Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2008

Tafsir Portrait
Indra Leonardi

Karya dan pribadinya begitu sejiwa. Karena itu, imajinasi menjadi sangat penting saat menerobos semesta Indra yang sesungguhnya.

indra leonardi
indra leonardi

Indra Leonardi hampir saja beranjak pulang ketika ia melihat Joseph Estrada dengan pakaian kebesarannya turun dari tangga. Seluruh perlengkapan fotografi yang sudah dimasukkan dalam tas-tas dengan rapi -karena awalnya dibatalkan– dengan sigap dibongkar, dan dibentuknya lagi sebuah studio mini. Semua serba kilat. Sekilat ia kembali membangunkan imajinasi, mood dan juga energinya yang sudah hampir habis karena menunggu, menunggu dan akhirnya memotret istri Estrada yang sesungguhnya tak ada di jadwalnya.

Foto yang dibuat secara cepat itu menjadi foto kenegaraan yang dipasang di istana Malacanang di kemudian hari. Seselip rasa kebanggaan muncul meski hanya sekejap dirasa. Beberapa tahun kemudian, berbarengan dengan kudeta berdarah yang terjadi disana, foto yang menjadi lambang supremasi kekuasaan itu diinjak-injak dan dibakar massa secara kejam. “Sedih juga. Di tivi aku melihat orang-orang kalap merusaknya..,”Indra mengenangkan sepenggal kisah dalam hidupnya sebagai seorang fotografer potret. (more…)

Read Full Post »

Ira Maya Sopha

Bukan Tante Mona

ira maya sopha
ira maya sopha

Peran di filmnya jauh lebih menonjol dibandingkan dengan realita kehidupannya

Di kafe itu, dewi mencari Ira Maya Sopha. Sms yang dikirimkan baru saja mengatakan bahwa dia sudah datang setengah jam lalu. Tapi,  tak ada Ira di sana.  Seorang pegawai kafe memberi kode. Ira berada di lantai bawah, duduk di sofa di bawah anak tangga. Dia sendirian, memojok di ruang remang-remang.

”Hai, sayang..,”ia menyapa dengan riang.  Lalu memberi pelukan spontan. Tangan kanannya sengaja dibuang jauh-jauh. Mungkin dia khawatir rokoknya yang masih menyala akan mengenai lawannya.

Loh kok di sini?
”Iya, di atas ada dua bapak-bapak. Aku takut. Takut mereka akan mengenaliku..”

(more…)

Read Full Post »

Ada Apa dengan Rudi Soedjarwo?

rudi soedjarwo

rudi soedjarwo

Sutradara bertangan dingin ini justru memiliki kisah yang lebih dramatis dibanding film-film yang telah dibuatnya.

Rudi Soedjarwo adalah sutradara yang tak pernah kehabisan ide. Semakin banyak berbincang dengannya, kian banyak ide yang akan terlontar dari pikirannya. Ia pun memiliki kemampuan bercerita yang baik, sehingga patner berceritanya pun dengan mudah akan tersentuh daya imajinasinya. Apalagi saat bercerita tentang film, ia akan menggambarkannya secara detil, lengkap dengan settingnya, kita pun seolah menyaksikan pertunjukan film yang sesungguhnya.

Boleh jadi karena kelebihan inilah ia mampu mencetak film-film laris di Indonesia. Karena idenya yang terus mengalir seperti air, ia tidak pernah melewatkan waktunya tanpa membuat film. Tahun ini saja, ia sudah merencanakan membuat 3 film dalam setahun. Ini berarti di tahun ke-6 ia berkarya, akan terdapat 14 film yang dibuatnya. Hasilnya cukup lumayan, sesuai selera masyarakat. ”Kecuali 9 Naga. Itupun sudah lebih dari 90 ribu penonton,” tukasnya, tanpa bermaksud menyombongkan diri.

(more…)

Read Full Post »

Kelomang Cinta

Rudi Mantofani

Rudi Mantofani

Bicaralah tentang karya, karena dia bisa. Tapi jangan bicara cinta padanya. Karena katanya, berbahaya!

Rudi Mantofani adalah nama yang terus menanjak dalam dunia seni rupa kontemporer Indonesia. Setelah 9 karyanya secara bersamaan terlelang di Christie’s Hongkong beberapa waktu lalu, popularitasnya meledak cepat, memenuhi pembicaraan di setiap sudut ruang pameran hingga perbincangan tak formal di kedai kopi multinasional. Kini, banyak kolektor, ruang pamer hingga balai lelang bergengsi macam Southesby, Singapura dan Christie’s Hongkong terus memburu karyanya. Berita terakhir, lukisan teranyarnya, Dunia Jatuh ke Bumi, terlelang hingga melewati angka 800 juta rupiah. Sebuah nilai yang fantastis!

Pendekatan Rudi dalam karyanya sejak awal memang sudah mencuri perhatian. Di atas kanvas, ia membalik-balikkan logika berpikir. Karya Pohon Apel misalnya. Ia menghantarkan hamparan padang rumput yang bergelombang dengan apel yang dipasang terbalik, dengan tangkai yang berada di bawah. Sederhana, memikat, tapi meninggalkan kesan yang dalam. Begitu juga dengan goresan warna-warnanya yang cerah membuat banyak orang menyukainya. “Karyanya orisinil. Rasional dan tidak ke bawah sadar. Dia mengembangkan konsep lansekap dan still life dengan semangat baru,” Kurator Enin Supriyanto memberikan komentar.

(more…)

Read Full Post »

« Newer Posts