Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Profil Pria’ Category

Menuju Ke Akar Yudi Latif

Ia menemukan diri dengan cara menziarahi akar genetik dan sosial budaya yang telah menjadikannya

yudi latif

“Dalam kebimbangan arah hidup, jalan terbaik pulang ke akar.” Sebuah ungkapan Yudi Latif di laman twitter seperti memberi jalan untuk mengenalnya dengan lebih baik. Berbagai peristiwa dan sekaligus sejarah dirinya dalam memberi warna dalam percaturan intelektual di Indonesia pun tak lepas dari pernyataan ini. Aktivitas terakhirnya ialah ketika ia meluncurkan buku terbarunya: Negara Pancasila (NP). Di tengah situasi sosial politik Indonesia saat ini, kelahiran buku yang mengupas tuntas mengenai Pancasila menjadi jawabannya: mengembalikan Indonesia pada tempatnya, akarnya, jiwanya.  (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Keindahan yang Bersahaja

Ia tahu bagaimana menghadirkan keindahan dan cinta dari sudut pandang yang tidak biasa

Davy Linggar (37) memesan segelas es coklat untuk memulai perbincangan pada suatu pagi menjelang siang di sebuah kafe di Plaza Senayan. Lepas dari kesukaannya, mungkin ia perlu zat-zat serotonin dalam coklat untuk memberi rasa nyaman dan rileks. “Saya nggak bisa ngomong, jadi ngomongnya lewat motret, lewat visual,” ujarnya pendek, sedikit terpatah. Duduk satu meja dengannya, Jane Hufron, managernya, dan Seno, asistennya. Jiahara, anak lelakinya, tertidur pulas dalam kereta dorong.

Menemuinya bukan perkara gampang. Selain sibuk, seniman dan fotografer fashion terkemuka diIndonesia ini terbilang enggan dipublikasikan, terutama menyangkut dirinya sendiri. Alasannya, seperti tersebut di atas, merasa tak bisa bicara. Dan dalam perbincangan berikutnya, ia bukanlah tipe pria yang mengumbar cerita tentang pribadinya. Namun demikian, ia terlihat “cerewet” tatkala perasaannya nyaman karena berada pada waktu, suasana, tempat, dan “frekuensi” yang sama dengan lawan bicaranya. Setiap kalimat yang diucapkan pendek-pendek itu terangkum kecerdasan dalam memandang setiap hal, seperti karya lukis dan foto-foto yang diabadikannya. (more…)

Read Full Post »

Yang Berdiam di Dalam Kanvas                                                                                 Julius Ariadhitya Pramuhendra

pramuhendra

Pada setiap karya, ia selipkan sebuah cerita untuk seseorang yang tak pernah ada dalam kanvasnya

Julius Ariadhitya Pramuhendra adalah sebuah nama yang menjadi bahan perbincangan sepanjang 2010 dalam dunia senirupa Indonesia. Karya instalasi Ashes to Ashes yang digelar dalam Hong Kong Art Fair 2010 banyak mencuri perhatian. Di tengah pergulatan warna dan tema berbagai kreasi seni yang tampil dari berbagai galeri besar dunia, ia muncul dengan warna monokromatik hitam putih. Instalasi itu terdiri dari sebuah drawing foto realis, sebuah meja dan jam dinding terbakar. Dalam drawing, tampak sang seniman beserta keluarganya menikmati perjamuan makan yang mengingatkan pada lukisan Leonardo da Vinci, Last Supper.

Kekuatan karya dan kemampuan teknis yang dibawanya pada saat itu sempat membuat namanya disebut-sebut sebagai calon terkuat penerima penghargaan seniman pendatang baru terbaik. Sayangnya, kesempatan itu belum tiba. Meski demikian, beberapa galeri internasional melirik potensi pria yang baru genap berusia 27 tahun pada 13 Agustus itu. Paling tidak, sebuah pameran tunggal telah disiapkan di Taipei pertengahan tahun ini.  Ia juga menyiapkan satu pameran tunggal istimewa yg masih dirahasiakannya. Setelah itu, sebuah pameran tunggal istimewa yang masih dirahasiakan di Indonesia sudah menanti. “Tunggu tanggal mainnya, akan banyak kejutan!,” Hendra, sapaan akrab Pramuhendra, mencoba berahasia. (more…)

Read Full Post »

Bunker Kenyamanan

antony liu

Memainkan emosi, memainkan imajinasi. Itulah hal yang selalu ingin ditaklukkannya

Sejurus mata memandang adalah hamparan hijau rumput dan pepohonan. Di sela-sela hehijau rumput ada batuan putih membentuk aksentuasi seperti salju meleleh pada awal musim semi. Angin sepoi semilir, menggesek dedaunan, memberi irama tersendiri di samping suara hewan pengerat yang sore itu sudah bekerja keras. Suasana sore kian sejuk, menghapus dua jam perjalanan penuh kemacetan hari Jumat dari Jakarta menuju studio TonTon, Gading Serpong, Tangerang. Segelas es teh dan roti isi daging di atas meja kayu panjang melengkapi pertemuan dengan Antony Liu, 43 tahun, arsitek yang namanya selalu menjadi langganan penghargaan desain arsitektur di Indonesia, IAI Award.

