Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2011

Suara Lain

Kekuatan dalam menghadapi kehidupan dibangkitkan dari semangat yang terus membara dalam dirinya

Pertemuan ini terjadi pada situasi ketika jutaan mata menatap pada perkembangan kasus dugaan korupsi yang menimpa salah satu hakim Mahkamah Konstitusi (MK). Risikonya mudah ditebak. Birokrasi menjadi lebih berbelit sehingga memerlukan ekstra waktu dan kesabaran, untuk bisa bertemu salah satu hakim agung, satu-satunya perempuan, Prof. Dr. Maria Farida Indrati S.H, M. H. Namun untunglah, situasi ini berubah seratus persen ketika bertemu Maria di ruang kantornya yang dingin dan sunyi di lantai 13 gedung MK Jumat siang itu. Ia menyapa hangat dan bersahaja. Busana biru tua dengan perhiasan mutiara.

“Saya baik-baik saja di sini, meski banyak sorotan ditujukan pada tempat saya bekerja,” ujarnya membuka pembicaraan. Nada suaranya menenangkan. Meski kemudian muncul pengakuannya. “Memang ada perasaan limbung pada hari-hari pertama, aduh saya mau kerja apa, karena semua ribut, ada Tim Investigasi. Padahal kalau ketemu kami sering bercanda,” ungkap Maria yang baru dua tahun terakhir menjadi Hakim Konstitusi.  Tapi sekarang, tuturnya, tiada lagi beban itu. “Biasa, masing-masing media punya versinya sendiri.” (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Bunker Kenyamanan

antony liu

Memainkan emosi, memainkan imajinasi. Itulah hal yang selalu ingin ditaklukkannya

Sejurus mata memandang adalah hamparan hijau rumput dan pepohonan. Di sela-sela hehijau rumput ada batuan putih membentuk aksentuasi seperti salju meleleh pada awal musim semi. Angin sepoi semilir, menggesek dedaunan, memberi irama tersendiri di samping suara hewan pengerat yang sore itu sudah bekerja keras. Suasana sore kian sejuk, menghapus dua jam perjalanan penuh kemacetan hari Jumat dari Jakarta menuju studio TonTon, Gading Serpong, Tangerang. Segelas es teh dan roti isi daging di atas meja kayu panjang melengkapi pertemuan dengan Antony Liu, 43 tahun, arsitek yang namanya selalu menjadi langganan penghargaan desain arsitektur di Indonesia, IAI Award.

“Desain arsitektur tidak cukup hanya dilihat atau diceritakan. Tapi harus dialami,” Antony memberikan penjelasan mengapa wawancara harus dilangsungkan di studio dan rumah tinggalnya yang terletak hanya beberapa ratus meter. Dan apa yang dikatakannya benar. Segala hal yang tertulis atau tergambar dalam media-media yang pernah menuliskannya tidak bisa mewakili perasaan dan kenyataan saat memasuki studionya – seperti terlukis di atas-, maupun suasana rumah tinggalnya yang bernama Bea House yang mendapat pujian IAI Award 2009. (more…)

Read Full Post »

Menjemput Impian

Ia mengolah buncah keinginan dan harapan yang terpendam dalam kesabaran

 

Suara jengkerik dan hewan pengerat menjadi orkestrasi malam di “ruang kerja” Atilah Soeryadjaya. Sebuah meja kayu panjang ditutup dengan kain batik motif lama ditemani vas berisi bunga sedap malam yang wanginya terus menguar sepanjang percakapan. Sejurus pandang menatap lepas ke taman tempat pohon-pohon tinggi berdekatan kolam renang. Aroma rumput basah sesekali terbawa desir angin bersamaan dengan gemericik air kolam. Suasana terasa hening, khusuk, dan meditatif. “Di sinilah, saya mencipta Matah Ati,” ia membuka pembicaraan. Matanya berbinar. Ada kebahagiaan, ada kebanggaan.

 

Di atas meja terletak bermacam media yang memberitakan kesuksesan pergelaran perdana Matah Ati pada Pesta Raya Malay, Festival of Art, di Theater Hall, Esplanade, Singapura, Oktober lalu. Dalam pertunjukan keliling dunia tersebut, Atilah bertindak sebagai konseptor, penulis naskah, penata kostum, sutradara, sekaligus produsernya. Banyak pengamat seni lokal dan asing memberikan apresiasi positif terhadap garapan Atilah yang dianggap memberikan angin segar dalam seni pertunjukan Indonesia. Ia mementaskan Langendriyan, yakni perpaduan seni drama dan tarian khas Kraton Mangkunegaran, Solo. Sebentar lagi, Matah Ati akan segera pentas di Kuala Lumpur, Hongkong, Beijing, dan beberapa Negara Eropa di sepanjang tahun 2011. “Yang terpenting, kesuksesan ini terjadi berkat energi seluruh tim yang menyatu dan inilah hasil karya kita bersama,” ia menegaskan. (more…)

Read Full Post »

Sang Petualang


Dunia acting menjadi pelengkap petualangan kehidupan yang selalu diciptakannya

Penuh kontradiktif. Perasaan itu muncul sesaat setelah melihat penampilan Ario Bayu Wicaksono pagi itu. Wajahnya segar. Rambutnya yang habis dipotong cepak masih sedikit basah. Tubuhnya tinggi dan berisi dengan tatapan mata tajam di bawah alis tebalnya. Lalu kemanakah si Amir yang homoseksual tulen yang diperankan oleh Bayu (nama akrab Ario Bayu) dengan sangat luget dalam pementasan drama musical Onrop! itu? Sebaliknya, ia memperkenalkan diri dengan gestur tubuh yang tegap bak polisi. Sisi maskulinitas tampak menonjol pada dirinya. Sedang beraktingkah dia sekarang?

Bayu tersenyum menanggapi keraguan itu. Bukan yang pertama ia memerankan pria homoseksual. Sebelumnya, ia berperan serupa di film Pesan dari Surga dan Kala yang disutradarai Joko Anwar. “Saya senang sekali kalau kelelakian saya dipertanyakan. Ini artinya saya berhasil memerankan dia,”ujarnya diplomatis, matanya menatap tajam. Suara musik jazz kembali mengalun di restoran tempat pertemuan. Suasana terasa seperti sebuah penggalan adegan drama ketika seorang tokoh lelaki meyakinkan kekuatan cinta pada kekasihnya. Apalagi kemudian terlihat ia menghembuskan asap rokoknya dengan mendongakkan kepalanya. Membiarkan suasana lengang. Seperti sedang berpikir. (more…)

Read Full Post »

Sketsa Perjalanan


“Suatu hari, saya terbangun dan menjadi seniman.” Pramuhendra (26) tersenyum, mengerjap-ngerjapkan matanya yang indah, menggali kenangan atas perjalanan kreativitasnya hingga kini. Di sisinya, tergeletak kanvas besar berisi sosok diri dan keluarganya yang digambar dengan menggunakan arang, sebuah cara sederhana tapi meninggalkan pesona luar biasa, dan menjadi salah satu kekuatan berkaryanya. “Arang sangat filosofis. Semua akan kembali ke debu. Memori seperti debu. Suatu saat akan hilang. Hitam dan putih, dan di situlah dibutuhkan satu lapis imajinasi,” ia bertutur. Di sana, ada sentuhan dramatik dibangun. Gelap dan terang. Akting. Naskah. Penyutradaraan. Sebelum akhirnya jemari menggarapnya. (more…)

Read Full Post »

Mari Kuayun Tubuhmu dengan Sarungku

 

Dengarkan percakapan tubuh dengan sarung dalam pameran Teguh Ostenrik kali ini

Sosok-sosok tubuh dari besi bekas berjajar sepanjang ruang di Jakarta Art Distrik, Grand Indonesia, awal November lalu. Mereka seolah menggeliat, bergerak, acap terasa pasrah, namun dalam gestur amat indah bak menari dengan kain sarung yang tak hendak melepaskan dari dari tubuh yang diikuti. Pemandangan ini masih dikuatkan oleh sosok yang tertoreh di atas kanvas, menyatakan hal serupa. Suasana sedikit mengintimidasi di sini, di pameran tunggal Teguh Ostenrik berjudul Sarong, Identity?, dikuratori oleh Jean Couteau, yang diselenggarakan oleh Semarang Gallery.

 

“Belajarlah dari puisi,” ucap Teguh Ostenrik menanggapi kuratorial yang menyatakan bahwa berbagai karya tersebut bercerita mengenai metafor pemberontakan yang dilakukannya. Seperti terlihat nyata, sosok-sosok yang dibangkitkan Teguh terasa berada dalam situasi dialog dengan sarung-sarungnya dalam media tiga dimensi dari bahan besi bekas maupun di atas kanvas. (more…)

Read Full Post »