bersikeras tak mau memiliki ponsel. (more…)

Read Full Post »

Mencari Tempat Menepi dan Untuk  Selalu Kembali

galam zulkifli

Hidup itu rumit, tapi seni menyederhanakan. Pikirannya rumit, rumah bergaya sedehana mengimbanginya.

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah rumah di tepi hamparan sawah, berpemandangan alam indah, menyepi, dan jauh dari keramaian tetangga sekitar. Itulah lokasi studio yang baru saja selesai dibangun Galam Zulkifli. “Kita bertemu di studio saja ya, karena studio itulah yang mewakili karakterku,” kata-katanya masih terngiang saat dewi menginjakkan kaki di desa Kasihan, Bantul, Yogyakarta beberapa saat lalu. Ia baru saja menerima kabar gembira. Pameran terakhir yang menampilkan pop art dengan kreasi ilusi di Avanthai Gallery, Swiss, Agustus lalu, terjual habis.  (more…)

Read Full Post »

Dua Sisi Jumaldi Alfi

Jumaldi Alfi

Ia percaya, rumah, sebagaimana lukisannya, adalah sebuah terapi personal. Karena itu ia butuh dua rumah tak terpisahkan untuk merepresentasikan keinginan bawah sadarnya.

Masuk dalam rumah Jumaldi Alfi, seperti masuk dalam karya yang dibuatnya. Ada selubung makna yang ia ingin sampaikan melalui rumah yang dibangunnya, seperti juga ia ingin memberikan cerita di dalam seluruh karya-karyanya.   “ Ada dua hal yang tak bisa terpisahkan saat bicara tentang rumahku. Rumah untuk keluargaku dan rumah untuk  studioku. Keduanya saling mendampingi. Tak terpisahkan satu sama lain.  Seperti otak kiri dan otak kanan,” ujar salah satu anggota kelompok Jendela yang kini karyanya laris manis di pasaran ini dengan mimik  serius.

Ia seperti ingin menghadirkan konklusi bahwa lukisan adalah terapi personal, begitu pula ketika ia menghadirkan dua rumah dalam hidupnya.  Meski saat ini, Alfi –sapaan akrabnya- juga tengah membangun pendopo dan museum seni di tanahnya yang lain. (more…)

Read Full Post »

Takashi Murakami, Passion for Creation

Takashi Murakami, Passion for Creation

Tuhan kadang memiliki rahasianya sendiri pada diri manusia. Kejadian yang kualami adalah merupakan dari kisah itu. Entah bagaimana muasalnya, aku merasa, sekali lagi aku merasa, pernah mendapatkan sebuah surat undangan yang berisi bahwa aku akan menuju ke Hong Kong untuk datang di sebuah acara di mana aku ada kesempatan untuk mewawancarai Takashi Murakami dan Frank Gehry. Sepulang dari Perth, tak ada pikiran lain kecuali melakukan riset habis-habisan untuk bisa bertemu dengan dua seniman besar dunia itu. (more…)

Read Full Post »

bunga-jeruk-2008-makan-hati-3-130x130-oc

bunga-jeruk-2008-selamat-jalan-sayang-1-2-45x45x100-resin

bunga-jeruk-2008-runaway-baby-150x150-oc

Sekadar Catatan:

Catatan ini terjadi ketika saya datang di pameran Bunga Jeruk yang bertajuk  “Just Bunga “.  Pameran ini menunjukkan berbagai karya terdepan dari seniman wanita muda kontemporer Indonesia, yang kelak akan memberi warna bagi masa depan seni Indonesia.

(more…)

Read Full Post »

Kepompong Kenyamanan

djenar maesa ayu

djenar maesa ayu

Kendati karyanya penuh pendobrakan, dalam keseharian ia ádalah orang yang enggan dengan perubahan

Djenar Maesa Ayu (36)  dalam keseharian adalah seorang ibu muda, beranak dua, berdaster batik ria saat di rumah, memasak, membersihkan rumah berlantai tiga dan mengurus anak-anaknya. Sendirian. Tidak ada pembantu, meski tinggal di rumah gedongan pinggiran Jakarta Barat. “Saat seperti inilah saya merasa “kaya”. Tanpa pembantu, saya bisa memaksimalkan peran saya sebagai ibu,” kata Djenar sambil menatap mesra wajah anak bungsunya, Bidari Maharani (8) yang terlelap di atas pangkuannya. Sulungnya, Banyu Bening (17), baru saja pamit untuk nonton basket dengan pacarnya, berbekal nasi dengan ayam goreng yang disiapkan Djenar sebelumnya. Inilah gambar suasana di rumah Djenar ketika dewi bertandang ke rumahnya sehari itu.

Di luar sana, eforia belum saja usai. Film perdananya “Mereka Bilang, Saya Monyet!” meraih prestasi sebagai film terbaik versi Majalah Tempo, juga mengukuhkannya sebagai tokoh seni 2008. Film yang diangkat dari judul buku kumpulan cerpen pertamanya ini sekaligus membuka kiprahnya di berbagai festival film internasional seperti Berlin Asian Hot Shots Film Festival  dan Singapore Film Festival. Keberhasilan ini seolah melanjutkan berbagai prestasi yang diperoleh dari kumpulan cerpen dan novelnya yang lain, seperti “Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), “Nayla”, “Cerita Pendek tentang Cerita Pendek”, yang berhasil meraih penghargaan dari Khatulistiwa Literary Award. Karya-karyanya banyak dibicarakan karena keberaniannya dalam menyuarakan problem seksualitas dalam diri manusia.

