Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2009

Bulan di balik Awan Hitam

Gede Mahendra Yasa

Gede Mahendra Yasa

Ia berdayakan seluruh kelemahan dan penderitaan selama bertahun-tahun menjadi sebuah kekuatan dalam menata hidup dan masa depan.

Di akhir senja,  Gede Mahendra Yasa bisa bercerita tentang dirinya. Formalitas yang tampak di jam-jam pertama pertemuan tak lagi ada. Seniman Bali yang baru saja meraih penghargaan Award of Mapping Asia di CIGE 2009 ini rupanya memerlukan waktu yang khusus untuk memanggil mood-nya. Di atas balkon SigiArt, menghadap keramaian kota, dan matahari jatuh di kejauhan, ia  “membawa” dewi menuju rumah-rumah masa lalunya nun jauh di sana, di Singaraja.

“Singaraja adalah Bali Utara,” Hendra, nama akrabnya, membuka pertemuan dengan perbincangan serius. Wilayah ini memiliki tradisi sedikit berbeda dibandingkan dengan Bali Selatan yang masih ketat memegang adat – tempat banyak seniman asal Bali yang namanya kini menanjak dalam percaturan seni rupa Asia Tenggara. Karena terletak di pesisiran, pernah menjadi ibu kota propinsi di masa pendudukan Belanda, kehidupan masyarakatnya jauh lebih dinamis. Apalagi ia dilahirkan dari keluarga berkecukupan dan tinggal di wilayah perkotaan. Ayahnya seorang dokter. Hubungan dengan tradisi Bali pun relatif longgar karenanya. “Boleh dibilang Bali abangan. Perkenalanku dengan wayang justru dari RA Kosasih.” (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Nyanyian Tubuh

dolorosa sinaga

dolorosa sinaga

Ia sublimasikan tradisi menyanyinya dalam tubuh-tubuh patung-patung yang menyuarakan kebebasan dan kemerdekaan untuk perempuan

Bila diandaikan sebuah musik, patung-patung ciptaan Dolorosa Sinaga tentunya membentuk sebuah orkestra musik yang indah dan dramatik. Situasi ini terbangkitkan melalui bentuk keseluruhan patung yang begitu bergerak dan bercerita. Terlihat dari struktur tubuh, eskpresi, gestur, gerakan, tekstur patung, yang akhirnya memunculkan sebuah gerakan, melawan, bermain sepenuhnya mengikuti kata hati. Perasaan itulah yang muncul ketika dewi memasuki ruang studio Dolorosa akhir Juni lalu. Patung-patung yang “menghuni” ruangan seperti hidup, melayang-layang ruhnya, dan seolah ikut bercengkerama dengan makluk hidup yang memasuki wilayahnya. (more…)

Read Full Post »

Bersiaplah menuju dunia imajinasi Louis Vuitton: Passion for Creation yang membuka pandangan baru seni kontemporer tentang sebuah kolaborasi.

cao fei

cao fei

Ketika label Louis Vuitton pertama kali berdiri, mereka memposisikan dirinya sebagai the art of travel.  Barangkali para pendiri Louis Vuitton sudah berpikir panjang mengenai istilah ini. Buktinya, hingga kini, label asal Perancis ini masih tetap berjaya di tengah persaingan dunia citra yang luar biasa. Travel di sini akhirnya berkembang tidak hanya sekadar perjalanan, tapi juga petualangan. Nah, petualangan itulah yang tampaknya ingin dibagi bersama masyarakat, setelah 150 berkarya, hidup berdampingan dan saling menguntungkan.

Apabila kali ini mereka membawa sebuah petualangan dan pengalaman seni, tentu hal itu bukan hal yang berlebihan. Seperti diungkapkan Marc Jacobs pada media, ”Louis Vuitton adalah kemewahan, seni adalah kemewahan –persamaan konsep itulah yang menjadi landasan kolaborasi menjadi tercipta karenanya.” Ide ini kemudian mendapat tempat ketika datang sepucuk undangan dari French May Festival – yakni ajang kebudayaan tahunan setiap musim semi di Hongkong. Louis Vuitton pun lantas mendedikasikan Foundation Louis Vuitton pour la Creation untuk berpartisipasi melalui sebuah pameran akbar seni dengan tajuk Louis Vuitton: Passion for Creation. (more…)

Read Full Post »

