Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘cinta….’ Category

Takashi Murakami, Passion for Creation

Takashi Murakami, Passion for Creation

Tuhan kadang memiliki rahasianya sendiri pada diri manusia. Kejadian yang kualami adalah merupakan dari kisah itu. Entah bagaimana muasalnya, aku merasa, sekali lagi aku merasa, pernah mendapatkan sebuah surat undangan yang berisi bahwa aku akan menuju ke Hong Kong untuk datang di sebuah acara di mana aku ada kesempatan untuk mewawancarai Takashi Murakami dan Frank Gehry. Sepulang dari Perth, tak ada pikiran lain kecuali melakukan riset habis-habisan untuk bisa bertemu dengan dua seniman besar dunia itu. (more…)

Read Full Post »

Menembus Batas

zahir ali

Ia membutuhkan kelembutan seorang ibu untuk meneduhkan sisi-sisi liar yang lahir dari bakat seorang pembalap.

Dunia balap seolah mendapat energi baru dari Zahir Ali. Kemunculannya yang tiba-tiba seolah seperti mata air yang memberi kesegaran. Berbeda dengan banyak pembalap selebritas yang glamornya lebih terasa dibanding prestasinya, ia banyak memberi harapan. Setelah menorehkan prestasi nama Indonesia di Formula BMW Asia 2007 lalu, ia terus menjajal berbagai tantangan baru. Banyak catatan kemenangan dan poin positif diperolehnya dalam dua tahun terakhir secara fantastis. (more…)

Read Full Post »

Di Balik Panggung

rinny noor

rinny noor

Di balik gemerlap panggung musik, ada kesederhanaan ia dalam membuat semua mimpi artis menjadi nyata

“Dia menunjukkan padaku sebuah peta dunia dan membukanya di atas meja. Lalu ia bertanya, ‘Nah, Rinny, sekarang tunjukkan padaku, di mana letak Indonesia.'”

Rinny Noor tersenyum. Sebuah kenangan indah bersama Bill Graham kembali mengusik pikirannya. Alunan musik terompet dan hawa dingin yang merasuki ruang privat Restoran Seribu Rasa, Jakarta, kian menghanyutkannya. Ia menikmati suasana itu, bersamaan dengan kepulan asap rokoknya yang terus menerus dihisapnya, mengenang sebuah kisah sangat berkesan ketika menginjakkan kakinya di kantor Bill di San Fransisco, 22 tahun lalu. Bill adalah legenda promotor tur musik rock dunia yang pernah membawa Santana dan Rolling Stone dari Eropa menuju Amerika. Pertemuan bersejarah itu tak hanya membuat mimpi bertemu sang idola menjadi nyata, namun juga mengarahkan biduk kehidupannya di kemudian hari menjadi seorang promotor musik yang sukses. (more…)

Read Full Post »

bunga-jeruk-2008-makan-hati-3-130x130-oc

bunga-jeruk-2008-selamat-jalan-sayang-1-2-45x45x100-resin

bunga-jeruk-2008-runaway-baby-150x150-oc

Sekadar Catatan:

Catatan ini terjadi ketika saya datang di pameran Bunga Jeruk yang bertajuk  “Just Bunga “.  Pameran ini menunjukkan berbagai karya terdepan dari seniman wanita muda kontemporer Indonesia, yang kelak akan memberi warna bagi masa depan seni Indonesia.

(more…)

Read Full Post »

Kepompong Kenyamanan

djenar maesa ayu

djenar maesa ayu

Kendati karyanya penuh pendobrakan, dalam keseharian ia ádalah orang yang enggan dengan perubahan

Djenar Maesa Ayu (36)  dalam keseharian adalah seorang ibu muda, beranak dua, berdaster batik ria saat di rumah, memasak, membersihkan rumah berlantai tiga dan mengurus anak-anaknya. Sendirian. Tidak ada pembantu, meski tinggal di rumah gedongan pinggiran Jakarta Barat. “Saat seperti inilah saya merasa “kaya”. Tanpa pembantu, saya bisa memaksimalkan peran saya sebagai ibu,” kata Djenar sambil menatap mesra wajah anak bungsunya, Bidari Maharani (8) yang terlelap di atas pangkuannya. Sulungnya, Banyu Bening (17), baru saja pamit untuk nonton basket dengan pacarnya, berbekal nasi dengan ayam goreng yang disiapkan Djenar sebelumnya. Inilah gambar suasana di rumah Djenar ketika dewi bertandang ke rumahnya sehari itu.

Di luar sana, eforia belum saja usai. Film perdananya “Mereka Bilang, Saya Monyet!” meraih prestasi sebagai film terbaik versi Majalah Tempo, juga mengukuhkannya sebagai tokoh seni 2008. Film yang diangkat dari judul buku kumpulan cerpen pertamanya ini sekaligus membuka kiprahnya di berbagai festival film internasional seperti Berlin Asian Hot Shots Film Festival  dan Singapore Film Festival. Keberhasilan ini seolah melanjutkan berbagai prestasi yang diperoleh dari kumpulan cerpen dan novelnya yang lain, seperti “Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), “Nayla”, “Cerita Pendek tentang Cerita Pendek”, yang berhasil meraih penghargaan dari Khatulistiwa Literary Award. Karya-karyanya banyak dibicarakan karena keberaniannya dalam menyuarakan problem seksualitas dalam diri manusia.

Dua belas tahun lalu, sebelum ia memiliki hasrat untuk menulis, ia tak lebih dari seorang ibu rumah tangga biasa. (more…)

Read Full Post »

Tarian Kehidupan

eko supriyanto

eko supriyanto

Waktu kecil dianggap sebagai kerikil.  Kini dia telah tumbuh dan bermetamorfosa menjadi intan yang siap diasah…

Eko Supriyanto mulai menari ketika kabut mulai turun di Candi Sukuh. Tubuhnya terhanyut dalam gerakan yang ia rasakan ketika bersentuhan dengan alam, udara dingin, pepohonan, serta relief candi yang bertutur tentang kejadian manusia. Musiknya: desir angin dan jepretan kamera. Bangunan candi yang berupa kerucut terpotong, pohon-pohon dan langit berkabut menjadi latarnya. Ia bergerak seolah merayap seperti kura-kura lalu bergerak terbang ke udara seperti burung garuda. Kata-kata Eko sebelum menginjak bangunan candi bahwa ia menemukan kesadaran kepenariannya di sini kembali terngiang. Mungkin hal itu yang membuatnya trance ketika menari.

“Candi ini bercerita tentang pertemuan antara Ibu Bumi, yang disimbolkan oleh kura-kura, dan Bapak Angkasa yang disimbolkan oleh garuda. Tapi buatku, ini berarti bahwa kita harus meraih cakrawala, tapi harus tetap kembali ke bumi,”tuturnya tentang tarian yang baru saja diperagakan. Pernyataan ini sepertinya sangat cocok dengan dirinya yang kini tercatat sebagai penari, koreografer serta pemilik studio tari “Solo Dance Studio” yang disegani di dunia tari internasional. Meski memiliki latar belakang tradisi asal Jawa, namun ia begitu terbuka dalam menyerap berbagai khasanah dalam lingkungan global sehingga kehadirannya diperhitungkan dalam panggung kolaborasi internasional. (more…)

Read Full Post »

Petualang Kehidupan

ugo untoro

ugo untoro

Bagi Ugo, seni tidak hanya diukir di atas kanvas atau obyek, tapi juga di hati, perasaan dan kehidupannya

Satu halaman buku saja tidak akan pernah cukup untuk menuliskan Ugo Untoro. Seniman eksentrik yang kini bermukim di Yogyakarta ini memang menarik dikupas dari berbagai sisi. Dari penampilan hingga karya seni yang dilahirkan seolah menunculkan petanda-petanda yang bebas diinterpretasikan oleh siapapun. Itu sebabnya penulis, sastrawan yang juga sahabat Ugo, Omi Intan Naomi sanggup menghabiskan 483 halaman untuk membukukan kisahnya: The Sound of Silence and Colors of the Wind Between the Tip of a Cigarette and Fire of the Lighter (17 Years of Ugo Untoro’s Fine Arts, 1989-2006). Buku yang dibuat dalam waktu sepuluh hari itu diluncurkan Desember lalu di Jakarta.

Seorang seniman kontemporer Indonesia yang namanya terus menanjak -sayang dia enggan disebut namanya-mengakui bahwa Ugo adalah sosok legenda dalam dunia seni rupa kontemporer Indonesia yang sangat total dalam berkarya. Ugo-lah yang membawa gaya corat-coret di atas kanvas sejak 15 tahun lalu, yang kini baru disadari, seperti dikatakan kurator Hendro Wiyanto, bahwa apa yang dilakukan itu dimaksudkan untuk “menghancurkan” gaya (seni lukis) di akademi seni rupa Yogyakarta yang sarat berpegang pada mutu keastistikan sapuan kuas dan garis. Tiga penghargaan bergengsi dalam dunia seni, Philip Morris Award sempat direbutnya pada tahun 1994, 1998, dan kemudian memenangkan 5 Best Asia Philip Morris Award di Hanoi, Vietnam. Ia juga ditasbihkan menjadi Tokoh Seni Rupa Tahun 2007 versi Majalah Tempo. (more…)

Read Full Post »

Menapak Jalan Tanpa Peta

dewi lestari

dewi lestari

Mengungkap kejatidirian adalah hal terpenting dalam kehidupannya kini

Dewi Lestari masih saja disibukkan oleh diskusi buku terakhirnya, Rectoverso, ketika akhirnya ia menyanggupi untuk bisa diwawancara oleh dewi. Tentu saja dalam waktu yang sangat singkat, karena jadwal acaranya sangat padat menjelang akhir tahun 2008 lalu. Sementara itu, salah satu lagu ciptaannya yang berjudul Malaikat Juga Tahu, diambil dari album yang sama dengan buku barunya itu, juga sedang diputar dimana-mana. Ini juga membuat jadwal manggungnya ketat. Bisa dibilang, ia menuai sukses besar dengan percobaan yang dilakukannya kali ini: menggabungkan antara kumpulan cerita pendek dan lagu.

“Terus terang, aku nyaman dengan format ini. Tapi aku tak mau memastikan apakah mau melanjutkan atau tidak. Akan jadi beban bila harus memastikan,”katanya terbuka. Ia rupanya tak mau diganggu dengan berbagai hal yang kiranya akan mengganggu konsentrasinya tahun ini: melanjutkan Supernova, novel yang melambungkan namanya hingga kini, setelah empat tahun tertunda. “Itu adalah pertanyaan yang paling membuat aku stress. Sebenarnya jawabannya simpel, belum waktunya. Karena satu karya lahir butuh proses pematangan. Seperti bayi, bila belum saatnya ia akan menjadi prematur. Dan kurasa, sekarang ini saat memikirkannya,” kisah Dewi yang biasa dipanggil dengan nama kesayangannya: Dee. (more…)

Read Full Post »

Bergelut antara Proporsi dan Komposisi

Andra Matin

Andra Matin

Dimatanya, wanita dan bangunan harus memiliki keseimbangan dan “taste” yang tinggi

Boleh jadi Andra Matin sudah menjadi selebritas kini. Namanya begitu ramai dibincangkan. Tak hanya dalam dunia arsitektur Indonesia yang telah membesarkan namanya, tapi juga di kalangan sosialita yang telah memakai jasanya.

Akhir tahun lalu, arsitek lulusan Universitas Parahyangan Bandung ini berhasil menyabet 3 piala dari 7 penghargaan yang dikeluarkan oleh Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI). Satu penghargaan diantaranya merupakan kerjasamanya dengan arsitek Anthoni Liu. Prestasi ini jelas merupakan barang langka dalam sejarah arsitek Indonesia, dimana seorang arsitek, muda pula, bisa meraih lebih dari satu penghargaan dari satu-satunya organisasi profesi di Indonesia. (more…)

Read Full Post »

Komunikator Mencari Cinta

Komentator politik lulusan Cornel yang mantan juara lawak ini memiliki pandangan-pandangan yang tajam, cerdas dan tentu lucu. Namun mengapa pelopor parodi politik di Indonesia ini tak segera melabuhkan hatinya?

Effendi Gazali adalah sosok pria dalam dua sisi yang berlawanan. Dalam banyak kesempatan, ia terlihat sangat terbuka. Tak pelit bicara. Mudah ditemui di mana saja. Mungkin karena ia seorang pakar komunikasi politik yang sudah jadi selebritas televisi.

Tapi bila diajak pertemuan untuk sebuah wawancara profil pribadinya, pria yang usianya awal 40’an itu tiba-tiba berubah bentuk menjadi belut. Licin dan susah ditangkap.

“Saya ini paling tidak suka diwawancara soal pribadi,” ungkap Effendi yang mengaku telah menolak puluhan media massa yang ingin mewawancarai kehidupan pribadinya. “Biar saja masyarakat menilai saya, Biar saja mereka dengan imajinasinya tentang saya. Itu lebih menyenangkan.” (more…)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »