Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2011

Mendekat Tanpa Jarak

Melati Suryodarmo by Rustika Herlambang    

 

Menengok kembali hal-hal yang ia tutupi dalam diri selama ini adalah bagian dari rahasia kesuksesannya kini

 

Di sebuah kursi panjang dari kayu, Melati Suryodarmo (42) bercerita tentang tentang dirinya. Seniman senirupa pertunjukan (Performance Art) perempuan asal Solo, Indonesia, yang kini bermukim di Jerman itu sudah mengambil posisi duduk yang nyaman: bertimpuh pada satu kaki, dan membiarkan kaki lainnya bebas bergerak. Di sekelilingnya terlihat aneka benda kuno yang pernah dipakainya dalam berkarya, koleksi sang ayah, Suprapto Suryodarmo, seorang penari dan seniman gerak (free movement) yang juga pemilik dan pendiri Padepokan Lemah Putih.

 

Performance Art atau senirupa pertunjukan (SP) merupakan pengembangan dari bidang senirupa yang menggunakan tubuh sebagai media seni,” ia mengawali perbincangan. Mungkin paham bahwa bidang seni yang dilakoni itu bukan termasuk jenis yang melayani selera kebanyakan. SP mewakili perjalanan sebuah pemikiran, konsep, dan pengkristalan suatu fenomena terpilih. SP tidak menyampaikan pesan secara verbal, melainkan berkomunikasi melalui bahasa tindakan. Penampilan disajikan kepada penonton secara interdisipliner, kadang mengunakan skenario, kadang spontan, dan  bukan sekadar soal improvisasi seperti halnya dalam teater. “SP, dalam sejarahnya, membongkar dan mendobrak aturan konvensional senipertunjukan dan senirupa,”katanya.   (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Menuju Satu Bintang

Ninuk Widyantoro

Kalau punya cita-cita yang jelas, pasti hidup kita akan lebih sederhana. Tidak pernah rumit. Percayalah. 

Perjalanan kehidupan adalah sebuah misteri yang terselubung dalam setiap peristiwa. Tak setiap manusia bisa memaknainya, hingga tiba dalam suatu masa ketika ia disadarkan akan setiap hal dalam catatan kehidupannya. Pun demikian halnya dengan Ninuk Widyantoro, psikolog dan seorang aktivis kesehatan reproduksi perempuan. Aktivitas dalam bidang kesehatan itu akhirnya bisa memadukan keinginan batinnya menjadi seorang guru tk seperti yang dicita-citakannya dan menjadi “dokter” seperti yang diinginkan oleh ayahnya.

Saat ini, ia adalah Ketua Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP), yang memperjuangkan perlindungan hukum terutama bagi kesehatan kaum  perempuan. Ia termasuk psikolog pertama di Indonesia yang menyusun panduan konseling Keluarga Berencana, saat itu untuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), sebuah LSM tertua yang memelopori gerakan Keluarga Berencana (KB) di Indonesia. Modul konseling training yang dibuatnya juga dipakai di berbagai negara, seperti Vietnam, Iran, Turki, Azerbaijan, Kazakhtan,  Bangladesh dan sebagainya. (more…)

Read Full Post »

Memecah Sunyi

Jaleswarii by Hakim Satriyo

Meski suka berada di zona nyaman, ternyata ia terus mempertanyakan kemapanan

Senyuman ramah yang dipancarkan Jaleswari Pramodhawardani langsung memupus sepi yang sejak tadi terasakan saat menginjak gedung Widya Graha, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),Jakarta, pukul sepuluh pagi. Di tempat Dhanny– nama akrabnya – bekerja sebagai peneliti itu tak terlihat sedikitpun tetamu. Tak ada penjaga yang memeriksa tas pengunjung seperti dilakukan gedung-gedung tinggi. “Sunyi?,” ia tertawa. Dan tawa renyah itulah yang memberi tanda bahwa ada “kehidupan” disana.

Belakangan ini sulit mencari Dhanny. Ia sedang banyak kesibukan di Kementrian Pertahanan dan Markas Besar TNI. “Saya sedang diminta bicara mengenai deradikalisasi, NII, Pancasila, dan ketahanan bangsa,”perempuan berkarakter feminin yang dikenal sebagai peneliti militer di Indonesiaitu menjelaskan. Di sisi lain, ia tengah mengkoordinir penelitian mengenai hak atas kepemilikan – sebuah serial lanjutan dari perempuan dan hak atas seksualitasnya. (more…)

Read Full Post »

Mencari Ruh Tari

Fajar Satriadi by Randy Pradhana

 

 

 

 

Ia seperti pendekar dalam mencari sumber pengetahuan demi sebuah darma kehidupan

Ingatan Fajar Satriadi masih begitu tajam. Standing Ovation itu kembali bergemuruh sepanjang akhir pertunjukan Matah Ati dua hari berturut-turut di Esplanade Singapura, Oktober lalu. Ia sangat bahagia bisa memberikan seluruh energi dan kemampuan sehingga bisa memberi “nyawa” dalam pertunjukan garapan Atilah Soeryadjaya itu. “Saya merasa bahasa tarian itu membius penonton lintas budaya. Pada saat itulah, saya bangga menjadi orang Indonesia. Ada kesadaran nasionalisme yang terungkap kembali,” ujar Fajar yang berperan menjadi Raden Mas Said dalam pergelaran akbar yang juga dipentaskan di Indonesia Mei lalu.

Sebentar lagi, Matah Ati akan melakukan tur keliling ke Asia dan Eropa. Pertunjukan ini kian menambah panjang pengalamannya bekerjasama dengan para maestro tari Indonesia sejak tahun 1990. Di antaranya Sardono W. Kusumo, Miroto, Retno Maruti, Elly D. Luthan, dan Atilah Soeryadjaja. Tak hanya untuk kapasitas lokal, tapi juga berbagai event tari internasional, seperti di Jerman, Brazil, Jepang, Amerika, dan Inggris. Sementara sepanjang 2009 lalu, ia berkeliling beberapa kota di Inggris untuk mementaskan karya sendiri, Suara-Suara dan Tiga Karakter Topeng. Ia juga memberikan workshop tari di dalam negeri dan di Iuar negeri. (more…)

Read Full Post »