Dua belas tahun lalu, sebelum ia memiliki hasrat untuk menulis, ia tak lebih dari seorang ibu rumah tangga biasa. (more…)

Read Full Post »

Tarian Kehidupan

eko supriyanto

eko supriyanto

Waktu kecil dianggap sebagai kerikil.  Kini dia telah tumbuh dan bermetamorfosa menjadi intan yang siap diasah…

Eko Supriyanto mulai menari ketika kabut mulai turun di Candi Sukuh. Tubuhnya terhanyut dalam gerakan yang ia rasakan ketika bersentuhan dengan alam, udara dingin, pepohonan, serta relief candi yang bertutur tentang kejadian manusia. Musiknya: desir angin dan jepretan kamera. Bangunan candi yang berupa kerucut terpotong, pohon-pohon dan langit berkabut menjadi latarnya. Ia bergerak seolah merayap seperti kura-kura lalu bergerak terbang ke udara seperti burung garuda. Kata-kata Eko sebelum menginjak bangunan candi bahwa ia menemukan kesadaran kepenariannya di sini kembali terngiang. Mungkin hal itu yang membuatnya trance ketika menari.

“Candi ini bercerita tentang pertemuan antara Ibu Bumi, yang disimbolkan oleh kura-kura, dan Bapak Angkasa yang disimbolkan oleh garuda. Tapi buatku, ini berarti bahwa kita harus meraih cakrawala, tapi harus tetap kembali ke bumi,”tuturnya tentang tarian yang baru saja diperagakan. Pernyataan ini sepertinya sangat cocok dengan dirinya yang kini tercatat sebagai penari, koreografer serta pemilik studio tari “Solo Dance Studio” yang disegani di dunia tari internasional. Meski memiliki latar belakang tradisi asal Jawa, namun ia begitu terbuka dalam menyerap berbagai khasanah dalam lingkungan global sehingga kehadirannya diperhitungkan dalam panggung kolaborasi internasional. (more…)

Read Full Post »

Petualang Kehidupan

ugo untoro

ugo untoro

Bagi Ugo, seni tidak hanya diukir di atas kanvas atau obyek, tapi juga di hati, perasaan dan kehidupannya

Satu halaman buku saja tidak akan pernah cukup untuk menuliskan Ugo Untoro. Seniman eksentrik yang kini bermukim di Yogyakarta ini memang menarik dikupas dari berbagai sisi. Dari penampilan hingga karya seni yang dilahirkan seolah menunculkan petanda-petanda yang bebas diinterpretasikan oleh siapapun. Itu sebabnya penulis, sastrawan yang juga sahabat Ugo, Omi Intan Naomi sanggup menghabiskan 483 halaman untuk membukukan kisahnya: The Sound of Silence and Colors of the Wind Between the Tip of a Cigarette and Fire of the Lighter (17 Years of Ugo Untoro’s Fine Arts, 1989-2006). Buku yang dibuat dalam waktu sepuluh hari itu diluncurkan Desember lalu di Jakarta.

Seorang seniman kontemporer Indonesia yang namanya terus menanjak -sayang dia enggan disebut namanya-mengakui bahwa Ugo adalah sosok legenda dalam dunia seni rupa kontemporer Indonesia yang sangat total dalam berkarya. Ugo-lah yang membawa gaya corat-coret di atas kanvas sejak 15 tahun lalu, yang kini baru disadari, seperti dikatakan kurator Hendro Wiyanto, bahwa apa yang dilakukan itu dimaksudkan untuk “menghancurkan” gaya (seni lukis) di akademi seni rupa Yogyakarta yang sarat berpegang pada mutu keastistikan sapuan kuas dan garis. Tiga penghargaan bergengsi dalam dunia seni, Philip Morris Award sempat direbutnya pada tahun 1994, 1998, dan kemudian memenangkan 5 Best Asia Philip Morris Award di Hanoi, Vietnam. Ia juga ditasbihkan menjadi Tokoh Seni Rupa Tahun 2007 versi Majalah Tempo. (more…)

Read Full Post »

Menapak Jalan Tanpa Peta

dewi lestari

dewi lestari

Mengungkap kejatidirian adalah hal terpenting dalam kehidupannya kini

Dewi Lestari masih saja disibukkan oleh diskusi buku terakhirnya, Rectoverso, ketika akhirnya ia menyanggupi untuk bisa diwawancara oleh dewi. Tentu saja dalam waktu yang sangat singkat, karena jadwal acaranya sangat padat menjelang akhir tahun 2008 lalu. Sementara itu, salah satu lagu ciptaannya yang berjudul Malaikat Juga Tahu, diambil dari album yang sama dengan buku barunya itu, juga sedang diputar dimana-mana. Ini juga membuat jadwal manggungnya ketat. Bisa dibilang, ia menuai sukses besar dengan percobaan yang dilakukannya kali ini: menggabungkan antara kumpulan cerita pendek dan lagu.

“Terus terang, aku nyaman dengan format ini. Tapi aku tak mau memastikan apakah mau melanjutkan atau tidak. Akan jadi beban bila harus memastikan,”katanya terbuka. Ia rupanya tak mau diganggu dengan berbagai hal yang kiranya akan mengganggu konsentrasinya tahun ini: melanjutkan Supernova, novel yang melambungkan namanya hingga kini, setelah empat tahun tertunda. “Itu adalah pertanyaan yang paling membuat aku stress. Sebenarnya jawabannya simpel, belum waktunya. Karena satu karya lahir butuh proses pematangan. Seperti bayi, bila belum saatnya ia akan menjadi prematur. Dan kurasa, sekarang ini saat memikirkannya,” kisah Dewi yang biasa dipanggil dengan nama kesayangannya: Dee. (more…)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »