Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2008

Dewi Edisi April 2008

Mencairkan Gunung Es

Dia tahu apa yang dia mau, dan tahu bagaimana strategi untuk menyalurkan semua keinginannya

Mencairkan Gunung Es

Mencairkan Gunung Es

Ketegangan usai rapat dari kantor, yang katanya cukup melelahkan, seolah menguap begitu saja, ketika Miranda Swaray Goeltom berada di depan kamera. Dia yang selalu terlihat serius di dalam layar televisi -terutama belakangan ini– tiba-tiba muncul dalam sosok yang menyenangkan, penuh canda, dan sedikit kekanak-kanakan. Manja. Lalu berpose, layaknya model profesional, tanpa sungkan atau grogi di depan puluhan orang yang berada di tempat itu. Sepertinya ia sangat menikmati segala proses yang terjadi. Yang pasti, dia tahu persis angle terbaik di mata kamera.

Rasa percaya diri itu memang sangat menguasai dirinya. Seperti ketika ia meluncurkan buku ketiganya, The Indonesian Experience -essays in Macro Economic Policy, di Jakarta, seminggu sebelum pemotretan berlangsung. “Saya puas dengan buku itu,” Miranda menuturkan buku setebal 600 halaman yang dipenuhi dengan data dan informasi detail, tertata rapi, dengan pengantar yang memudahkan orang awam sekalipun memahami pikirannya. “Saya setiap malam memompa semangat untuk membuatnya,” Deputi Senior Bank Indonesia (BI) mengenang kerja kerasnya. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

Kontribusi Untuk Negeri

Kontribusi Untuk Negeri

Kontribusi Untuk Negeri

Dewi edisi April 2008

Dia selalu ingin memberikan yang terbaik dari dirinya sebagai manusia, untuk manusia

Sedari awal, kue mayang, putu mayang dan serabi itu sudah menggoda mata. Warna baby pink, hijau muda, dan putih dalam kombinasi cantik tertata rapi di baki, seperti sajian prasmanan restoran Indonesia bintang lima. “Ini home made loh.. saya dan asisten di rumah yang membuatnya,”Christine Barki tiba-tiba saja memecah imajinasi. “Silakan dicoba,” ia memberikan piring-piring kertasnya, satu persatu, kepada seluruh tim dewi. Rasanya pun hmmmm.. nikmat!

“Saya selalu membawa kue-kue tradisional Indonesia, terutama bila ada acara kumpul seluruh karyawan setiap bulan. Kami bisa sharing apa saja,”Christine, Presiden Direktur PT Metropolitan Retailmart yang membawahi Metro Departement Store memulai cerita. Untuk itu, di tengah tumpukan kesibukan, ia selalu menyempatkan diri untuk berburu kue-kue tradisional di pasar. Bila ada ada waktu, ia membuatnya sendiri.

Siang itu, Christine tampil muda dan segar. Atasan kaus berwarna hijau muda-persis warna kuenya-berpadu dengan rok lebar bunga-bunga membuat wajahnya nampak lebih cerah dari biasanya. Ia terlihat sibuk dalam persiapan acara Dine and Dance untuk seluruh karyawan yang diselenggarakan di Balrooom Hotel Mulia, Jakarta, keesokan harinya. “Saya deg-degan..Soalnya besok hari spesial buat anak-anak. Temanya Hollywood. Semua harus harus dandan seistimewa mungkin dengan gaun terbaik mereka. Saya sewa usher untuk mengantarkan mereka masing-masing melewati red carpet, difoto satu persatu. Ah, ini seperti membangkitkan mimpi untuk mereka,” beber Christine penuh semangat.

Berbeda dengan family outbond yang selalu diselenggarakan setiap tahun, kali ini ia ingin mengajak karyawannya merasakan dunia gaya hidup glamour -sesuai pangsa pasar mereka. “Bila selama ini mereka meng-entertain orang, kini saatnya kami meng-entertain mereka. Firasat saya – entah benar atau salah- kalau kita memberi dan memperlakukan mereka dengan baik, mereka juga akan berbuat hal yang sama”.

Prinsip inilah yang dipegang Christine selama 15 tahun memimpin Metro. Di tengah persaingan ketat di antara mal dan departement store di Indonesia yang over supply jelas perlu strategi khusus. Acara di atas adalah salah satu strateginya untuk membangun loyalitas pada perusahaan. “Membuka toko itu mudah. Tapi maintenance itu sulit karena kita melibatkan ribuan karyawan. Satu gerai tutup, mereka kehilangan pekerjaan dan ini berantai pada keluarganya. Karena itu, saya cenderung sangat konservatif dan hati-hati untuk menentukan langkah,”kata Christine yang berharap bisa membuka Metro di second city. “It’s my dream. It’s challenge.”

Keinginan itu seolah menegaskan eksistensinya pada dunia retail Indonesia. Padahal, sebelum bergabung dengan Metro, tak pernah sekalipun terbersit keinginan untuk kembali ke Indonesia. Kala itu, ia telah mengisi posisi bergengsi di industri perhotelan di Amerika, sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalamannya. “Waktu itu, hotel tempat saya bekerja belum dibuka. Kemudian Grup Rajawali mengajak saya untuk mengembangkan Metro,”ia mengenang. Christine meraih gelar MBA dari University of Oklahoma dan Honorary Doctor in Marketing di University of California.

Dia tak mengiyakan segera. Sampai hatinya tersentuh ketika menghadiri sebuah acara pameran dagang internasional.”Saya sedih ketika disebutkan buah manggis dan nangka berasal dari Thailand. Lalu mana Indonesia? Sementara saat itu saya berkeliling dunia memberikan asistensi, audit dan membuat sistem. Kenapa saya tidak berbuat sesuatu untuk Indonesia?”

Itulah jalan awal dia kembali ke tanah air. Tidak langsung berjalan mulus, ia mengakui. “Salah satu kendala yang bikin aku kesel banget adalah human beeing. Mereka nggak punya kemauan untuk disiplin. Ini yang nggak ada di dunia lain kecuali di Indonesia, meski itu di negara berkembang seperti India atau China,” kekesalan meruak di wajahnya. “Untuk mengatasinya, pertama, harus to be firm. Bukan berarti kejam, tapi untuk memastikan bahwa semua tugas dijalankan. Kedua, saya harus memberikan contoh yang bagus. Kalau ini tidak diterapkan dari atas, lalu ngapain?”

Kesadaran berbangsa adalah hal lain yang meresahkannya. Ia -yang banyak bergaul dengan berbagai bangsa di dunia- merasakan bagaimana kesadaran berbangsa itu kurang ditumbuhkan di Indonesia. Karena itu, meski Metro berbendera Singapura, ia selalu menyelenggarakan upacara bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya setiap bulan. “Awalnya, they hate me!. Lalu saya bilang, kalau bukan kita yang menghormati bendera kita, siapa lagi?”, katanya tegas. Lalu ia memeragakan bagaimana karyawannya melakukan upacara dengan malas-malasan. “Lihat nih, sekarang mereka sudah begini,” ia menunjukkan foto-foto upacara bendera yang diletakkan dalam sebuah album bersamak kulit. “Biar orang bilang saya gila, tapi saya enjoy saja..”

Begitulah Christine. Meskipun ia ketat dalam berdisiplin, perhatian terhadap karyawan dan keluarganya tak terbantahkan. Dia seringkali memberikan kejutan-kejutan berupa motivational trip. “Saya ingat sekali ekspresi mereka ketika akhirnya sampai di puncak Bromo melihat matahari terbit di langit, yang aduh, indah sekali pemandangannya. Lalu saya bilang ke mereka, nothing comes free. Kalau kamu mau dapatkan semua ini, kamu harus bekerja keras.” Ia tersenyum. “Saya nggak melihat mereka dari segi bisnis saja. Saya juga ingin mereka berpikir out of the box.”

Barangkali pikirannya ini yang pada akhirnya menggoda Christine, yang beragama Katolik, saat mengembangkan event Jakarta-Kuala Lumpur Musleem Fashion Week. “Tujuan saya mengkampanyekan busana muslim, bukan untuk saya akan memakai busana muslim. Muslim akan very fashionable kalau diinterpretasikan dengan benar, jangan dikaitkan dengan agama. Itu yang saya harapkan dapat dimengerti. Fashion is fashion. Religion is religion. Muslim is elegant. Inilah tujuan utamanya.” Ia berkata dengan sangat cepat. Secepat ia berjalan dengan langkah-langkah panjangnya. Secepat ia berpikir tentang sesuatu hal dan memutuskannya.

Demikian pula ketika ia membawa jiwa idealisnya ke dalam proyek Corporate Social Responsibility (CSR) yang bergerak dalam kepedulian terhadap masa depan anak-anak dan lingkungan. “Anak-anak dan pendidikan adalah hal mendasar. Kalau mereka baca, berpengetahuan, maka masa depan bangsa ini cerah,”tukasnya sembari mempromosikan buku Keep save Our Ocean yang dibuat dalam 3 bahasa itu: daerah, Indonesia dan Inggris. Ke depan, dia masih terus mengembangkan proyek ini hingga ke berbagai pelosok negeri.

Sebelumnya dia pernah membantu anak-anak pembawa payung di depan tokonya. Ia mensubsidi seluruh keperluan sekolah, dan mereka diminta untuk membuat prestasi bagus. Dia juga memberikan pekerjaan-seolah-olah mereka bekerja selama 2 jam di Metro-sambil disiapkan makan siang bergizi. “Tapi, ujung-ujungnya, mereka juga gak punya pilihan lagi kecuali harus tetap bekerja, untuk keluarganya. Sekolah harus berhenti.” ia tampak begitu prihatin dan terpukul. Kemiskinan selalu memakan anak-anaknya sendiri.

Kenyataan ini barangkali jauh dari dirinya yang selama ini dibesarkan dalam lingkungan keluarga berkecukupan. “Meski demikian, Ayah selalu menanamkan kepada kita agar jangan berharap apapun dengan pemberian orang tua. Meski kita chinese, anak lelaki dan perempuan sama. Nasehatnya: study as high you can, be independent, master your English. As Chinese able to understand your language. Yang terpenting plan what you want,” ia menggambarkan ayahnya, pemilik sebuah hotel di Bandung yang mendidiknya dengan ketat. Sementara itu, ia mengingat ibunya selalu ada untuk anak-anaknya. “Segala sesuatu kami pasti bicarakan dengan ibu.”

Saat ini, dia sudah menjadi ibu untuk ketiga anaknya: Michael (26), Matthew (17) dan Michelle (10). Di tengah kesibukannya, ia percaya bahwa kualitas dan kepercayaan adalah hal yang harus ditanamkan dalam mendidik anak-anaknya. Mungkin dia bukan tipikal ibu-ibu konvensional yang selalu menanyakan pe er anaknya. “Di vocabulary saya, tak ada tuh pertanyaan itu. I trust my children. Mereka bisa komunikasi kapan saja,”kata istri dari Phillip Cheung, seorang warga negara China Amerika, ini. Dia juga bersyukur memiliki suami yang memberikan kebebasan penuh. “Saya melakukan dengan cara saya, dan dia melakukan dengan cara dia, dan kami masing-masing menghomati apa yang sedang kami lakukan.”

Mattheuw menggambarkan ibunya sebagai sosok yang menarik dengan energi meluap-luap. Dia adalah ibu yang sangat mengerti kebutuhan anaknya. “Mei tahun lalu, mama mengajak aku ke Australia untuk membuat sebuah kerjasama bisnis. Di sana aku mengikuti seluruh proses itu. Secara nggak langsung, aku dapat belajar bagaimana memulai sebuah bisnis. Dia juga mengajari aku bagaimana membuat bisnis itu lancar.” Bisnis adalah dunia Christine kini.

“Padahal dulu saya bercita-cita menjadi guru Taman Kanak-Kanak. Saya senang pada anak-anak. Sayangnya, saya tak sabaran. Tapi saya memang ingin mengajar,”katanya. Keinginan itulah yang barangkali sangat mendominasi tipe kepemimpinannya. Sebentar lagi, dia akan mengembangkan sebuah gaya hidup hijau, yang masih dirahasiakan bentuknya. Rupanya dia ingin juga menjadi “guru” lingkungan.

“Posisi sebagai CEO seperti saat ini, jelas sangat membanggakan. Saya masuk ke titik profesional dan saya memberikan yang terbaik untuk orang yang menggaji saya. Tapi, saya ingin juga memberikan yang terbaik sebagai manusia. Untuk manusia. Hopefully,”tukas Christine yang sejak kecil berangan-angan mengelola sebuah panti asuhan setelah dia pensiun kelak. Belakangan keinginan itu bertambah dengan mengelola sebuah perkebunan anggrek. Dia memang selalu merencanakan seluruh hidupnya jauh di waktu silam.

“Inilah harapan saya. Seandainya meninggalkan dunia ini, saya sudah melakukan kepedulian terhadap sesama dan kampanye untuk menyelamatkan dunia. Semoga, ini menjadi sejarah yang baik di masa yang akan datang.” (Rustika Herlambang)

Stylist: Elvara Jandini Subijakto. Busana: Koleksi pribadi. Lokasi: Metro Departement Store, Pondok Indah Mall, Jakarta


Read Full Post »

Dewi edisi April 2008

Rieke Diah Pitaloka

Menuju Akar Rumput

Ada gelar ataupun tidak, dia selalu ingin mengangkat dirinya sebagai duta kemanusiaan

Duta Kemanusiaan

Duta Kemanusiaan

Terasa betul Rieke Diah Pitaloka memaksa diri untuk bersikap hangat pagi itu. Wajahnya pucat dan ia terus membekap jaket hitam yang dikenakannya. Sikap kenes yang baru saja diperlihatkan dalam siaran langsung di stasiun televisi swasta tiba-tiba sirna. Dia berubah menjadi sedikit pendiam. “Ya, inilah aslinya aku. Sedikit pendiam. Bedalah kalau sudah di panggung,” katanya diplomatis. “Tapi memang aku agak sedikit kesel. Bukan apa-apa sih, cuma aku nggak suka segala sesuatu yang nggak well prepared,”ia mengungkapkan kekesalan yang membuat wajahnya mendung pagi itu.

Tapi itu tak lama. Saat disinggung tentang aktivitas terakhir, raut wajahnya langsung gembira. Ia tampak begitu antusias membicarakannya. “Aku sedang mempersiapkan pementasan Monolog Perempuan Menuntut Malam, untuk memperingati hari perempuan sedunia 8 Maret,”tukas Rieke yang pada saat wawancara berlangsung masih dalam proses pelatihan. “Ini memang agak nekad. Karena di sana aku juga menjadi pemain, bersama Niniek L. Karim dan Ria Irawan. Tapi juga menjadi produser dan penulis naskah bersama Faiza Mardzoeki,”ia membeberkan pekerjaan yang menyita energinya. (more…)

Read Full Post »

Dewi edisi Mei 2008

Harmoni Perjalanan

Anthony Akili

Seberapa jauh perjalanan, seberapa besar warna yang telah dilakoni dari perjalanan berbagai negeri, pada akhirnya ia kembali ke basik. “Saya adalah orang yang konservatif dan mementingkan harmoni.

Harmoni Perjalanan

Harmoni Perjalanan

Hujan turun lebat, langit terus menggelap. Air bak dicurahkan dari langit, diseling dengan gelegar petir bersahutan yang memberikan jejak sinarnya seolah merobek cakrawala. Segala cerita tentang keindahan Maladewa berikut seluruh keromantisannya: negeri kepulauan dengan pasirnya yang putih seperti kristal, airnya yang bening seperti kaca, hilang seketika. Menyisakan kegalauan yang luar biasa.

“Tuhan.. Bila memang dia adalah jodoh saya, jangan biarkan air hujan ini terus menerus berjatuhan.” Dalam hati, penuh kekusyukan, pria itu berdoa, di tengah suara berat yang sesungguhnya sangat mengganggunya, “Terlalu berisiko bila hal ini dilakukan.” Tapi, keputusan pria itu sudah bulat. Ia ingin menggelar pesta kejutan untuk seorang wanita yang tengah berulang tahun di sebuah tempat terindah di dunia ini. (more…)

Read Full Post »

Dewi edisi Mei 2008

Petualangan Komedi Hitam

Mira Lesmana

Menurut saya, hidup ini sangat membosankan kalau tak ada tantangan!

mira lesmana

mira lesmana

Di tengah kesibukannya mempersiapkan syuting film Laskar Pelang (LP), Mira Lesmana meluangkan waktunya. Hari masih pagi, ketika ia sudah berada di ruang kerjanya. Wajahnya terlihat segar, meski tanpa polesan. Mungkin karena tempaan bias sinar mentari yang jatuh ke wajahnya melalui kisi-kisi jendela. Ia tampak membereskan berkas-berkas, buku-buku, dan sisa-sisa abu rokok yang tampak berserakan di meja. “Pernah ke kantor Nia? Ya begini ini kondisinya. Tahu sendirilah orang film,”katanya sambil tertawa, menyebut nama Nia Dinata, berusaha memberi pemakluman.

“Saya pernah membereskan semua barang sampai sangat rapi. Eh, banyak yang protes. Apa-apaan sih, kayak kantor saja,”Mira menirukan komentar Nicolas Saputra. Seolah seperti menemukan angin segar, sejak saat itu, “gaya” kantornya ya seperti sekarang ini. Semua terlihat “alami”, tidak dibuat-buat, banyak buku atau kertas yang berserakan. “Akhirnya, memang kenyamanan jauh lebih penting.. Yah, setahun sekali lah, berberes bener-bener. Percuma sering-sering. Ha ha ha…” (more…)

Read Full Post »

Dewi edisi Juni 2008

Sandiaga Uno

 

Bersemayam dalam Kesempurnaan

 

 

 

Kedisiplinan dan kesempurnaan dalam segala hal berbanding lurus dengan keliaran imajinasinya

 

Dialah Sandiaga Salahuddin Uno, salah satu pengusaha muda terkaya Indonesia versi majalah Globe Asia. Melalui PT Saratoga Investama Sedaya yang membidangi investasi dan penyertaan modal langsung serta PT Recapital Advisor dalam hal sekuritas, ia ikut menggeliatkan situasi infrastruktur dan sumber daya alam Indonesia. Keberhasilan ini dilakukan atas usahanya sendiri, bukan kekayaan turunan alias bisnis keluarga, seperti banyak pengusaha besar di Indonesia.

Kendati demikian, Sandi—begitu ia akrab disapa– bukanlah tipe pengusaha sukses yang berjarak, melainkan hangat, ramah, dan sangat peduli. Barangkali karena ia dilahirkan di lingkungan pendidik. Ayahnya Razif Halik Uno, dikenal dengan Henk Uno, adalah seorang pekerja yang sangat loyal di sebuah perusahaan minyak. Sementara ibunya, Rachmini Rachman, alias Mien Uno memang dikenal sebagai ahli dan pelopor ilmu kepribadian di Indonesia. (more…)

Read Full Post »

dewi edisi Juni 2008

Maya Estianty

Aku Baik-Baik Saja…

Maia Estianty

Maia Estianty

Karena Maia bertahan, maka Maia ada.

Itu karena ia telah mengolah perasaan menjadi keber-ada-an.

Maya Estianty, belakangan lebih dikenal dengan nama Maia, adalah sosok perempuan perkasa tempat banyak perempuan bisa berguru. Kericuhan rumah tangga, orang ketiga, dan gosip murahan yang melandanya selama lebih dari setahun tanpa henti terus menerpa, bukan lantas membuatnya terlihat menjadi sosok yang lemah. Apalagi menua. Jelas, Maia jauh dari itu. Siapakah dia kiranya yang berani begitu nekad mengatakan Maia tua? Sebaliknya, ia justru tampak memuda. Tentu bukan karena obat apalagi suntikan, dan juga bukan sekadar karena, “Pasrah,” seperti dikatakannya kepada dewi, tetapi bukankah kini ia boleh dibilang “bebas” ? (more…)

Read Full Post »

Older Posts »