“Desain arsitektur tidak cukup hanya dilihat atau diceritakan. Tapi harus dialami,” Antony memberikan penjelasan mengapa wawancara harus dilangsungkan di studio dan rumah tinggalnya yang terletak hanya beberapa ratus meter. Dan apa yang dikatakannya benar. Segala hal yang tertulis atau tergambar dalam media-media yang pernah menuliskannya tidak bisa mewakili perasaan dan kenyataan saat memasuki studionya – seperti terlukis di atas-, maupun suasana rumah tinggalnya yang bernama Bea House yang mendapat pujian IAI Award 2009. (more…)

Read Full Post »

Sang Petualang


Dunia acting menjadi pelengkap petualangan kehidupan yang selalu diciptakannya

Penuh kontradiktif. Perasaan itu muncul sesaat setelah melihat penampilan Ario Bayu Wicaksono pagi itu. Wajahnya segar. Rambutnya yang habis dipotong cepak masih sedikit basah. Tubuhnya tinggi dan berisi dengan tatapan mata tajam di bawah alis tebalnya. Lalu kemanakah si Amir yang homoseksual tulen yang diperankan oleh Bayu (nama akrab Ario Bayu) dengan sangat luget dalam pementasan drama musical Onrop! itu? Sebaliknya, ia memperkenalkan diri dengan gestur tubuh yang tegap bak polisi. Sisi maskulinitas tampak menonjol pada dirinya. Sedang beraktingkah dia sekarang?

Bayu tersenyum menanggapi keraguan itu. Bukan yang pertama ia memerankan pria homoseksual. Sebelumnya, ia berperan serupa di film Pesan dari Surga dan Kala yang disutradarai Joko Anwar. “Saya senang sekali kalau kelelakian saya dipertanyakan. Ini artinya saya berhasil memerankan dia,”ujarnya diplomatis, matanya menatap tajam. Suara musik jazz kembali mengalun di restoran tempat pertemuan. Suasana terasa seperti sebuah penggalan adegan drama ketika seorang tokoh lelaki meyakinkan kekuatan cinta pada kekasihnya. Apalagi kemudian terlihat ia menghembuskan asap rokoknya dengan mendongakkan kepalanya. Membiarkan suasana lengang. Seperti sedang berpikir. (more…)

Read Full Post »

Nyanyi Sunyi Nasirun

Nasirun by Wahyu Tantra

Maka  kini kita  akan mengerti mengapa Nasirun menikmati hidup  dan terus “bertapa”

Maafkan. Kali ini Nasirun tak tertawa. Ia sedang bercerita tentang masa lampaunya. Ia bahkan lebih banyak diam. Suaranya serak. Kepulan asap rokoknya lebih banyak. Nafasnya memberat. Nasirun, 45 tahun, seniman kontemporer yang juga sufi itu, tampak mempertimbangkan segala hal yang akan diungkapnya. Mungkin ini aib, ujarnya. Tapi dari peristiwa inilah segala perjalanan artistik kehidupan yang membentuk karakter dan kepribadiannya dimulai. “Mungkin saya punya selera humor. Slengekan. Tapi semua itu saya lakukan untuk menutup masa lampau saya. Saya tidak ingin merasa kecil ketika melihat orang besar, dan tidak merasa besar ketika melihat orang kecil.”

Baru kali ini melihat Nasirun tanpa tawanya yang khas, bebas, merdeka, yang tak pernah lepas dari dirinya. Perbincangan ini terjadi di siang hari – waktu yang biasanya digunakan mengaso secara teratur – di kediamannya yang asri di Yogyakarta. Semalam, ia mengadakan pameran tunggal pelukis Soenarto PR, sebagai wujud bakti pada seniornya. Sementara itu, setelah menyelesaikan pameran tunggal dan akbar Salam Bekti akhir 2009, ia menyelesaikan 1200 karya kecil (rencana dipamerkan tunggal menyambut ulang tahunnya yang ke-45 Oktober lalu, tapi gagal), serta 100 karya lain dalam satu tema. Saat ini beberapa karyanya sedang dipamerkan di Jakarta, Yogyakarta, dan Shanghai. (more…)

Read Full Post »

Bintang dari Timur

Ia menikmati hidup bak terhampar di lautan luas di mana ia harus tetap mengembangkan layar dan terus berselancar dalam gelombang.

Pertumbuhan bisnis grup Bosowa yang melesat cepat beberapa waktu terakhir ini tak bisa dilepaskan dari nama Erwin Aksa (35). Chief Executive Officer (CEO) muda ini berhasil membawa perusahaan yang didirikan oleh ayahnya, Aksa Mahmud, empat dekade lalu dengan gemilang di bawah kepemimpinannya. Jelas, untuk meneruskan dan mengembangkan sebuah usaha keluarga yang sudah memiliki sistem yang mapan sebelumnya, bukanlah hal yang mudah. Namun dengan pengetahuan dan kerendahatiannya, Erwin berhasil membawa bahtera bisnis keluarga yang berbasis di daerah Sulawesi Selatan itu menuju level nasional.

Erwin yang mendapat kepercayaan memegang penuh kepemimpinan grup Bosowa (Bosowa Corporation) tahun 2004, mampu meningkatkan asset grup dari 3 trilyun menjadi 6 trilyun dalam waktu empat tahun. Padahal ketika itu usianya baru menginjak 29 tahun, dan ia harus membawahi enam ribu karyawan dari enam bidang usaha: semen, otomotif, properti, finansial, infrastruktur, dan pertambangan. Rekan pengusaha, Sandiaga Uno memuji Erwin sebagai anak yang besar di daerah namun bisa naik kelas dan beradaptasi di level nasional percaturan bisnis di Indonesia. “Sebagai pengusaha, dia tajam intuisi, cepat membaca situasi. Pandai memilah risiko, berani bertindak dan mengambil keputusan. Lihat saja pengembangan bisnis Bosowa. Sekarang menjadi pemain infrastruktur besar di bawah kendali Erwin. Ini sangat membanggakan.” (more…)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »