Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘kisah pilu manusia’ Category

Manusia Renaisans

enin supriyanto

Selalu ada optimisme yang timbul dari diri Enin Supriyanto, bahwa hidup itu bisa dinikmati dengan berbagai cara.

Enin Supriyanto memang terbilang istimewa di jagad seni rupa Indonesia.  Ia adalah lelaki penggelisah asal Lombok yang mengadukan nasibnya kini pada dunia seni rupa kontemporer.  Boleh dibilang ia adalah  kurator yang bisa merepresentasikan seni rupa kontemporer Indonesia di dunia internasional, begitu Direktur Indonesian Visual Art Archive (IVAA), Farah Wardhani memberikan komentarnya.

Pendapat ini tampaknya tak berlebihan. Dalam dunia seni rupa Indonesia, mantan mahasiswa jurusan desain interior, fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, ini telah meluncurkan beberapa buku seni rupa yang signifikan. Diantaranya: Perjalanan Seni Lukis Indonesia dalam koleksi Bentara Budaya, Indonesian Contemporery Art Noe (1996-2006), Seni Rupa Modern Indonesia, Esai-esai pilihan. Ke depan dia tengah memersiapkan On Death, the Self and Trauma (From Self potrait to social Portrait), sebuah riset tentang seni rupa Indonesia berhadapan dengan pengalaman trauma social politik. (more…)

Read Full Post »

Bukan Bintang Biasa

Melly Goeslaw

Melly Goeslaw

“Aku tidak mau penampilanku sama dengan orang lain”

Namanya Meliana. Sederhana, begitu Ersy Sulessy memberikan nama untuk anaknya. Tak ada arti khusus dari nama ini. Tak ada pula terpikir kelak anak sulung perempuan ini akan mengikuti darah yang mengalir dari ayahnya yang sangat ternama di masa itu, Melky Goeslaw, yang sesungguhnya tak pernah hidup bersama dalam kehidupan anaknya. Tapi memang Tuhan selalu ada jalan untuk membuatnya jadi besar, sebesar talentanya sekarang. Dengan nama Melly-belakangan diberi embel-embel nama Melly Goeslaw oleh wartawan– popularitasnya terus melaju. Pesat. Dan terus berkembang dari hari ke hari. (more…)

Read Full Post »

In Memoriam
Mohamad Ali Chanafiah

Tiga tahun lalu, saya menemui mereka. Hari ini, saya sedih karena saya mendengar Pak Ali sudah meninggal.

Ali di antara para eksil di Swedia

Mantan Dubes tanpa Tanah Air
Terbuang akibat G-30-S (1)

MUHAMAD Ali Chanafiah kini berusia lebih dari 90 tahun. Dia tinggal di sebuah flat delapan lantai di Ragsved, 15 kilometer selatan Stockholm, Swedia.Di rumah yang asri itu Ali tinggal bersama anak laki-lakinya dan dua cucunya. Setiap pagi mantan duta besar Indonesia di Sri Lanka itu sendirian di rumah ditemani dua parkit kesayangannya, Tono dan Tina. Anak dan cucunya bekerja atau sekolah. Dua parkit itu menjerit-jerit dalam kandang yang mungil dan bersih jika ada tamu yang berkunjung.Meski sudah sepuh, Ali tetap bersemangat menceriterakan masa lalunya. (more…)

Read Full Post »

Mencari Jalan Kebahagiaan yang Berbeda

Esthy Susanti Hudiono

Esthy Susanti Hudiono

Dunia ini masih memerlukan banyak “orang gila” untuk mengimbangi berbagai persoalan dari frame berbeda

Adalah Esthi Susanti Hudiono. Membaca catatan kisah hidupnya dalam 15 tahun terakhir, seolah membuka catatan sejarah tentang perkembangan virus HIV/AIDS di Indonesia. Direktur Eksekutif Yayasan Hotline Surabaya ini merupakan generasi pertama aktivis HIV/AIDS di Indonesia. Ia bekerja dengan semangat yang terus membara, di tengah ancaman, kritikan, dan juga kehilangan sebagian materinya, demi menegakkan rasa kemanusiaan.

Dari data-data terakhir yang ditemukan, ia menyebutkan tingginya angka HIV/AIDS di Indonesia. Grafik menggambarkan adanya pertumbuhan yang sangat tinggi dalam waktu sepuluh tahun terakhir, bahkan bisa dibilang sebagai sebuah gap. Sebagai bandingan, terdapat 198 orang terinveksi virus HIV di tahun 1997 dan melonjak hingga 8988 di tahun 2007. ”Jumlah ini mungkin akan membengkak, karena masih banyak orang yang tidak mengetahui bahwa ia terinfeksi HIV. Atau bahkan mereka menutupi kenyataan yang ada,” ungkap Esthi.

(more…)

Read Full Post »

« Newer Posts