Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2011

Petualang Kehidupan                                                                              

 kemal jufri

Passion itulah yang membuat saya selalu kembali, dan kembali…  

Perjumpaan dengan Kemal Jufri terjadi pada sebuah senja di Anomali Coffee, Setiabudi Building, Jakarta. Ia duduk di dekat kaca, menghadap  jalan raya dan gedung-gedung tinggi di seberangnya, lalu bercerita tentang pengalaman hidupnya sebagai jurnalis foto dengan amat ekspresif. Setiap foto yang dibuatnya adalah cerita panjang yang sangat personal, dibuat dengan sepenuh jiwa dan mata hatinya. Tak berlebihan kiranya bila tahun ini ia mendapat juara ke dua World Press Photo (kategori People in The News Stories), penghargaan dalam tiga kategori dari Picture of The Year International – semacam World Press Photo versi Amerika, serta China International Photo Contest yang memberikan Gold Prize. Ia adalah jurnalis foto pertama Indonesia yang meraih penghargaan tertinggi untuk fotografi jurnalistik itu.

Kemal terlihat menawan dengan kemeja biru tua yang berpadu celana kargo khaki. Dari salah satu sakunya, ia mengeluarkan Krama, syal kotak-kotak khas Kamboja, benda yang amat berguna untuk melindunginya dari berbagai kendala cuaca. “Karena saya bekerja dalam suasana ekstrim, saya perlu menyiapkan busana kerja yang berteknologi quick-dry, celana berkantung-kantung, serta sepatu nyaman yang juga berteknologi tinggi,” katanya. Jika ia dianggap punya “taste” jurnalistik baik, demikian pula dalam penampilan. “Bukan soal modis, hanya segala hal ini membantu saya dalam bekerja dengan nyaman,” elaknya. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Perempuan dalam Tari                                                                                     

Retno Maruti

Apakah pencarian identitas diri perempuan dalam karya-karya yang diciptakan adalah bagian dari luapan kegelisahan dirinya sendiri?

Di teras itu, Retno Maruti menari. Angin berdesir, menyentuh dedaunan pohon tinggi yang rindang, menggesekkan irama alam, membuat sepotong gerakan tarian itu menyatu dengan alam sekitarnya. Ia terus menari, seolah kilatan kamera yang mengambil gambarnya adalah bagian dari pementasannya. Siang terik terasa sejuk tepat di teras rumah kediaman Maruti di Jakarta Timur. “Maruti itu artinya angin,” kata Maruti, di sela-sela kesibukannya mempersiapkan pementasan bertajuk Sawitri di Gedung Kesenian Jakarta, akhir Mei.

Pementasan Sawitri  merupakan syukuran 35 tahun berdirinya Padnecwara, padepokan tari yang dipimpinnya. Berkisah tentang kesetiaan dan perjuangan seorang perempuan untuk mendapatkan cinta sejatinya – sebuah perjuangan yang mengingatkan pada diri Maruti. Ia mengembara dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan penuh keteguhan hati dan perjuangan, untuk meraih cintanya dalam dunia tari. “Menari adalah kebutuhan jiwa. Membuat fisik sehat juga perlu, tapi yang lebih penting, saya bisa merasa tenteram dan damai ketika menari,” ia memberi alasan. Senyum membayangi wajahnya. (more…)

Read Full Post »

Pesan dari Sehelai Kain

Okke Hatta Rajasa

okke hatta rajasa

Seperti perajin yang menenun dengan segenap  hati dan rasa, maka seperti itulah ia memberikan jiwa pada sesuatu yang dicinta

 

Perkembangan tenun Indonesia yang semakin gemerlap dalam dunia fashion tahun belakangan ini rasanya agak sulit dipisahkan dari sebuah nama: Cita Tenun Indonesia (CTI). Organisasi para pecinta tenun untuk melestarikan dan sekaligus memasarkan tenun Indonesia ini telah membuat produk tenun menjadi the new lifestyle. Kegemilangannya bahkan sudah melebar hingga ke manca negara. Dan di balik segala keberhasilan, ada jerih payah Okke Hatta Rajasa, Ketua CTI, untuk mewujudkan mimpi: tenun go internasional.

Begitulah. Okke dan CTI  tidak hanya memikirkan tenun menjadi lebih berkilau, namun juga menyentuh persoalan yang lebih esensial: berbagi pengetahuan dan wawasan, sekaligus pemberdayaan perempuan dan masyarakat perajin.  Memecahkan kebuntuan pada tenun yang awalnya hanya dipakai dalam acara adat dan formal. Sebagaimana diketahui, sebelum CTI lahir pada tahun 2008, tenun berada dalam kondisi suram diakibatkan oleh berbagai keterbatasan. CTI mempertemukan dan menjembatani antara pengguna dengan perajinnya, antara produksi dan pasar. Hasilnya Anda bisa lihat  tenun menjadi demikian seksi, seperti dalam pergelaran CTI di Jakarta Fashion Week lalu. (more…)

Read Full Post »