Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘art’ Category

Melati untuk Ibu

 runi palar

Pengabdian, kepasrahan, dan totalitas berkarya adalah tiga kata kunci keberhasilannya

 

Runi Palar mencium kembali bunga kamboja kuning yang dipungutnya dari tempatnya berpijak. Sesuatu telah membuatnya terkenang, sehingga buliran air mata tiba-tiba mengaliri pipinya yang segar usai berdandan. Suasana serasa dalam sebuah adegan drama. Bayangan pepohonan jatuh dengan hangat di sebagian pipi dan seluruh halaman. Ia berdiri di tengah-tengah rumah tinggalnya  dengan Runa House of Design dan Museum –tempat ia meletakkan karya-karyanya,  di depan kolam teratai yang berbunga, di antara kebun penuh tanaman lokal yang begitu asri dan bebungaan yang ditata rapi.  “Saya rindu Ibu. Kalau saya sedang senang, saya selalu mengingat Ibu,” ujarnya.

Pertemuan ini terjadi di Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali. Runi baru saja kembali dari perjalanannya membawa rombongan berkeliling Jepang. Namun kali ini misinya bukan untuk mempresentasikan tren dua kali dalam setahun seperti rutinitas yang sudah dijalani selama 9 tahun terakhir. Ia mendapat kepercayaan dari pusat perbelanjaan Isetan untuk menggelar pameran Modern Bali Style 2010, di mana ia bertanggung jawab untuk membawa produk-produk terbaik Indonesia. Seperti diketahui, eksistensi Runi sebagai desainer perak ikonik Indonesia sudah diakui. Butiknya tersebar di Bandung, Bali, dan Yogyakarta. Sementara di Jepang, Amerika, Singapura, dan Hongkong, Anda bisa menemukannya di ritel-ritel butik eksklusif. (more…)

Read Full Post »

Membingkai Memori     

galam zulkifli

Begitu mudahnya ia membingkai rahasia banyak wajah dalam kehidupannya, tapi tidak untuk dirinya

Sebuah siang di bulan Juni menjadi saksi pertemuan. Galam Zulkifli memberikan sela waktunya yang padat untuk berbincang. Tapi tidak di kafe atau keramaian, ia meminta dewi datang di studionya tempat bekerja. Sebuah ruangan yang terasa lapang, tak banyak barang. Hanya ada rak buku besar yang tidak terisi penuh, karpet dengan sisa-sisa abu rokok yang menempel, serta gelas bening yang masih menyisakan ampas kopi. Bersandar pada dinding kosong, 3 kanvas berukuran 2 x 2 meter “berisi” wajah dengan ekspresi sangat kuat. Sorot-sorot matanya tajam dan hidup, seolah menatap siapa saja yang ada di depannya.

Di ruangan yang bernama Bale Black Box inilah Galam membangun karya-karya gemilangnya. Ia lanjutkan kesuksesan pameran di Swiss dengan kreasi terbaru berjudul Dark Side of The Earth vol.1-3. Karya sebesar 200 x 1400 cm tersebut dipamerkan di Ciputra Art World beberapa waktu lalu dan menuai puji karena teknik yang digunakan. Dalam satu kanvas ia membuat dua lukisan yang sama sekali berbeda bila diletakkan dalam cahaya dan tanpa cahaya. Eksperimen ini seperti mendebat pandangan modern mengenai perbedaan picture dan painting yang terletak pada konsep. Galam menunjukkannya juga pada cahaya. (more…)

Read Full Post »

Jembatan Dua Cinta

heri pemad

Ia selalu mencari cara membahagiakan orang lain, tapi belum pada cintanya.

 

Celoteh kisah dalam bahasa Jawa kental terasa begitu kontras di tengah alunan musik jazz di Loewy Restaurant, Mega Kuningan, Jakarta. Kisah yang begitu serunya, sehingga beberapa pasang tatap mata menoleh pada Heri Pemad, sang pemilik suara. Siang terik itu, ia tampak asyik berbincang menyantap grill escargot dari bistro Perancis dengan sesekali membetulkan letak kacamata. Ia menyelinap sejenak dari aktivitasnya memantau pameran Space & Image yang digelar di Ciputra Art World. Di ajang pameran seni akbar tersebut Heri Pemad Art Management miliknya bertidak sebagai event organizer.

Tapi perbincangan waktu itu sama sekali tak menyentuh kesuksesan pameran di Art Paris, persiapan Jogja Art Fair #3, atau konsep pameran dalam rangka pembukaan museum pribadi seorang kolektor besar Indonesia awal tahun 2011. Pikirannya masih tertambat pada seperangkat gamelan Jawa yang baru saja dipersembahkan pada warga di kampung masa lampaunya di Sukoharjo. Ia bercerita bahwa di luar kegiatan padat membuat pameran-pameran besar di berbagai kota dan negara, sengaja ia kosongkan waktu hampir setiap minggu demi menikmati alam pedesaan sambil melihat anak-anak kecil memelajari gamelan. “Rasanya senang bisa menyenangkan orang banyak,” ujarnya. (more…)

Read Full Post »

Aliran Arus Besar

eddie hara - rustika herlambang

Segala kreativitas itu tercipta karena jiwa muda yang terus menggelegak dalam dirinya

Bisa dikatakan, “dunia” Eddie Hara sesungguhnya ada di dalam kanvas-kanvasnya. Atau dalam satu kalimat: Welcome to My Cruel Colorful World – untuk menunjukkan lukisan yang dibuat tahun 2005. Lukisan yang ditandai dengan judul cukup menyentak secara tekstual itu divisualkan dalam warna-warna yang cemerlang. Kata “cruel” diletakkan lebih kecil dan terpisah, bahkan hampir tersembunyi, dibandingkan “colorful world” yang sepertinya sengaja dibesar-besarkan. Ikon Mini Mouse khas Eddie membawa belati dengan seringai tawa itu berpadu dengan dua ikon lain dalam posisi terbaik-balik.

Pada akhirnya karya itu bukanlah sebuah cerita tentang kekejaman – meski diinspirasikan oleh kritik sosial mengenai kekerasan yang bisa dilakukan oleh anak atau remaja- melainkan sesuatu yang lucu, atau bahkan memaksa kita untuk tertawa. Menertawakan diri sendiri. Self irony. Berbagai persoalan seperti itulah yang selalu mengganggu “kehidupan” Eddie Hara, menjadikan karya-karyanya tak henti digemari pasar. (more…)

Read Full Post »

Putu Sutawijaya by Wahyu Tantra

Membaca Teks yang Tersamar

Untuk mengenal ia secara dekat, lihatlah karya-karyanya, lalu terjemahkan kode-kode yang disiratkan.

Putu Sutawijaya benar-benar sedang mencari “sayap” ketika karya Looking for Wings (2002) tercipta. Namun “sayap” baru ditemukan lima tahun kemudian, tatkala sebuah ketukan palu menandai terjualnya karya tersebut di balai lelang Sotheby’s dengan harga fantastis. Para pengamat seni rupa mengatakan bahwa peristiwa yang sering disebut sebagai Insiden Mei 2007 ini telah menjadi pemicu ledakan seni rupa kontemporer Indonesia di Asia Tenggara. Indonesia pada akhirnya diperhitungkan sebagai surga baru perburuan seni kontemporer, bersaing dengan Cina dan India. (more…)

Read Full Post »

Melani Setiawan by Anton Jhonsen

Oase Hati

Dalam rutinitas dunia kedokteran, ada suara lain yang terus memanggil-manggil. Rupanya suara itu berasal dari dunia seni.

Sebuah lembaran buku yang terbuka, sebuah catatan terbaca.

”buat Ibu..

Terima kasih atas kesabaran dan diskusi yang asyik dan bermakna. Perjalanan menuju.. seni rupa..di pagi hari..di malpensa-Italia.

Entang 2010”

Tulisan dengan ilustrasi gambar kaki dan tanda tangan Entang Wiharso ini bersanding dengan kalimat-kalimat yang dibubuhkan seniman Agus Suwage untuk Dr. Melani Witarsa Setiawan, MSc. Buku berjudul Pleasures of Chaos, Inside New Indonesia Art ini baru saja diluncurkan di Milan, Italia, bersamaan dengan pameran 10 seniman Indonesia. Buku ditulis oleh Jim Supangkat dan diproduseri oleh Primo Giovanni Marella, seorang pelopor seni sekaligus pemilik galeri di Milan. Sementara pada halaman belakang buku tertera kata: Tanpa Melani, buku ini tidak pernah tercipta – menunjukkan betapa perempuan 65 tahun ini berperan nyata. (more…)

Read Full Post »