Pada akhirnya, karya adalah sebuah hal yang sangat personal. Itulah yang terasakan pada MUSE Exhibition di Galeri Louis Vuitton, Tsim Tsa Tsui, Hong Kong

passion for creation

passion for creation

Adalah sebuah kemewahan ketika memasuki sebuah lorong panjang yang kemudian menghadapkan Anda pada sederetan maha karya dalam sebuah jejak rekam perjalanan label Louis Vuitton. Hal ini tidak saja merupakan indikasi mengenai sejarah waktu yang sedemikian panjang bagi sebuah label, yakni 150 tahun, namun juga pergulatan yang terjadi agar senantiasa eksis di tengah persaingan kebutuhan gaya hidup lainnya. Pemandangan ini begitu terasakan ketika menghadiri pembukaan pameran MUSE Exhibition di Galeri Louis Vuitton, Tsim Sha Tsui, Hongkong, akhir mei lalu. (more…)

Read Full Post »

Aktivis LSM Bersepatu Boot

yuyun ismawati

yuyun ismawati

Ia ingin menjadi bagian dari sebuah perubahan. Kendati untuk itu ia harus berbenturan dengan segala persoalan yang sepertinya tak bisa diselesaikan

Apa lagi kata yang lebih tepat untuk menggambarkan Yuyun Ismawati kecuali sifat pemberontaknya yang sangat menonjol? Ibu tunggal dengan dua anak perempuan ini  memang benar-benar memberontak dengan segala sistim yang ada dan mencoba menciptakan tatanan tersendiri yang menyangkut sampah dan sanitasi –sesuatu yang pasti tak berbau wangi dan selalu dijauhi. Sebaliknya, ia memikirkan, menggalang, dan melata bersama komunitas masyarakat pengguna sampah sehingga sampah menjadi benda yang berharga sebelum akhirnya dibuang. Atas dasar itulah ia mendapatkan penghargaan Goldman Prize Award 2009, atau yang sering disebut nobel dalam bidang lingkungan. (more…)

Read Full Post »

“Rumah Idaman”

anies baswedan

anies baswedan

Keberhasilannya selama ini barangkali datang dari sudut pandang yang penuh optimisme terhadap segala hal tentang kehidupan

Di antara 100 intelektual dunia versi jurnal Foreign Policy (Amerika Serikat) 2008, terdapat nama Anies Baswedan. Pria 40 tahun yang dikenal sebagai peneliti dan kini menjadi Rektor di Universitas Paramadina, Jakarta, tercatat bersama nama-nama besar intelektual penting dunia seperti Samuel Huntington, Francis Fukuyama, dan Thomas Friedman. Prestasi ini tak berhenti sampai di situ. Awal tahun, ia dikukuhkan sebagai Young Global Leaders 2009 oleh World Economic Forum yang berpusat di Jenewa.

Kebesaran namanya tidak lantas membuatnya arogan. Hal itu sangat terasakan saat menemui Anies dalam beberapa kesempatan di tengah padatnya agenda. Sebaliknya, ia sangat rendah hati dan santun. Wawasannya yang luas ditambah ilmu retoriknya yang luar biasa membuat suasana wawancara terasa seperti bapak yang bercerita untuk anaknya. Senyum dan tawa renyahnya banyak mewarnai. Saat ditemui di kampus, ia mengenakan kemeja putih lengan pendek dengan celana panjang hitam, yang rupanya seragam dengan beberapa stafnya, ia tampak begitu bersahaja. (more…)

Read Full Post »

Hikmah di Balik Musibah

Di mana bayi-bayi Haris selama dua puluh tahun lamanya? Rupanya masih tertinggal di dalam pikirannya.

Haris Purnomo

Haris Purnomo

Lukisan Haris Purnomo hilang! Itulah kabar yang beredar di saat pembukaan pameran seni akbar Miami Biennalle beberapa waktu lalu. Booth miliknya terlihat sunyi dibandingkan dengan kemeriahan pameran karya seniman-seniman pilihan yang datang dari seluruh penjuru dunia. Hanya ada tiga buah karya tiga dimensi berupa bayi yang dibedong dan diletakkan di sudut dinding putih bersih memberi kehidupan di sana, selain sebuah tulisan yang dibuat dari kapur berwarna. Bunyinya:

Where is my baby,

DHL Lost My Paintings? (more…)

Read Full Post »