Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2010

Narasi Terpendam

Roby Muhamad

         Ilmu jejaring sosial-lah yang akhirnya mengantar ia kembali dan mengabdi untuk tanah airnya

Kini Anda hanya perlu satu rantai untuk mengenal Roby Muhamad (35).  Fisikawan dan sosiolog ini namanya dibincangkan dunia karena eksperimen Proyek Dunia Kecil yang dilakukan bersama Prof Duncan Watts dan Dr. Peter Dodds (2003). Proyek tersebut diadakan untuk menguji kembali hasil percobaan Stanley Milgram yang mengklaim bahwa sembarang dua orang di dunia hanya terhubung dengan rata-rata enam orang saja. Teori tersebut terkenal dengan nama Six Degree Separation, yang lantas menghasilkan kultur pop di Amerika tahun 1967 dan memunculkan istilah Small World! (dunia kecil)

Istilah dunia kecil itu rupanya menjadi besar bagi Roby. Jauh sebelum situs jejaring sosial seperti friendster, facebook, dan twitter meledak, ia sudah bergumul dengan miliaran bank data manusia di Columbia University, New York Amerika Serikat. Bersama Watts dan Dodds, ia menggeluti jejaring data-data manusia, relasi pertemanan, sosial, politik, agama, budaya, dan ekonomi. Hasil temuan mereka mengejutkan, yakni sebanyak 6 milyar penduduk di dunia (2003) ternyata hanya terhubung dari rata-data 6 orang saja! Istilah global village – yang pernah dikemukakan oleh Marshal McLuhan (1964) dan diramaikan kembali pada awal 1990-an oleh para futuris – bukan lagi imajinasi. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Melati untuk Ibu

 runi palar

Pengabdian, kepasrahan, dan totalitas berkarya adalah tiga kata kunci keberhasilannya

 

Runi Palar mencium kembali bunga kamboja kuning yang dipungutnya dari tempatnya berpijak. Sesuatu telah membuatnya terkenang, sehingga buliran air mata tiba-tiba mengaliri pipinya yang segar usai berdandan. Suasana serasa dalam sebuah adegan drama. Bayangan pepohonan jatuh dengan hangat di sebagian pipi dan seluruh halaman. Ia berdiri di tengah-tengah rumah tinggalnya  dengan Runa House of Design dan Museum –tempat ia meletakkan karya-karyanya,  di depan kolam teratai yang berbunga, di antara kebun penuh tanaman lokal yang begitu asri dan bebungaan yang ditata rapi.  “Saya rindu Ibu. Kalau saya sedang senang, saya selalu mengingat Ibu,” ujarnya.

Pertemuan ini terjadi di Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali. Runi baru saja kembali dari perjalanannya membawa rombongan berkeliling Jepang. Namun kali ini misinya bukan untuk mempresentasikan tren dua kali dalam setahun seperti rutinitas yang sudah dijalani selama 9 tahun terakhir. Ia mendapat kepercayaan dari pusat perbelanjaan Isetan untuk menggelar pameran Modern Bali Style 2010, di mana ia bertanggung jawab untuk membawa produk-produk terbaik Indonesia. Seperti diketahui, eksistensi Runi sebagai desainer perak ikonik Indonesia sudah diakui. Butiknya tersebar di Bandung, Bali, dan Yogyakarta. Sementara di Jepang, Amerika, Singapura, dan Hongkong, Anda bisa menemukannya di ritel-ritel butik eksklusif. (more…)

Read Full Post »

Membingkai Memori     

galam zulkifli

Begitu mudahnya ia membingkai rahasia banyak wajah dalam kehidupannya, tapi tidak untuk dirinya

Sebuah siang di bulan Juni menjadi saksi pertemuan. Galam Zulkifli memberikan sela waktunya yang padat untuk berbincang. Tapi tidak di kafe atau keramaian, ia meminta dewi datang di studionya tempat bekerja. Sebuah ruangan yang terasa lapang, tak banyak barang. Hanya ada rak buku besar yang tidak terisi penuh, karpet dengan sisa-sisa abu rokok yang menempel, serta gelas bening yang masih menyisakan ampas kopi. Bersandar pada dinding kosong, 3 kanvas berukuran 2 x 2 meter “berisi” wajah dengan ekspresi sangat kuat. Sorot-sorot matanya tajam dan hidup, seolah menatap siapa saja yang ada di depannya.

Di ruangan yang bernama Bale Black Box inilah Galam membangun karya-karya gemilangnya. Ia lanjutkan kesuksesan pameran di Swiss dengan kreasi terbaru berjudul Dark Side of The Earth vol.1-3. Karya sebesar 200 x 1400 cm tersebut dipamerkan di Ciputra Art World beberapa waktu lalu dan menuai puji karena teknik yang digunakan. Dalam satu kanvas ia membuat dua lukisan yang sama sekali berbeda bila diletakkan dalam cahaya dan tanpa cahaya. Eksperimen ini seperti mendebat pandangan modern mengenai perbedaan picture dan painting yang terletak pada konsep. Galam menunjukkannya juga pada cahaya. (more…)

Read Full Post »

Jembatan Dua Cinta

heri pemad

Ia selalu mencari cara membahagiakan orang lain, tapi belum pada cintanya.

 

Celoteh kisah dalam bahasa Jawa kental terasa begitu kontras di tengah alunan musik jazz di Loewy Restaurant, Mega Kuningan, Jakarta. Kisah yang begitu serunya, sehingga beberapa pasang tatap mata menoleh pada Heri Pemad, sang pemilik suara. Siang terik itu, ia tampak asyik berbincang menyantap grill escargot dari bistro Perancis dengan sesekali membetulkan letak kacamata. Ia menyelinap sejenak dari aktivitasnya memantau pameran Space & Image yang digelar di Ciputra Art World. Di ajang pameran seni akbar tersebut Heri Pemad Art Management miliknya bertidak sebagai event organizer.

Tapi perbincangan waktu itu sama sekali tak menyentuh kesuksesan pameran di Art Paris, persiapan Jogja Art Fair #3, atau konsep pameran dalam rangka pembukaan museum pribadi seorang kolektor besar Indonesia awal tahun 2011. Pikirannya masih tertambat pada seperangkat gamelan Jawa yang baru saja dipersembahkan pada warga di kampung masa lampaunya di Sukoharjo. Ia bercerita bahwa di luar kegiatan padat membuat pameran-pameran besar di berbagai kota dan negara, sengaja ia kosongkan waktu hampir setiap minggu demi menikmati alam pedesaan sambil melihat anak-anak kecil memelajari gamelan. “Rasanya senang bisa menyenangkan orang banyak,” ujarnya. (more…)

Read Full Post »

Interaksi Dua Hati

 

 

runi palar

runi palar

 

Melayani dengan sepenuh hati tidak hanya membuat ia bahagia, namun juga merupakan kunci kesuksesannya

Setelah pukul delapan malam, situasi Lodtunduh, Ubud, Gianyar, Bali terasa sepi. Hanya desah binatang malam seperti jengkerik memecah kesunyian. Atau sesekali terdengar desir angin yang mengusik dedaunan. Namun di sebuah rumah bergaya Bali itu musik klasik terus mengalun. Wangi bebungaan yang ditata rapi di setiap ruangan menyemarakkan suasana malam. Di sanalah, desainer perak ikonik Indonesia, Runi Palar, tinggal bersama suaminya, Adriaan Palar. “Rasanya seperti bulan madu terus,” Runi tersenyum, tersipu-sipu, mengawali pertemuan dengan Pesona awal Juli lalu. (more…)

Read Full Post »