Bukan Sekadar Kulit Luar

anthony handoko

Semakin ditekan, semakin sulit, semakin tertantang ia untuk menaklukkan

Indahnya purnama memantul di atas air kolam renang. Udara dingin malam itu. Anthony Handoko harus menyelesaikan wawancara. Antrian pasien di klinik sudah mengular. Tapi ia seakan enggan beranjak. Kalimat terakhir yang baru diucapkan seolah menyadarkannya. Apa yang dimilikinya bukanlah sebuah mimpi. Kini, ia adalah salah satu dokter dermatologi dan ahli bedah kosmetik populer di Indonesia. Ia juga pemilik klinik kecantikan “erhaclinic” yang belakangan ini menjadi bahan perbincangan dunia kecantikan Indonesia. ”Saya merasa, pada akhirnya kerja keras dan jatuh bangun saya di waktu lalu, akhirnya terbayarkan.” (more…)

Read Full Post »

Memberi Ruang pada Jiwa

dewabudjana

Musik adalah bagian dari spiritualitas yang sangat dipercaya olehnya.

Gerimis hanya datang kala I Dewa Gede Budjana memainkan lagu Ruang Dialisis. Seperti sebuah anugerah alam yang mengiringi lagu yang dipersembahkan untuk almarhum ayahanda tercinta, IDN Astawa. Suasana Candi Gedong Songo, tempat pengambilan gambar untuk acara ulang tahun stasiun televisi swasta tersebut, berubah dramatis. Budjana terhanyut dalam guyur rintik hujan yang menyatu dengan petikan dawai gitar. Rekaman suara sang nenek (yang tak bisa datang karena sakit) terasa mencekam. Keduanya melebur dalam simponi duka. Mungkin juga, lara.

(more…)

Read Full Post »

Seni Rumah Seniman

Nasirun

 

 

 

 

 

 

 

 

Kali ini, ijinkan saya berkelana menuju rumah-rumah seniman di Yogyakarta.  Bila selama ini saya banyak berhubungan dengan sosok pemiliknya, maka kini saya mengupas “rumah” di mana mereka tinggal dan berkarya selama ini. Namun jangan pernah dibayangkan bahwa saya akan bicara mengenai arsitektural, sebagaimana ulasan rumah-rumah yang ada. Apa yang saya sampaikan adalah mengenai rumah dari sisi “dalam”, yakni tentang sisi kehidupan penghuninya terhadap rumah sebagai sesuatu yang hidup (living concept), yang nyata, yang terasakan, yang memberi inspirasi.

Berbeda dengan konsep penghuni biasa –yang rata-rata hanya menghabiskan beberapa lama di rumah karena kesibukan di luar rumah – konsep rumah bagi seniman adalah sesuatu yang istimewa. Mereka hidup, berkarya, berkeluarga, dan bersosialiasi di tempat yang sama. Itulah hal yang menurut saya sangat unik dan menarik untuk dikaji lebih dalam.

Empat seniman yang kita angkat dalam angle ini memiliki popularitas di papan atas, memiliki genre yang berbeda satu sama lain, dan ternyata memiliki konsep yang berbeda satu sama lain.  Mereka adalah Nasirun, Entang Wiharso, Jumaldi Aldi, dan Galam Zulkifli.

Silakan menikmati..

(rustika herlambang)

terima kasih untuk Heri Pemad dan Rikki Zoel

Read Full Post »

Swargaloka Nasirun

Nasirun

Ia merasa bahwa rumah ibarat “mal” untuk dirinya. Segala hal yang diinginkan dan dicintainya ada di dalamnya. Sementara ia merasa tak butuh ponsel untuk berkomunikasi secara intensif. Toh rumahnya sudah terbuka untuk semua orang yang datang padanya. Justru  “langgar” yang sangat penting untuknya.  Ibarat sebuah ponsel yang menghubungkan dirinya dengan Tuhannya.

Nasirun, ah Nasirun… Tak ada yang bisa mengubah penampilan kesehariannya kecuali dirinya sendiri.Bahkan waktu puluhan tahun menimang gelimang kesuksesan material yang diperoleh dari karya-karya lukisannya, tak juga mempengaruhi gaya kesenimanannya.  Pemenang Philip Morris Award 1997 lebih nyaman dengan penampilan khasnya:  kaus T, celana pendek belel, dan sandal jepit. Janggutnya dipelintir rambut tebal bergelombangnya dibiarkan terurai, atau sesekali dikuncir. Suara tawanya masih tetap menggelegar. Ia juga tak pernah menginjakkan kakinya di mal dan bersikeras tak mau memiliki ponsel. (more…)

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »