Rustikaherlambang’s Weblog

Haris Purnomo

Advertisements

Hikmah di Balik Musibah

Di mana bayi-bayi Haris selama dua puluh tahun lamanya? Rupanya masih tertinggal di dalam pikirannya.

Haris Purnomo

Lukisan Haris Purnomo hilang! Itulah kabar yang beredar di saat pembukaan pameran seni akbar Miami Biennalle beberapa waktu lalu. Booth miliknya terlihat sunyi dibandingkan dengan kemeriahan pameran karya seniman-seniman pilihan yang datang dari seluruh penjuru dunia. Hanya ada tiga buah karya tiga dimensi berupa bayi yang dibedong dan diletakkan di sudut dinding putih bersih memberi kehidupan di sana, selain sebuah tulisan yang dibuat dari kapur berwarna. Bunyinya:

Where is my baby,

DHL Lost My Paintings?

Di bawah tulisan, Haris tampak asyik menggambar menggunakan kapur tulis seadanya. Orang-orang terlihat menikmati pemandangan. Pikir mereka, apa yang dilakukan Haris adalah sebuah pertunjukan seni yang sengaja dibuat untuk meramaikan pameran ini. Padahal lukisannya benar-benar hilang, terselip di antara paket-paket DHL yang mengangkutnya, hingga hari H tiba. “Setelah tahu kejadian sesungguhnya, mereka langsung memeluk-meluk saya. Bahkan ada yang menangis. Termasuk Gloria Estefan dan Enrico Iglesias yang sengaja datang memberikan dukungan,” Haris tersenyum mengenang. Akibat kejadian tersebut, Museum Coca di Seattle mengundangnya untuk berpameran. Agenda ini, dengan demikian, melengkapi perjalanan karya-karya Haris di berbagai negara seperti New York, Jakarta, Zurich, Milan dan Praha.

Haris Purnomo adalah nama yang terus melejit melampaui nama-nama seniman di Indonesia maupun manca negara belakangan ini. Setelah memenangkan penghargaan seni The Schoeni Public Vote Prize, Sovereign Asian Art Award, Hongkong, tahun 2007, dunia seni rupa mulai meliriknya. Kemampuan teknisnya yang luar biasa di balik ide besarnya mengenai realitas dalam masyarakat mulai mengundang banyak pujian. Wajah-wajah bayi bertato yang senantiasa ditampilkan melalui kanvasnya rupanya menjadi kegemaran baru di pasar. Di balai-balai lelang Asia Tenggara, seperti Christie’s, namanya selalu ada, dan memiliki nilai jual yang cukup signifikan.

Sebelum tahun kemenangan itu, namanya seperti tak pernah ada atau diperhitungkan di jagad seni rupa. Padahal ia ada, tapi harus mengubur dalam-dalam seluruh kemampuannya. “Sebenarnya saya sudah menggambar seni kontemporer seperti itu sejak 1980-an. Tapi tak seorangpun mau. Ya, akhirnya saya tutup buku, dan bekerja di perusahaan periklanan,” tuturnya terus terang. Sepanjang waktu itu, ia melukis beberapa, hanya untuk dipajang di dinding meja makan rumahnya. Mungkin ini sebuah cerita sedih, tapi ia tak mau menampakkannya.

“Dari kecil memang cita-cita saya jadi pelukis,” akhirnya ia mau bicara tentang dirinya setelah berjam-jam wawancara dilakukan. Sifatnya yang pendiam, pemalu dan tertutup terasa benar dalam perbincangan. Setiap kata-kata yang akan disampaikan, dipikirkan dalam-dalam. Itu sebabnya kalimat yang dikatakan tersebut menyiratkan pesan bahwa bila sudah punya keinginan, maka ia akan berusaha mencapainya, tanpa kata-kata. Ini pula alasan mengapa ia bisa menyiapkan energi untuk menggambar dengan peralatan sederhana saat di Miami Bienalle, kendati sesungguhnya ia sangat frustasi setelah seminggu sebelumnya bolak-balik ke bandara dan membongkar-bongkar peti di DHL yang mengangkut barangnya.

Haris lahir sebagai sulung dari 10 bersaudara. ”Ayahku seorang guru bahasa di sebuah SMP, sebelum dia jadi lurah di sebuah desa kecil di kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Ibuku, ibu rumah tangga yang senang membordir dan membuat taplak meja,”kisahnya. Meski ayah-ibunya tak ada yang suka menggambar, bakat gambarnya tumbuh dari lingkungan sekitarnya. ”Banyak faktor yang merangsang saya untuk menggambar. Orang tua saya selalu memberikan kanvas. Mereka juga membolehkan saya mengoleksi dan membaca komik, padahal di masa itu banyak keluarga melarang anaknya membaca komik. Menurutku komik merangsang imajinasi,” lanjut Haris yang terpukau pada komik-komik karya Jan Mintaraga, Teguh Santosa, Hans Jaladara dan Ganes Th.

Di sisi lain, ia belajar banyak dari wayang. ”Aku tinggal di desa banget. Tak ada akses informasi. Itu sebabnya wayang paling banyak berpengaruh dalam hidupku, bahkan karyaku. Lihat saja dari warna hingga ornamen, itu berasal dari wayang,”aku Haris yang masa kecilnya dihibur dengan pertunjukan wayang yang ditontonnya hampir setiap satu minggu sekali. Di rumah, ada juga wayang kardus yang siap menjadi bahan eksperimen untuknya. Tapi soal cita-citanya menjadi pelukis justru dipicu oleh kekagumannya pada rumah seniman Affandi yang selalu dilewati setiap kali pergi ke Yogyakarta. ”Rumahnya aneh,”katanya geli.

Haris memutuskan untuk mengambil pendidikan sekolahnya di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) sebelum memasuki Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI-kini berubah menjadi Institut Seni Indonesia, Yogyakarta) untuk memperdalam ilmu menggambarnya. ”Kecuali orang tuaku, semua orang marah padaku. Tetangga, saudara,  semua bilang,’mau dikasih makan apa anakmu, kalau jadi pelukis. Pelukis itu ’madesu’, maksudnya masa depan suram,”ia lalu tertawa. Haris belia begitu tak peduli dengan semua anggapan ini. Pikiran-pikiran progresifnya –hasil dari pertemuan dengan situasi wayang dan teknik melukis – terus membuncah-buncah mencari bentuk baru dari sebuah seni. Ia lalu bergabung dengan PIPA (kepribadian apa?), yakni sekelompok seniman dengan idealisme baru terhadap seni rupa. ”Inilah yang sekarang dianggap sebagai seni rupa kontemporer. Bahkan di kampus pun waktu itu masih pro dan kontra,” Haris sempat memamerkan lukisan bersama teman-teman kuliahnya dengan tema ”Luka” di tahun 1984.

Sayang, perjuangannya harus mati muda. ”Saat itu, seni kontemporer nggak dianggap. Saya sudah mencoba, dan berusaha terus, tapi tak ada sambutan. Akhirnya, kalau saya teruskan tak ada artinya, saya putus langsung.” katanya. ”Saya harus realistis. Orang bilang saya kurang berani. Tapi saya punya anak, punya keluarga, itu yang ada di hadapanku yang lebih realistis. Saya tak menyalahkan dengan tidak diterimanya hal itu, tapi ada tanggung jawab yang lebih nyata,”ungkap bapak dua anak perempuan ini.

”Masa penantian itu sangat panjang. Aku sampai takut ke pameran. Takut ketemu teman-teman, apalagi ketemu tetangga yang bilang madesu. Ha ha ha… ternyata betul, madesu, sangat menyakitkan. Tapi tidak menyedihkan kok. Saya jalani dengan wajar,”katanya. ”Aku nggak pernah kuburkan hal itu. Aku selalu bilang ke teman-teman bahwa aku akan pameran. Maksud saya, ini adalah upaya untuk melecuti diri sendiri. Setiap ketemu teman, saya selalu ditanya, kapan kamu pameran. Dengan gagah kubilang, tahun depan. Selalu begitu. Sampai 20 tahun kemudian. Ha ha ha,” kali ini ia beraku-aku untuk menyebut dirinya sehingga suasana perbincangan mulai mencair. Haris tampak senang menceritakannya.

Ia kemudian bekerja di perusahaan periklanan. ”Saya bersyukur bisa bekerja di bidang ini. Proses kreatifnya hampir sama dengan menggambar. Bedanya, periklanan ada motivasi dan orientasinya ke pasar,”katanya kemudian. Di tempat ini ia akhirnya belajar mengenai public relation yang memberikannya jalan lempang untuk mengatur strategi ”kemunculannya” kembali di dunia seni rupa. ”Saya perhitungkan benar kapan saya akan mulai. Saya lihat situasi, galeri, memilih kurator, sebagai bagian dari strategi. Sejak 2004 saya sudah berpikir dan melukis lagi. Ketika akhirnya saya pameran tunggal di Nadi Gallery tahun 2006,  saya undang seluruh tetangga dan teman saya dari Yogyakarta, dan mereka harus datang,” ia tertawa mengingat pameran tunggalnya yang berlangsung 22 tahun dari pameran sebelumnya. ”Sebenarnya, skenario saya pelan-pelan. Saya kurang percaya dengan segala sesuatu yang instan,”tanggapnya tentang karyanya yang melejit dengan sangat cepat.

Keberhasilan ini seolah membuang kata madesu dari pikirannya. ”Kalau kita punya keinginan, kalau kita kerjakan dengan serius, walau secara ekonomi tetap kecil, tapi kita senang dan bahagia mengerjakannya, menurut saya itu bukan madesu. Itulah yang saya kerjakan selama ini.” Kini, Haris mulai menekuni lagi bakatnya. Berbagai pameran tingkat internasional sudah menanti di depan matanya. Ia seperti kalap yang mendapat tempat. Energinya yang terkubur sekian lama seperti emas yang kian menua, semakin tinggi harganya.

“Padahal saya ingin sekali menunjukkan pameran-pameran ini untuk sahabat saya, Gendut Riyanto. Dia dulu sangat mendukung dan memberi semangat pada saya. Tapi sayang, kini ia sudah tak ada,” kesedihan teraut di wajahnya. Di luar langit makin malam terlihat dari balik kaca restoran. Haris semakin terdiam dalam lamunan. (Rustika Herlambang)

Misteri Bayi dan Suara Bapak

Ketertarikan pada bayi atau anak-anak bukanlah datang secara instan. Sejak mahasiswa, ia sudah menggambar bayi-bayi di kanvasnya. “Saya lihat secara fisik, bayi itu lucu, menggemaskan. Waktu kuliah, saya menggambar berdasarkan iklan-iklan dari majalah-majalah bekas yang saya beli di shopping”, ia menjelaskan. Shoppping adalah sebuah nama lokasi penjualan buku dan majalah bekas yang tersohor di Yogyakarta. “Awal mulanya memang ide yang emosional. Bayi itu lucu, menggemaskan. Aneh, karena tiba-tiba ada calon manusia yang muncul.”

Perasaan itu kemudian tergali. Bayi kemudian menjadi sebuah ide. “Bagaimana hidup bayi ini ke depan? Akhirnya muncul kekhawatiran saya. Bagaimana masa depan bayi-bayi ini di tengah realita seperti sekarang ini? Itu yang kemudian terasa di lukisan,”ujarnya. “Sebagai bapak, hal yang pertama dilihat ketika punya bayi adalah apakah bayi ini bertubuh lengkap? Kedua, bagaimana masa depan anak ini? Pikiran-pikiran seperti ini pasti ada di kepala para Bapak. Bila mereka mungkin diam, tak terkatakan, kalau saya terungkap. Soal anak selalu suara perempuan yang didengarkan, suara lelaki tak pernah. Setelah saya pikir, ini adalah soal mewakili cerita bapak. “

Keresahan ini barangkali berasal tak jauh dari lingkungannya. Dia sudah terbiasa empati dengan penderitaan masyarakat sekitarnya. Pengalaman sebagai anak lurah di sebuah desa menjadikannya begitu dekat dengan berbagai persoalan hidup. “Menjadi lurah itu benar-benar lurah. Ia tak digaji oleh pemerintah, melainkan dapat sebengkok sawah. Rumah saya 24 jam terbuka untuk siapapun warga daerah. Segala hal yang berkaitan dengan pernikahan, peceraian, hingga masalah desa diselesaikan di rumah bila kantor sudah tutup.”

Empati sosial ini kemudian mendapat tempat ketika lingkungan rumahnya, tak jauh dari perkampungan betawi. Di Ancol, tempat ia punya sanggar seni, ia sering mendengarkan keluhan dari para “tetangga-nya”. “Kadang sedih mendengar bahwa ada bapak-bapak yang berkata, ah paling kusekolahin sampai SD. Atau ketika melihat pengemis bawa bayi di perempatan jalan. Ini semakin menunjukkan betapa kondisi sosial tak sehat.” Lebih jauh lagi, ia mengingatkan akan hak-hak anak menurut Konvensi Jenewa, bahwa Negara bertanggung jawab sampai soal pendidikan dan kesehatan. “Ada lagi pendapat, setiap bayi lahir di Indonesia sudah dibebani hutang Negara. Itu merisaukan sekali walau ke saya hanya sampai sebuah berita.”

Bila dulu ia terinspirasi pada iklan dengan model bayi, maka inspirasi itu menguncup pada bentuk bayi yang sesungguhnya. “Saya berburu bayi waktu awal-awal melukis lagi. Saya pergi ke sebuah rumah sakit bersalin kecil, yang biasa memasang wajah-wajah bayi baru lahir. Lalu diam-diam saya minta foto bayi yang saya suka,”katanya sambil memberikan kriteria bayi kesukaannya: ada estetikanya yang bisa membangun citra tertentu tergantung moodnya. Tapi selanjutnya, ia meminta orang lain melakukan itu. “Sekarang setiap ada bayi baru, sudah banyak orang yang membawa ke sanggar saya untuk difoto,”katanya. Setiap bayi, ia biarkan bebas bergerak, dan dia ambil fotonya hingga ratusan kali.

Banyak hal yang rupanya ingin disampaikan Haris melalui “bayi-bayinya” itu.” Pada prinsipnya saya merasa kalau koruptor silakan ditangkap. Tapi baiknya, kita memelihara anak-anak supaya tak jadi koruptor. Saya ingat kalau ada tukang batu yang mengeluh tak bisa menyekolahkan anak, saya memang tak langsung tersentuh. Tapi malamnya pasti berpikir. “ Di sisi lain, situasi sosial politik di Yogyakarta di masa dia kuliah , di mana kekuasaan orde baru sedang kuat-kuatnya menjejakkan kakinya di Indonesia, sambil membungkat suara-suara yang tak senada, semakin menguatkan perenungannya tentang kehidupan.

“Tato dalam tubuh bayi itu adalah sebuah metafora,”kata Haris yang terinspirasi tato dari wayang dan komik-komik yang dibacanya waktu kecil. “Bayangkan, bayi satu bulan di tato, mungkin nggak? Tato kan sakit sekali?” saya ingin menggambarkan sesuatu yang sakit sekali tapi dengan cara yang tidak menyakitkan.” Tak jelas apakah karena kecintaannya pada obyek bayi membuat ia merasa sangat menyukai perempuan-perempuan yang sedang hamil.  “Mungkin karena figur keibuan ya.. Saya nggak tahu apakah itu keanehan atau bukan. Tapi saya merasa ibu hamil itu memberi kehidupan untuk anaknya. Spirit keibuan itulah yang selalu membuat perempuan terlihat menarik di mata saya.” (RH)

Advertisements

Advertisements